Tittle : Unveil [Part 5]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Hujan deras terus mengiringi perjalanan
Seoyeon dan Jaewook menuju Boryeong. Dari Seoul waktu tempuh memakan hampir dua
jam, ditambah satu kali transit. Beruntung saat tiba di Asan mereka masih
sempat naik bus pemberangkatan terakhir.
Sejak meninggalkan apartemen, bibir Seoyeon
terkunci rapat. Kepalanya dipenuhi ribuan pikiran yang saling berdesakan,
sementara ujung kuku telunjuknya sibuk menekan ibu jari. Mengelupaskan kulit
tipis di samping kukunya tanpa ia sadari.
Jaewook yang duduk di sebelahnya hanya bisa
mengamati. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun ia tahu betul: tak
ada kalimat apa pun yang mampu meringankan beban yang sedang Seoyeon tahan saat
ini.
Setelah menimbang berulang kali, akhirnya
Jaewook memberanikan diri untuk meraih sebelah tangan yeoja itu. Menarik ke
arahnya, kemudian menggenggamnya sambil mengelusnya perlahan dengan tempo yang
lambat. Memberikan sinyal pada Seoyeon untuk tetap tenang.
Yang digenggam hanya melirik sekilas tanpa
bergeming, diam-diam mengijinkan Jaewook untuk masuk ke dalam badai
kekhawatirannya sekarang.
“Umma!” Begitu sampai, Seoyeon berlari
sambil membuka pagar rumahnya sembarangan. Dari luar, lampu ruang tengah terlihat
menyala. Seoyeon tahu ummanya masih terjaga.
“Umma gwenchana?” tanyanya melihat ummanya
duduk bersandar pada lemari, ditemani dengan Lee ahjumma yang merupakan
tetangga sekaligus orang yang bekerja di warung milik umma Seoyeon.
“Uri yeon-nie kenapa bisa sampai sini?”
Wanita paruh baya itu terkejut. Menepuk-nepuk kasur lipatnya karena tidak
menyangka anak semata wayangnya tiba-tiba datang tengah malam.
“Umma sudah kubilang kan jangan bekerja
terlalu keras!” Seoyeon kesal. “Biar ahjumma saja yang mengurus semuanya. Umma
seharusnya hanya duduk didepan meja kasir, kenapa semua hal juga umma lakukan?”
Yeoja itu menumpahkan semua
kekhawatirannya.
“Apa umma ingin aku pindah saja kesini dan
berhenti menjadi karyawan di Seoul, hah?”
Seoyeon tahu, ummanya tidak akan
menurutinya jika ia meminta beliau untuk berhenti bekerja. Padahal selama ini
Seoyeon sudah memberikan uang jatah bulanan untuk orang tua tunggalnya itu,
tapi tetap saja ummanya tetap bekerja dari pagi hingga malam. Seolah-olah anak
semata wayangnya itu pengangguran dan harus ia nafkahi.
“Umma tidak apa-apa yeon-ah. Kamu tidak
perlu khawatir.”
Selalu jawaban yang. Selalu. Padahal 2 jam
lalu Lee ahjumma bilang bahwa sore tadi ummanya muntah-muntah sampai tak mampu
bangkit. Ia tahu ummanya sering sakit seperti sekarang saat kelelahan bekerja.
Dan sekarang jawaban yang sama. Seolah
tidak terjadi apa-apa.
“Pokoknya besok umma harus istirahat. Sudah
kubilang kan buka warung cukup setengah hari saja?”
“Arraseo-arraseo~”
Meskipun Seoyeon selalu marah-marah setiap
kali ummanya sakit seperti sekarang, namun semua orang tahu itu hanyalah
caranya mencintai.
Seoyeon khawatir. Terlalu khawatir. Ia
tidak ingin mendengar ummanya tumbang lagi. Tapi ketika rasa takutnya berubah
menjadi kemarahan, nasihat yang seharusnya terdengar seperti pelukan sering
kali terdengar seperti serangan
“Tapi… itu siapa Seoyeon-ah?” umma Seoyeon
menunjuk seseorang dengan tatapannya.
Ah… hampir saja Seoyeon lupa kalau dirinya
datang kesini bersama Jaewook. Sejak tadi namja itu masih mematung di halaman
rumah, tidak berani mendekat.
“Jaewook-ah.” Panggilnya memberi gesture
agar namja itu masuk.
