Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 7]

Tittle                    : Unveil [Part 7]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

“Junhyeok-ssi!”

“Ah… aku baru ingat.” Junhyeok ikut bangkit. Menunjuk ke arah Jaewook. “Bukankah ia pacarmu? Pantas saja kulihat-lihat mukanya tidak asing.”

Saat itu juga, semua pasang mata serempak beralih pada Seoyeon dan Jaewook yang saling berseberangan. Bisik-bisik kecil pun menyusup, bergema pelan di udara. Tampaknya para karyawan bergengsi asal Gangnam itu terkejut mengetahui bahwa Seoyeon berpacaran dengan seorang pelayan barbeque.

“Iya, dia memang pacarku.” Jawab Seoyeon yakin. “Jadi tidak bisakah kau memperlakukan dia dengan baik?”

Junhyeok tertawa mengejek. “Jadi benar kau memacari seorang pelayan?”

Hampir saja Seoyeon membalas telak pertanyaan itu, namun Jaewook lebih dulu menahannya. Entah sejak kapan Jaewook berpindah ke sebelahnya. Dengan lembut dia menyentuh lengan Seoyeon, menggeleng saat yeoja itu menatapnya.

Seoyeon menghembuskan napas berat, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Saking kacaunya, ia sampai meninggalkan cardigan dan tasnya di sana. Baru setelah beberapa langkah, Seoyeon menyadari ada seseorang yang mengejarnya dari belakang.

Keduanya kemudian menaiki bus yang sama, dan duduk dalam kecanggungan. Jaewook melepas apron miliknya sambil tetap memegangi tas dan cardigan Seoyeon, tak berani membuka percakapan. Keheningan itu bertahan hingga bus membawa mereka ke halte dekat apartemen Seoyeon.

“Kenapa tadi kau diam saja?” Seoyeon membuka pembicaraan lebih dulu. Nadanya terdengar kesal.

“Aku hanya pelayan disana nuna.”

“Tapi kau tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, Jaewook-ah!” Seoyeon jengkel. “Seharusnya kau bisa lebih tegas sebagai–”

Hening sejenak. Seoyeon tidak melanjutkan kata-katanya.

Saat itu juga pintu lift apartemen Seoyeon terbuka, Jaewook melangkah lebih dulu.

“Ijinkan aku membuatkan makan malam sebelum pergi.” Ucapnya sambil memencet nomor lantai. “Tadi aku lihat nuna hanya memakan dua potong daging. Aku tidak bisa membiarkannya.”

Entah untuk yang keberapa kalinya Jaewook kembali menyiapkan makanan untuk Seoyeon. Baginya, Seoyeon boleh saja marah padanya. Ia juga boleh merasa sedih atau frustrasi atas apa pun yang terjadi dalam hidupnya. Tapi Seoyeon tidak ia ijinkan untuk melewatkan satu hal ini.

Jadi betapapun buruk suatu hal yang terjadi pada Seoyeon, Jaewook akan tetap memastikan bahwa yeoja itu tidak melewatkan jam makannya.

Jjampong kali ini terasa enak. Selalu saja enak setiap kali Jaewook yang membuatkan. Padahal sudah jelas namja itu menggunakan semua bahan yang dibuat oleh ummanya. Tapi tetap saja makanan yang disajikan Jaewook selalu terasa spesial.

Seoyeon memasukkan satu demi satu suap jjamppong itu dalam mulutnya, tapi pikirannya berkelana jauh.

Ada apa dengan dirinya sekarang? Kenapa Seoyeon tidak sanggup membantah setiap kali Jaewook berbicara? Kenapa Seoyeon begitu marah saat melihat Jaewook direndahkan? Kenapa setiap masakan yang Jaewook buat terasa istimewa? Kenapa nama Jaewook jadi orang pertama yang muncul dibenaknya saat terjadi sesuatu? Dan kenapa saat duduk berseberangan dengan Jaewook, desir angin selalu terasa berbeda?

Kenapa…?

“Jaewook ah..”

Jaewook menahan sendoknya. Melihat ke arah Seoyeon yang memanggilnya tiba-tiba.

“Kau tahu kan, aku orang yang pendiam. Aku juga memiliki trauma.” Buka Seoyeon berujar pelan. “Aku tidak pintar mengutarakan apa yang kupikirkan. Aku bahkan tidak tahu emosi apa yang sedang kurasakan…”

Perlahan sendok Jaewook diletakkan. Menyadari pembicaraan Seoyeon makin dalam.

“…Aku tidak pintar memasak. Aku juga juga tidak pintar membersihkan rumah.” Seoyeon menggigit bibir bawahnya. “Terkadang aku tidak bisa menahan diri. Terkadang juga panic attack-ku kambuh.”

Seoyeon mengumpulkan keberanian untuk membuka rasa sakitnya.

“Ada banyak ‘lubang’ disepanjang tubuhku. Ada banyak benang yang kusut dalam pikiranku. Dan ada banyak bekas luka di kulitku.” Dada Seoyeon bergetar, pelupuk matanya mulai penuh. “Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi manusia normal.”

. Kali ini tangisnya pecah. Rasa sesak didadanya berubah menjadi harapan yang membuncah. “Meskipun begitu… Meskipun aku tidak sempurna…” Seoyeon membulatkan tekadnya. “…maukah kau benar-benar menjadi pacarku?”

Keheningan sempat mengendap setelahnya, namun gejolak dalam dada keduanya tak lagi terbendung. Jaewook nyaris tak percaya kalimat itu keluar dari bibir Seoyeon. Ada jeda singkat sebelum ia mampu memproses pertanyaan itu.

Tapi sejurus kemudian Jaewook bangkit, tidak sanggup membiarkan Seoyeon tenggelam terlalu lama dalam tangisnya.

 “Gomawo nuna, gomawo sudah mengatakan dengan jujur …” Jaewook memeluknya sambil mengelus kepalanya lembut. “Jika nuna memberiku kesempatan, aku berjanji akan melakukan yang terbaik.”

Seoyeon lalu bangkit, membalas pelukan itu. Meleburkan perasaan yang entah sejak kapan bersembunyi dalam hatinya. Ia merasa lega karena pada akhirnya perasaan itu meledak sempurna, menorehkan buih-buih kecil yang kini mampu ia rasakan di sekujur tubuhnya.

Bukan sesuatu yang Seoyeon kenali sebagai obsesi. Melainkan kejujuran, ketulusan hati dan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan. Seoyeon tidak perlu menjadi orang lain, justru ia ingin membuka lebih banyak pintu dalam dirinya. Bagian-bagian yang belum pernah ia tunjukkan pada siapapun.

Tak pernah Seoyeon sangka, pada Jaewook lah rasa cintanya berlabuh. Seseorang yang diam-diam selalu hadir disisinya bahkan disaat Seoyeon tak menyadari bahwa ia membutuhkannya. Seseorang yang tidak pernah menuntut Seoyeon untuk menjadi sempurna.

Seseorang yang rela sebagian bajunya basah demi memberikan payung untuk Seoyeon. Yang merawat Seoyeon saat ia mabuk. Yang menggenggam tangan Seoyeon saat sedang khawatir. Yang selalu memastikan Seoyeon makan tepat waktu. Dan yang menggendong Seoyeon saat panic attacknya kambuh.

Seoyeon tidak menyadari begitu besar peran Jaewook dalam hidupnya. Tapi dibandingkan semua itu, Jaewook adalah orang pertama yang menyelamatkan Seoyeon dari sumber traumanya.

Seoyeon tidak akan bisa sampai di titik ini tanpa namja itu.

***

                Dengan langkah yang ringan Seoyeon berjalan menapaki daerah popular di kalangan muda Seoul–Haebangchon  sore itu. Atap-atap café yang rendah menghiasi sepanjang jalan setapak. Setiap sudut tampak sangat estetik, di dominasi dengan warna putih dan ornament kayu.

                Pintu kaca LUMIÈRE Café yang akhirnya Seoyeon pilih untuk dibuka. Begitu masuk, ia disuguhkan dengan suasana café yang hangat dengan ornament minimalis. Senada dengan pintunya, café itu juga memiliki dinding kaca di tiga sisinya, kecuali bagian pantry.

Ada beberapa lukisan yang bersandar di setiap sudut, dengan cepat bisa Seoyeon kenali. Lukisan yang mirip dengan miliknya. Yang setiap pagi menyapanya tepat ketika ia membuka mata.

Soyeon berjalan mendekati meja barista, tersenyum begitu mendapati karyawan café itu tampak sibuk membuat pesanan.

                “Annyeohaseyo.”

                “Silakan, mau pe–” Karyawan café itu terkejut. “Nuna!”

                Seoyeon tertawa malu. “Jangan keras-keras.” Ucapnya memberi gesture diam dengan telunjuk yang didekatkan ke bibir.

                “Kenapa nuna ada disini?” Jaewook menoleh ke arah jam diding yang bertengger di belakangnya. Jam 3 sore lebih 20 menit. Ia tahu sekali jam segini seharusnya Seoyeon masih sibuk dari balik computer di gedung tinggi itu.

                “Aku ada meeting diluar.” Jawab Seoyeon. “Karena selesai lebih cepat jadi aku mampir kesini.”

                Ah…

                “Ice americano.” Cepat-cepat Seoyeon menyebutkan pesanannya saat menyadari ada pelanggan lain berdiri dibelakangnya. Jaewook tertawa kemudian memintanya untuk duduk tanpa membayar.

                Menggunakan kemeja putih yang lengannya tergulung dan apron berwarna coklat, membuat Seoyeon terpaku menatap Jaewook. Dengan rambut pendek yang dipotong rapi dan kacamata berframe tebal, Seoyeon baru menyadari ekspresi serius Jaewook saat bekerja sangat memikat.

                Ini terasa berbahaya bagi Seoyeon. Karena Jaewook membuat detak jantungnya berdenyut tidak karuan. Kupu-kupu di dalam perutnya juga berterbangan kesana kemari. Ia menyedot ice americano kuat-kuat saat menyadari namja itu kembali mendekat dan meletakkan burn cheese cake di mejanya.

                “Tunggu sebentar ya nuna. Sepuluh menit lagi aku ganti shift.”

                Seoyeon patuh. Lagipula menunggu berjam-jam pun tidak akan menjadi masalah baginya.

                “Jam berapa kau harus pergi ke Hwaro?” Seoyeon bertanya tepat ketika Jaewook memenuhi janjinya, meletakkan tas selempang dan duduk diseberang meja.

                Hwaro adalah restoran daging tempat Jaewook bekerja. “Hari ini aku ijin.”

                Seoyeon kaget.

                “Nuna sudah jauh-jauh kesini, kenapa aku harus bekerja?”

                Jaewook pikir waktu-waktu seperti sekarang tidak akan sering ia dapatkan. Hanya mengorbankan pekerjaan sekali saja tak sulit baginya. Senyum lebar di bibir Seoyeon yang ia lihat kemudian justru memberikan hal yang jauh lebih berharga.

“Gomawo.”

Jaewook mengangguk, “Oiya nuna, kemarin ada seseorang yang mencariku.”

Alis Seoyeon merapat.

“Tidak-tidak, bukan penagih hutang.” Jaewook menyadari kegelisahan  Seoyeon. “Orang itu mengatakan kalau dia melihat lukisanku di platform online. Dan dia berminat untuk bekerja sama denganku.”

Seoyeon membelalak, lalu menepuk-nepuk tangan Jaewook bersemangat.

“Dia bilang ingin membuat pameran lukisan untuk pelukis amatiran. Dan dia memintaku untuk bergabung.” Jelas Jaewook. “Aku sudah mengecek dari kartu namanya, memang dia seorang curator independent yang cukup dikenal di Seoul.”

Kyaaa~ Seoyeon bersorak girang tanpa suara. Jaewook sampai tertawa, tidak pernah melihat ekspresi Seoyeon seperti sekarang.

“Kalau begitu kita harus merayakannya, Jaewook-ah!”

Alis Jaewook naik. “T-tapi aku belum memberikan jawaban apapun.”

Gwenchana, kita bisa membicarakannya nanti. Kajja!! Biar aku yang traktir.” Dengan natural ia menarik tangan Jaewook. Seseorang yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.

-To Be Continue-


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...