Tittle : Unveil [Part 1]
Author : Icha ichez
Genre :
Romance, Angst, Trauma, Healing
Cast :
Lee Jaewook, Kang Seoyeon.
Length :
Chapter
Desclaimer : This story is originally mine. This is
only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!
Kang Seoyeon. Yeoja berusia akhir 20 an itu
tampak suram dengan ikatan low messy bun di rambutnya yang sudah tidak
rapi. Betapapun lelahnya ia sepulang kerja, Seoyeon akan tetap mampir ke
minimarket ini sebelum ia kembali ke apartemennya.
Seoyeon langsung menyambar 1 kaleng bir dari
dalam kulkas lalu berjalan mendekati kasir. Namun belum sempat ia menunjuk
rokok yang terpajang di etalase, laki-laki berkacamata dari balik meja kasir itu
lebih dulu mengambilkan barang yang hendak Seoyeon maksud. Ia tidak terkejut jika ada orang yang bahkan
bisa mengenali ritme kesehariannya meskipun sebenarnya mereka tidak pernah
bertegur sapa.
‘Cklk!’ Seoyeon meneguk bir itu sesaat
setelah membukanya. Disusul dengan kepulan asap dari rokok yang bertengger di
sela-sela jarinya.
Hari yang panjang, pikir Seoyeon. Betapapun
ia berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, Seoyeon
tetap saja akan berakhir di beranda minimarket ini paling awal pukul 8 malam.
Seoyeon tahu ia tidak boleh mengeluh mengingat
ummanya bekerja banting tulang di Boryeong hanya untuk menguliahkannya di Seoul
dan mendapatkan pekerjaan seperti sekarang. Seberapapun beratnya Seoyeon
menjalani hidup di Seoul, Seoyeon harus bisa menanggungnya seorang diri.
Hanya helaan nafas yang terdengar disana
sementara isi kepala Seoyeon sangat berisik. Berbanding terbalik dengan
kepribadiannya yang tampak begitu dingin dari luar.
Setelah menghabiskan satu batang rokok,
Seoyeon meninggalkan kaleng bir itu dan beranjak menuju apartemennya. Dengan
langkah yang berat ia kembali melanjutkan perjalanan dari halte bus yang sempat
tertunda.
Tapi tepat ketika pintu lift apartemennya
terbuka, Seoyeon baru menyadari kebodohannya.
Ramen. Sudah sejak meninggalkan kantor tadi,
Seoyeon sangat ingin makan makanan instan itu. Sekali ini saja, ia tidak ingin
membuka toples-toples banchan yang menumpuk dalam kulkasnya. Namun tiba-tiba
langkah Seoyeon berhenti ketika ia menyadari ada kilatan lampu mobil polisi
menyala dari kejauhan.
Kening Seoyeon berkerut. Dari arah seberang
minimarket terlihat sebuah kerumunan kecil, lalu dari sela-selanya muncul sosok
familiar yang berjalan menunduk. Ada jeda sesaat sebelum otak Seoyeon
benar-benar mampu memproses apa yang dilihat oleh matanya.
Terlambat Seoyeon sadari, kedua tangan
sosok itu tengah terikat borgol.
***
“Siapa
namamu?” Seorang polisi berseragam biru bertanya sambil terus mengetik didepan
laptopnya.
“Lee Jaewook.” Jawabnya. “Tapi
sungguh, Pak. Aku tidak bermaksud merusak vending machine itu.”
“Tapi memang dia yang mulai
dulu.” Sanggah seseorang disampingnya. “Jika dia langsung membayar hutangku,
perkelahian ini tidak akan terjadi.”
“Hyung, kau tidak lihat
bagaimana keadaanku?” Jaewook marah. “Jika kau tidak memukulku, kita tidak akan
berakhir disini.”
“Tapi kau…!”
“CUKUP!” bentak polisi itu. “Ini
kantor polisi!”
Keduanya membungkam.
“Jika kalian memang tidak ingin
masuk penjara, berhentilah bertengkar!” Lelaki setengah baya itu menggeleng
sambil memegangi kepalanya. “Jadi kalian mau berdamai atau melanjutkan
tuntutan?”
Mereka berdua saling melirik.
Tidak ada yang mau dipenjara atau melanjutkan rumitnya persidangan hanya karena
hal sepele.
“Kami ingin berdamai.”
“Tapi urusanmu denganku belum
selesai!”
“Aku akan menyelesaikannya. Tapi
untuk sekarang…” Jaewook melemparkan pandangannya ke arah polisi itu, berharap
lelaki di sebelahnya faham apa yang ia maksud.
“Tentu saja tidak semudah itu
Lee Jaewook-ssi.” Sahut polisi. “Hari ini kalian tidak hanya menimbulkan
keributan tapi juga merusak fasilitas umum. Tentu saja kalian harus
menandatangani surat kesepakatan beserta penjamin dan juga membayar biaya
kerugian.”
“Tapi…” Jaewook tidak punya
uang. Ia juga tidak punya wali untuk dihubungi.
Sedangkan laki-laki penagih
hutang itu tampak percaya diri karena ia tidak datang sendirian. “Untuk
kerugiannya, biar ia yang membayar.”
“Hyung!”
“Jika kau tidak mau, aku akan
menambah bunga pada hutangmu.” Ucapnya berbisik di telinga Jaewook.
Jaewook hanya bisa terduduk
lemas sementara orang yang menimbulkan bencana pada hidupnya malam ini justru
melenggang dengan mudahnya keluar kantor polisi sesaat setelah menandatangani
surat perjanjian. Jaewook tahu, percuma untuk memperpanjang masalah disini
sekarang. Lebih baik ia memilih diam dan menanggungnya sendiri.
“Lee Jaewook ssi, apa ada orang
yang bisa kau hubungi?”
“Saya disini.”
Bangku metal itu berderit saat Jaewook
sedikit maju, mencoba melihat siapa yang datang.
“Saya akan menjadi penjamin laki-laki ini.”
Jaewook refleks menarik napas pendek,
matanya melebar. Tidak menyangka bahwa seorang yeoja yang merupakan pelanggan
minimarketnya datang tanpa aba-aba.
***
Langkah nyaring yang begitu
familiar kembali menggema di gang kecil Itaewon. Namun kali ini ia tidak
berjalan sendirian, seorang namja berkemeja hitam berlapis kaos putih mengikuti
beberapa langkah di belakangnya. Kebingungan terpancar jelas dari wajah naja
itu. Begitu banyak kata yang memenuhi tenggorokannya. Sayangnya
ekspresi Seoyeon yang ia tangkap tampak tidak mengijinkannya untuk banyak
berbicara.
“Tunggu.” Jaewook menahan
Seoyeon saat menyadari yeoja itu tidak berniat mampir ke minimarket tempat dia
bekerja.
Seoyeon menoleh, wajahnya datar.
Ada lelah di matanya, seperti ia tak siap membuka percakapan itu.
“Terimakasih untuk tadi.”
Jaewook tetap berbicara. “Beri aku waktu satu minggu untuk mengembalikan
uangnya padamu.”
Seoyeon sempat menunduk.
Kemudian justru bergerak masuk ke dalam minimarket yang kini sudah digantikan
jaga oleh orang lain. Ketika pintu minimarket terbuka lagi, yeoja itu melangkah
keluar dengan wajah yang sulit dibaca.
Seoyeon menghampiri Jaewook tanpa suara,
meraih tangan laki-laki itu dan menaruh sebuah kacamata yang sejak tadi Jaewook
cari. Ia tidak menyangka Seoyeon menemukan benda yang bahkan ia tidak ingat
kapan itu terjatuh.
Setelah itu, Seoyeon menggantungkan plastik
berisi obat dan plester di sela jemari Jaewook. Tidak ada penjelasan. Hanya
sebuah tindakan kecil yang Seoyeon pikir pantas Jaewook dapatkan darinya.
Sejurus kemudian yeoja itu melangkah
menjauh. Merubah udara yang terasa diantara mereka, seperti ada sesuatu yang
diam diam bergeser didalam diri keduanya tanpa diberi nama.
-To Be Continue-
part selanjutnya udah ready sampe ending ya!

No comments:
Post a Comment