Yang dipanggil pun menurut, dengan sopan ia
justru duduk didepan teras. Tepat disebelah pintu geser yang menjadi sekat antara
ruang tengah dan beranda.
Rumah Umma Seoyeon sederhana tapi tampak
nyaman. Didepannya persis sudah terlihat pagar pembatas antara jalan dan
pinggiran pantai. Rumah berdiding kayu itu memiliki taman kecil dengan banga
(alas duduk lebar) yang berada ditengahnya. Sama seperti rumah tradisional
korea lainnya, rumah inipun memiliki lantai yang lebih tinggi, sehingga
membutuhkan satu anak tangga untuk menaikinya.
Di sisi kiri terdapat dua kamar yang salah
satunya milik Seoyeon. Lalu ruang tengah yang sekaligus menjadi tempat bersantai,
tempat makan serta ruang berkumpul. Dan di sebelah kanan ada dapur dengan kran
kecil di bagian depan, biasa tempat umma Seoyeon mencuci pakaian.
Rasanya sudah lama Jaewook tidak mengunjungi
rumah seperti ini.
“Ini temanku, Jaewook.” Seoyeon
memperkenalkan namja yang datang menemaninya. “Tadi kami sedang bersama, jadi
dia menawarkan diri untuk mengantarkanku kemari.”
Wajah umma Seoyeon berubah cerah. “Ah salam
kenal nak Jaewook. Terimakasih sudah mengantar Seoyeon jauh-jauh kesini.”
Ucapnya lembut. “Apa kalian berdua sudah makan?”
Keduanya hanya saling bertukar pandangan.
“Kalau begitu kalian mandi dulu, biar umma
siapkan makan malam.”
“Ummaaa~~~”
“Arraseo-arraseo.” Ummanya tidak jadi
bangkit. “Ahjumma, tolong siapkan makan malam untuk mereka berdua.”
***
Berbeda dengan kota Seoul,
pesisir Boryeo jauh lebih dingin. Jaewook sampai harus memakai kaus berlapiskan
hoodie milik Seoyeon meskipun ia hanya duduk di teras rumah. Beruntung umma
Seoyeon masih menyimpan beberapa pakaian milik suaminya, sehingga Jaewook
mendapatkan celana training yang bisa ia pakai meskipun sedikit congklang.
“Minum ini nak Jaewook.” Umma
Seoyeon tiba-tiba datang sambil membawa secangkir teh hangat.
“Oh… Jeosonghaeyo (maaf).”
Jaewook merasa bersalah karena membuat umma Seoyeon sedikit kerepotan.
“Tidak pa-pa. Ini sebagai
imbalan karena kau sudah membereskan makan malam dan mencuci semuanya.”
“Kamsahamnida.” Jawabnya
sopan.
Bukannya istirahat di dalam
kamar, umma Seoyeon justru ikut duduk didepan teras bersama Jaewook. Sedangkan
Seoyeon sudah tidak terlihat disana sejak ia menghabiskan makan malam.
“Maafkan Seoyeon ya nak jika ia
terlihat dingin dan pendiam.” Umma Seoyeon membuka pembicaraan. “Sebenarnya ia
anak yang baik.”
Jaewook menoleh, lalu mengangguk
pelan.
“Sejak kecil Seoyeon dipaksa
untuk kuat dengan keadaan. Padahal dulu ia sangat ceria dan manja. Setiap hari
Seoyeon selalu bersemangat setiap kali appanya pulang dari kerja. Sampai suatu
ketika, hanya kabarnya yang sampai ke rumah ini. Bukan sosoknya…”
Wanita itu menerawang.
“…Saat itu pertama dan terakhir
kalinya saya melihat Seoyeon menangis. Hanya beberapa waktu kemudian sifatnya
berubah . Seoyeon lebih suka menyendiri padahal usianya belum genap 10 tahun.”
Ah.. masa itu pasti sangat berat
bagi Seoyeon, pikir Jaewook.
“…Sepulang sekolah ia akan
langsung membuka bukunya dan belajar hingga larut malam. Setiap hari. Seoyeon
tidak pernah mengeluh, mengingat ia punya mimpi untuk bisa bekerja di ibu
kota.”
Tentu saja, tidak heran kini
Seoyeon bisa mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi. Berbanding lurus dengan
usaha yang sudah ia kerahkan.
