Tittle : Unveil [Part 7]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
“Junhyeok-ssi!”
“Ah… aku baru ingat.” Junhyeok ikut
bangkit. Menunjuk ke arah Jaewook. “Bukankah ia pacarmu? Pantas saja
kulihat-lihat mukanya tidak asing.”
Saat itu juga, semua pasang mata serempak
beralih pada Seoyeon dan Jaewook yang saling berseberangan. Bisik-bisik kecil
pun menyusup, bergema pelan di udara. Tampaknya para karyawan bergengsi asal
Gangnam itu terkejut mengetahui bahwa Seoyeon berpacaran dengan seorang pelayan
barbeque.
“Iya, dia memang pacarku.” Jawab Seoyeon
yakin. “Jadi tidak bisakah kau memperlakukan dia dengan baik?”
Junhyeok tertawa mengejek. “Jadi benar kau
memacari seorang pelayan?”
Hampir saja Seoyeon membalas telak
pertanyaan itu, namun Jaewook lebih dulu menahannya. Entah sejak kapan Jaewook
berpindah ke sebelahnya. Dengan lembut dia menyentuh lengan Seoyeon, menggeleng
saat yeoja itu menatapnya.
Seoyeon menghembuskan napas berat, lalu
pergi meninggalkan tempat itu. Saking kacaunya, ia sampai meninggalkan cardigan
dan tasnya di sana. Baru setelah beberapa langkah, Seoyeon menyadari ada
seseorang yang mengejarnya dari belakang.
Keduanya kemudian menaiki bus yang sama,
dan duduk dalam kecanggungan. Jaewook melepas apron miliknya sambil tetap
memegangi tas dan cardigan Seoyeon, tak berani membuka percakapan. Keheningan
itu bertahan hingga bus membawa mereka ke halte dekat apartemen Seoyeon.
“Kenapa tadi kau diam saja?” Seoyeon
membuka pembicaraan lebih dulu. Nadanya terdengar kesal.
“Aku hanya pelayan disana nuna.”
“Tapi kau tidak pantas mendapatkan
perlakuan seperti itu, Jaewook-ah!” Seoyeon jengkel. “Seharusnya kau bisa lebih
tegas sebagai–”
Hening sejenak. Seoyeon tidak melanjutkan
kata-katanya.
Saat itu juga pintu lift apartemen Seoyeon
terbuka, Jaewook melangkah lebih dulu.
“Ijinkan aku membuatkan makan malam sebelum
pergi.” Ucapnya sambil memencet nomor lantai. “Tadi aku lihat nuna hanya
memakan dua potong daging. Aku tidak bisa membiarkannya.”
Entah untuk yang keberapa kalinya Jaewook
kembali menyiapkan makanan untuk Seoyeon. Baginya, Seoyeon boleh saja marah
padanya. Ia juga boleh merasa sedih atau frustrasi atas apa pun yang terjadi
dalam hidupnya. Tapi Seoyeon tidak ia ijinkan untuk melewatkan
satu hal ini.
Jadi betapapun buruk suatu hal yang terjadi
pada Seoyeon, Jaewook akan tetap memastikan bahwa yeoja itu tidak melewatkan
jam makannya.
Jjampong kali ini terasa enak. Selalu saja
enak setiap kali Jaewook yang membuatkan. Padahal sudah jelas namja itu
menggunakan semua bahan yang dibuat oleh ummanya. Tapi tetap saja makanan yang
disajikan Jaewook selalu terasa spesial.
Seoyeon memasukkan satu demi satu suap
jjamppong itu dalam mulutnya, tapi pikirannya berkelana jauh.
Ada apa dengan dirinya sekarang? Kenapa
Seoyeon tidak sanggup membantah setiap kali Jaewook berbicara? Kenapa Seoyeon
begitu marah saat melihat Jaewook direndahkan? Kenapa setiap masakan yang
Jaewook buat terasa istimewa? Kenapa nama Jaewook jadi orang pertama yang
muncul dibenaknya saat terjadi sesuatu? Dan kenapa saat duduk berseberangan
dengan Jaewook, desir angin selalu terasa berbeda?
Kenapa…?
“Jaewook ah..”
Jaewook menahan sendoknya. Melihat ke arah
Seoyeon yang memanggilnya tiba-tiba.
“Kau tahu kan, aku orang yang pendiam. Aku
juga memiliki trauma.” Buka Seoyeon berujar pelan. “Aku tidak pintar mengutarakan
apa yang kupikirkan. Aku bahkan tidak tahu emosi apa yang sedang kurasakan…”
Perlahan sendok Jaewook diletakkan.
Menyadari pembicaraan Seoyeon makin dalam.
“…Aku tidak pintar memasak. Aku juga juga
tidak pintar membersihkan rumah.” Seoyeon menggigit bibir bawahnya. “Terkadang
aku tidak bisa menahan diri. Terkadang juga panic attack-ku kambuh.”
Seoyeon mengumpulkan keberanian untuk
membuka rasa sakitnya.
“Ada banyak ‘lubang’ disepanjang tubuhku. Ada
banyak benang yang kusut dalam pikiranku. Dan ada banyak bekas luka di kulitku.”
Dada Seoyeon bergetar, pelupuk matanya mulai penuh. “Aku bahkan tidak tahu
bagaimana caranya menjadi manusia normal.”
. Kali ini tangisnya pecah. Rasa sesak
didadanya berubah menjadi harapan yang membuncah. “Meskipun begitu… Meskipun
aku tidak sempurna…” Seoyeon membulatkan tekadnya. “…maukah kau benar-benar
menjadi pacarku?”
Keheningan sempat mengendap setelahnya,
namun gejolak dalam dada keduanya tak lagi terbendung. Jaewook nyaris tak
percaya kalimat itu keluar dari bibir Seoyeon. Ada jeda singkat sebelum ia mampu
memproses pertanyaan itu.
Tapi sejurus kemudian Jaewook bangkit, tidak
sanggup membiarkan Seoyeon tenggelam terlalu lama dalam tangisnya.
“Gomawo nuna, gomawo sudah mengatakan dengan
jujur …” Jaewook memeluknya sambil mengelus kepalanya lembut. “Jika nuna
memberiku kesempatan, aku berjanji akan melakukan yang terbaik.”
Seoyeon lalu bangkit, membalas pelukan itu.
Meleburkan perasaan yang entah sejak kapan bersembunyi dalam hatinya. Ia merasa
lega karena pada akhirnya perasaan itu meledak sempurna, menorehkan buih-buih
kecil yang kini mampu ia rasakan di sekujur tubuhnya.
Bukan sesuatu yang Seoyeon kenali sebagai
obsesi. Melainkan kejujuran, ketulusan hati dan kenyamanan yang belum pernah ia
rasakan. Seoyeon tidak perlu menjadi orang lain, justru ia ingin membuka lebih
banyak pintu dalam dirinya. Bagian-bagian yang belum pernah ia tunjukkan pada
siapapun.
Tak pernah Seoyeon sangka, pada Jaewook lah
rasa cintanya berlabuh. Seseorang yang diam-diam selalu hadir disisinya bahkan
disaat Seoyeon tak menyadari bahwa ia membutuhkannya. Seseorang yang tidak
pernah menuntut Seoyeon untuk menjadi sempurna.
Seseorang yang rela sebagian bajunya basah
demi memberikan payung untuk Seoyeon. Yang merawat Seoyeon saat ia mabuk. Yang
menggenggam tangan Seoyeon saat sedang khawatir. Yang selalu memastikan Seoyeon
makan tepat waktu. Dan yang menggendong Seoyeon saat panic attacknya kambuh.
Seoyeon tidak menyadari begitu besar peran
Jaewook dalam hidupnya. Tapi dibandingkan semua itu, Jaewook adalah orang pertama
yang menyelamatkan Seoyeon dari sumber traumanya.
Seoyeon tidak akan bisa sampai di titik ini
tanpa namja itu.
***
Dengan langkah yang ringan
Seoyeon berjalan menapaki daerah popular di kalangan muda Seoul–Haebangchon sore itu. Atap-atap café yang rendah menghiasi
sepanjang jalan setapak. Setiap sudut tampak sangat estetik, di dominasi dengan
warna putih dan ornament kayu.
Pintu kaca LUMIÈRE Café yang
akhirnya Seoyeon pilih untuk dibuka. Begitu masuk, ia disuguhkan dengan suasana
café yang hangat dengan ornament minimalis. Senada dengan pintunya, café itu
juga memiliki dinding kaca di tiga sisinya, kecuali bagian pantry.
Ada beberapa lukisan yang bersandar di
setiap sudut, dengan cepat bisa Seoyeon kenali. Lukisan yang mirip dengan
miliknya. Yang setiap pagi menyapanya tepat ketika ia membuka mata.
Soyeon berjalan mendekati meja barista, tersenyum
begitu mendapati karyawan café itu tampak sibuk membuat pesanan.
“Annyeohaseyo.”
“Silakan, mau pe–” Karyawan café
itu terkejut. “Nuna!”
Seoyeon tertawa malu. “Jangan
keras-keras.” Ucapnya memberi gesture diam dengan telunjuk yang didekatkan ke
bibir.
“Kenapa nuna ada disini?”
Jaewook menoleh ke arah jam diding yang bertengger di belakangnya. Jam 3 sore
lebih 20 menit. Ia tahu sekali jam segini seharusnya Seoyeon masih sibuk dari
balik computer di gedung tinggi itu.
“Aku ada meeting diluar.”
Jawab Seoyeon. “Karena selesai lebih cepat jadi aku mampir kesini.”
Ah…
“Ice americano.” Cepat-cepat
Seoyeon menyebutkan pesanannya saat menyadari ada pelanggan lain berdiri dibelakangnya.
Jaewook tertawa kemudian memintanya untuk duduk tanpa membayar.
Menggunakan kemeja putih yang
lengannya tergulung dan apron berwarna coklat, membuat Seoyeon terpaku menatap
Jaewook. Dengan rambut pendek yang dipotong rapi dan kacamata berframe tebal,
Seoyeon baru menyadari ekspresi serius Jaewook saat bekerja sangat memikat.
Ini terasa berbahaya bagi
Seoyeon. Karena Jaewook membuat detak jantungnya berdenyut tidak karuan. Kupu-kupu
di dalam perutnya juga berterbangan kesana kemari. Ia menyedot ice americano
kuat-kuat saat menyadari namja itu kembali mendekat dan meletakkan burn
cheese cake di mejanya.
“Tunggu sebentar ya nuna.
Sepuluh menit lagi aku ganti shift.”
Seoyeon patuh. Lagipula menunggu
berjam-jam pun tidak akan menjadi masalah baginya.
“Jam berapa kau harus pergi ke
Hwaro?” Seoyeon bertanya tepat ketika Jaewook memenuhi janjinya, meletakkan tas
selempang dan duduk diseberang meja.
Hwaro adalah restoran daging
tempat Jaewook bekerja. “Hari ini aku ijin.”
Seoyeon kaget.
“Nuna sudah jauh-jauh kesini,
kenapa aku harus bekerja?”
Jaewook pikir waktu-waktu
seperti sekarang tidak akan sering ia dapatkan. Hanya mengorbankan pekerjaan
sekali saja tak sulit baginya. Senyum lebar di bibir Seoyeon yang ia lihat
kemudian justru memberikan hal yang jauh lebih berharga.
“Gomawo.”
Jaewook mengangguk, “Oiya nuna, kemarin ada
seseorang yang mencariku.”
Alis Seoyeon merapat.
“Tidak-tidak, bukan penagih hutang.”
Jaewook menyadari kegelisahan Seoyeon.
“Orang itu mengatakan kalau dia melihat lukisanku di platform online. Dan dia
berminat untuk bekerja sama denganku.”
Seoyeon membelalak, lalu menepuk-nepuk
tangan Jaewook bersemangat.
“Dia bilang ingin membuat pameran lukisan
untuk pelukis amatiran. Dan dia memintaku untuk bergabung.” Jelas Jaewook. “Aku
sudah mengecek dari kartu namanya, memang dia seorang curator independent yang
cukup dikenal di Seoul.”
Kyaaa~ Seoyeon bersorak girang tanpa suara.
Jaewook sampai tertawa, tidak pernah melihat ekspresi Seoyeon seperti sekarang.
“Kalau begitu kita harus merayakannya, Jaewook-ah!”
Alis Jaewook naik. “T-tapi aku belum
memberikan jawaban apapun.”
“Gwenchana, kita bisa
membicarakannya nanti. Kajja!! Biar aku yang traktir.” Dengan natural ia
menarik tangan Jaewook. Seseorang yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment