Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 1]

Heiloww yeorobun!!
Kali ini aku menyapa dengan bahagiaa karena udah lama jiwa-jiwa tangan gatelku ngga kembali.
Yaitu bikin fanfiction.

Kalo dulu aku nulis bisa kaya mesin. tp sekarang aku nulis kalo tiba2 dapet inspirasi.
Dan sama kaya FF satu ini. Aku pilih Lee Jaewook setelah aku nonton dia di drama Last Summer, aura boyfriendablenya kuat bangett.
Kebetulan beberapa bulan belakangan aku lagi suka sama drama bergenre romance (yg padahal sebelumnya paling gak suka).
Karena itulah tiba-tiba aku kepikiran cerita ini. Flownya drakor banget guyss dengan tokoh yang ijonya kebangetan.

Semoga kalian enjoy ya~~

Tittle                    : Unveil [Part 1]

Author                : Icha ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

 

Derap langkah seorang yeoja terdengar nyaring mengusik sunyi gang kecil yang terletak di Itaewon, kota Seoul. Sepatu hak tinggi yang menjadi sumber suara itu pun perlahan-lahan bergerak menjelajahi cabang-cabang gang familiar bagi pemiliknya. Sampai akhirnya pendaran sinar di persimpangan jalan membuatnya terhenti kemudian masuk dengan langkah yang berat.

Kang Seoyeon. Yeoja berusia akhir 20 an itu tampak suram dengan ikatan low messy bun di rambutnya yang sudah tidak rapi. Betapapun lelahnya ia sepulang kerja, Seoyeon akan tetap mampir ke minimarket ini sebelum ia kembali ke apartemennya.

 Seoyeon langsung menyambar 1 kaleng bir dari dalam kulkas lalu berjalan mendekati kasir. Namun belum sempat ia menunjuk rokok yang terpajang di etalase, laki-laki berkacamata dari balik meja kasir itu lebih dulu mengambilkan barang yang hendak Seoyeon maksud.  Ia tidak terkejut jika ada orang yang bahkan bisa mengenali ritme kesehariannya meskipun sebenarnya mereka tidak pernah bertegur sapa.

‘Cklk!’ Seoyeon meneguk bir itu sesaat setelah membukanya. Disusul dengan kepulan asap dari rokok yang bertengger di sela-sela jarinya.

Hari yang panjang, pikir Seoyeon. Betapapun ia berusaha sekeras mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, Seoyeon tetap saja akan berakhir di beranda minimarket ini paling awal pukul 8 malam.

Seoyeon tahu ia tidak boleh mengeluh mengingat ummanya bekerja banting tulang di Boryeong hanya untuk menguliahkannya di Seoul dan mendapatkan pekerjaan seperti sekarang. Seberapapun beratnya Seoyeon menjalani hidup di Seoul, Seoyeon harus bisa menanggungnya seorang diri.

Hanya helaan nafas yang terdengar disana sementara isi kepala Seoyeon sangat berisik. Berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang tampak begitu dingin dari luar.

Setelah menghabiskan satu batang rokok, Seoyeon meninggalkan kaleng bir itu dan beranjak menuju apartemennya. Dengan langkah yang berat ia kembali melanjutkan perjalanan dari halte bus yang sempat tertunda.

Tapi tepat ketika pintu lift apartemennya terbuka, Seoyeon baru menyadari kebodohannya.

Ramen. Sudah sejak meninggalkan kantor tadi, Seoyeon sangat ingin makan makanan instan itu. Sekali ini saja, ia tidak ingin membuka toples-toples banchan yang menumpuk dalam kulkasnya. Namun tiba-tiba langkah Seoyeon berhenti ketika ia menyadari ada kilatan lampu mobil polisi menyala dari kejauhan.

Kening Seoyeon berkerut. Dari arah seberang minimarket terlihat sebuah kerumunan kecil, lalu dari sela-selanya muncul sosok familiar yang berjalan menunduk. Ada jeda sesaat sebelum otak Seoyeon benar-benar mampu memproses apa yang dilihat oleh matanya.

Terlambat Seoyeon sadari, kedua tangan sosok itu tengah terikat borgol.

***

                “Siapa namamu?” Seorang polisi berseragam biru bertanya sambil terus mengetik didepan laptopnya.

                “Lee Jaewook.” Jawabnya. “Tapi sungguh, Pak. Aku tidak bermaksud merusak vending machine itu.”

                “Tapi memang dia yang mulai dulu.” Sanggah seseorang disampingnya. “Jika dia langsung membayar hutangku, perkelahian ini tidak akan terjadi.”

                “Hyung, kau tidak lihat bagaimana keadaanku?” Jaewook marah. “Jika kau tidak memukulku, kita tidak akan berakhir disini.”

                “Tapi kau…!”

                “CUKUP!” bentak polisi itu. “Ini kantor polisi!”

                Keduanya membungkam.

                “Jika kalian memang tidak ingin masuk penjara, berhentilah bertengkar!” Lelaki setengah baya itu menggeleng sambil memegangi kepalanya. “Jadi kalian mau berdamai atau melanjutkan tuntutan?”

                Mereka berdua saling melirik. Tidak ada yang mau dipenjara atau melanjutkan rumitnya persidangan hanya karena hal sepele.

                “Kami ingin berdamai.”

                “Tapi urusanmu denganku belum selesai!”

                “Aku akan menyelesaikannya. Tapi untuk sekarang…” Jaewook melemparkan pandangannya ke arah polisi itu, berharap lelaki di sebelahnya faham apa yang ia maksud.

                “Tentu saja tidak semudah itu Lee Jaewook-ssi.” Sahut polisi. “Hari ini kalian tidak hanya menimbulkan keributan tapi juga merusak fasilitas umum. Tentu saja kalian harus menandatangani surat kesepakatan beserta penjamin dan juga membayar biaya kerugian.”

                “Tapi…” Jaewook tidak punya uang. Ia juga tidak punya wali untuk dihubungi.

                Sedangkan laki-laki penagih hutang itu tampak percaya diri karena ia tidak datang sendirian. “Untuk kerugiannya, biar ia yang membayar.”

                “Hyung!”

                “Jika kau tidak mau, aku akan menambah bunga pada hutangmu.” Ucapnya berbisik di telinga Jaewook.

                Jaewook hanya bisa terduduk lemas sementara orang yang menimbulkan bencana pada hidupnya malam ini justru melenggang dengan mudahnya keluar kantor polisi sesaat setelah menandatangani surat perjanjian. Jaewook tahu, percuma untuk memperpanjang masalah disini sekarang. Lebih baik ia memilih diam dan menanggungnya sendiri.

                “Lee Jaewook ssi, apa ada orang yang bisa kau hubungi?”

                “Saya disini.”

Bangku metal itu berderit saat Jaewook sedikit maju, mencoba melihat siapa yang datang.

 “Saya akan menjadi penjamin laki-laki ini.”

                Jaewook refleks menarik napas pendek, matanya melebar. Tidak menyangka bahwa seorang yeoja yang merupakan pelanggan minimarketnya datang tanpa aba-aba.

***

                Langkah nyaring yang begitu familiar kembali menggema di gang kecil Itaewon. Namun kali ini ia tidak berjalan sendirian, seorang namja berkemeja hitam berlapis kaos putih mengikuti beberapa langkah di belakangnya. Kebingungan terpancar jelas dari wajah naja itu. Begitu banyak kata yang memenuhi tenggorokannya. Sayangnya ekspresi Seoyeon yang ia tangkap tampak tidak mengijinkannya untuk banyak berbicara.

                “Tunggu.” Jaewook menahan Seoyeon saat menyadari yeoja itu tidak berniat mampir ke minimarket tempat dia bekerja.

                Seoyeon menoleh, wajahnya datar. Ada lelah di matanya, seperti ia tak siap membuka percakapan itu.

                “Terimakasih untuk tadi.” Jaewook tetap berbicara. “Beri aku waktu satu minggu untuk mengembalikan uangnya padamu.”

                Seoyeon sempat menunduk. Kemudian justru bergerak masuk ke dalam minimarket yang kini sudah digantikan jaga oleh orang lain. Ketika pintu minimarket terbuka lagi, yeoja itu melangkah keluar dengan wajah yang sulit dibaca.

Seoyeon menghampiri Jaewook tanpa suara, meraih tangan laki-laki itu dan menaruh sebuah kacamata yang sejak tadi Jaewook cari. Ia tidak menyangka Seoyeon menemukan benda yang bahkan ia tidak ingat kapan itu terjatuh.

Setelah itu, Seoyeon menggantungkan plastik berisi obat dan plester di sela jemari Jaewook. Tidak ada penjelasan. Hanya sebuah tindakan kecil yang Seoyeon pikir pantas Jaewook dapatkan darinya.

Sejurus kemudian yeoja itu melangkah menjauh. Merubah udara yang terasa diantara mereka, seperti ada sesuatu yang diam diam bergeser didalam diri keduanya tanpa diberi nama.

-To Be Continue-

part selanjutnya udah ready sampe ending ya!




No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...