“…Sejak dulu Seoyeon tidak punya
teman. Kau adalah orang pertama yang ia bawa kemari.” Ucapan beliau membuat
Jaewook terkejut. “Terimakasih sudah mau menemani Seoyeon. Saya harap kau bisa
sabar menghadapi sifatnya.” Ucap umma Seoyeon mengelus pundak Jaewook pelan.
“Ne ahjummoni.”
“Tapi sekarang hampir jam 2
pagi. Bisakah kau memintanya pulang?”
Jaewook langsung bangkit. “Ahjummoni
istirahat saja, biar saya yang mencari Seoyeon.”
“Biasanya dia senang pergi ke
dekat mercusuar. Kau bisa mencarinya mulai dari sana.”
Berjarak kurang lebih 300 meter,
terlihat mercusuar berwarna merah yang umma Seoyeon ceritakan. Namun sayangnya
Jaewook tidak menemukan Seoyeon di tempat itu. Hampir saja Jaewook memutar
badannya hingga ia menyadari ada kepulan asap tipis yang muncul dari baliknya.
“Nuna…” Jaewook memanggil
Seoyeon pelan, takut mengganggu.
“Umma yang menyuruhmu kesini?”
tanya Seoyeon, menarik nafas berasap sebelum menghembuskan perlahan.
Jaewook mengangguk lalu duduk
disamping Seoyeon. “Boleh pinjam tanganmu?”
Belum juga dijawab namun Jaewook
langsung mengambil tangan Seoyeon dan memakaikan plester pada ibu jarinya.
Jaewook menyadari umma Seoyeon sejak awal mengetahui luka itu tapi beliau tidak
berani bertanya.
“Aku tidak benar-benar marah
padanya. Kau tau kan?”
Jaewook masih memegang tangan
Seoyeon, menebak arah pembicaraan yeoja itu.
“Sungguh aku selalu
mengingatkan, tapi umma tidak pernah mendengarkan.” Seloroh Seoyeon, nada
suaranya terdengar seperti keluh yang pahit. “Didepanku ia selalu mengatakan
baik-baik saja. Tapi dengan orang lain? Umma justru sering mengeluh kesakitan.”
Seoyeon menumpahkan semuanya.
“Saat ini hanya umma yang
kupunya. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku tidak ingin kejadian seperti
appa…” kalimat itu terhenti. Sekilas, ia seperti kembali melihat bantal kosong
di sebelah ibunya pada suatu pagi yang terlalu sunyi.
Seoyeon langsung menunduk, menggertakkan
giginya menahan badai yang menerjang dari dalam. Kedua matanya
terpejam rapat.
Jaewook menatapnya sebentar,
lalu suaranya turun menjadi bisikan hangat. “Gwenchana nuna. Ureo do dwae
(kau boleh menangis).”
Tidak. Seoyeon benci menangis.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi seseorang yang kuat.
Seoyeon tidak ingin mengulangi kelemahan yang dulu pernah ia perlihatkan.
Sesulit apapun itu, Seoyeon harus bisa menahannya. Toh sudah banyak hal yang
jauh lebih sakit daripada yang terjadi sekarang.
Tapi kemudian gerakan itu datang
tanpa permisi. Jaewook menarik lembut bahu Seoyeon untuk didekatkan pada
tubuhnya, menyembunyikan wajah yeoja itu dalam pelukannya.
Saat itulah punting rokok yang
terselip diantara jemari Seoyeon jatuh, bersamaan dengan runtuhnya pertahanan
yeoja itu.
Ia terisak. Tubuhnya bergetar.
Masih sekuat tenaga menahan suara agar tidak ada yang mendengar.
Meski ia sering menghadapi situasi sulit
saat hidup sendirian, Seoyeon tidak pernah menangis. Bahkan ketika Junhyeok
berulang kali menyakitinya hingga meninggalkan trauma, Seoyeon juga tidak
pernah sekalipun menangis.
Namun malam ini hanya karena
satu hal yang tidak bisa dibandingkan dengan kesulitan yang pernah Seoyeon
hadapi sebelumnya, tiba-tiba saja air matanya meluncur tanpa henti. Seperti
sebuah tombol yang mendadak menyala karena ada seseorang yang mampu menemukan
dimana letaknya.
Dan tanpa Seoyeon sadari, orang
itu bukanlah sekedar teman. Tapi sebuah rumah baginya.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment