Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 5]


 

Tittle                    : Unveil [Part 5]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 


Hujan deras terus mengiringi perjalanan Seoyeon dan Jaewook menuju Boryeong. Dari Seoul waktu tempuh memakan hampir dua jam, ditambah satu kali transit. Beruntung saat tiba di Asan mereka masih sempat naik bus pemberangkatan terakhir.

Sejak meninggalkan apartemen, bibir Seoyeon terkunci rapat. Kepalanya dipenuhi ribuan pikiran yang saling berdesakan, sementara ujung kuku telunjuknya sibuk menekan ibu jari. Mengelupaskan kulit tipis di samping kukunya tanpa ia sadari.

Jaewook yang duduk di sebelahnya hanya bisa mengamati. Kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya, namun ia tahu betul: tak ada kalimat apa pun yang mampu meringankan beban yang sedang Seoyeon tahan saat ini.

Setelah menimbang berulang kali, akhirnya Jaewook memberanikan diri untuk meraih sebelah tangan yeoja itu. Menarik ke arahnya, kemudian menggenggamnya sambil mengelusnya perlahan dengan tempo yang lambat. Memberikan sinyal pada Seoyeon untuk tetap tenang.

Yang digenggam hanya melirik sekilas tanpa bergeming, diam-diam mengijinkan Jaewook untuk masuk ke dalam badai kekhawatirannya sekarang.

“Umma!” Begitu sampai, Seoyeon berlari sambil membuka pagar rumahnya sembarangan. Dari luar, lampu ruang tengah terlihat menyala. Seoyeon tahu ummanya masih terjaga.

“Umma gwenchana?” tanyanya melihat ummanya duduk bersandar pada lemari, ditemani dengan Lee ahjumma yang merupakan tetangga sekaligus orang yang bekerja di warung milik umma Seoyeon.

“Uri yeon-nie kenapa bisa sampai sini?” Wanita paruh baya itu terkejut. Menepuk-nepuk kasur lipatnya karena tidak menyangka anak semata wayangnya tiba-tiba datang tengah malam.

“Umma sudah kubilang kan jangan bekerja terlalu keras!” Seoyeon kesal. “Biar ahjumma saja yang mengurus semuanya. Umma seharusnya hanya duduk didepan meja kasir, kenapa semua hal juga umma lakukan?”

Yeoja itu menumpahkan semua kekhawatirannya.

“Apa umma ingin aku pindah saja kesini dan berhenti menjadi karyawan di Seoul, hah?”

Seoyeon tahu, ummanya tidak akan menurutinya jika ia meminta beliau untuk berhenti bekerja. Padahal selama ini Seoyeon sudah memberikan uang jatah bulanan untuk orang tua tunggalnya itu, tapi tetap saja ummanya tetap bekerja dari pagi hingga malam. Seolah-olah anak semata wayangnya itu pengangguran dan harus ia nafkahi.

“Umma tidak apa-apa yeon-ah. Kamu tidak perlu khawatir.”

Selalu jawaban yang. Selalu. Padahal 2 jam lalu Lee ahjumma bilang bahwa sore tadi ummanya muntah-muntah sampai tak mampu bangkit. Ia tahu ummanya sering sakit seperti sekarang saat kelelahan bekerja.

Dan sekarang jawaban yang sama. Seolah tidak terjadi apa-apa.

 “Pokoknya besok umma harus istirahat. Sudah kubilang kan buka warung cukup setengah hari saja?”

“Arraseo-arraseo~”

Meskipun Seoyeon selalu marah-marah setiap kali ummanya sakit seperti sekarang, namun semua orang tahu itu hanyalah caranya mencintai.

Seoyeon khawatir. Terlalu khawatir. Ia tidak ingin mendengar ummanya tumbang lagi. Tapi ketika rasa takutnya berubah menjadi kemarahan, nasihat yang seharusnya terdengar seperti pelukan sering kali terdengar seperti serangan

“Tapi… itu siapa Seoyeon-ah?” umma Seoyeon menunjuk seseorang dengan tatapannya.

Ah… hampir saja Seoyeon lupa kalau dirinya datang kesini bersama Jaewook. Sejak tadi namja itu masih mematung di halaman rumah, tidak berani mendekat.

“Jaewook-ah.” Panggilnya memberi gesture agar namja itu masuk.

Yang dipanggil pun menurut, dengan sopan ia justru duduk didepan teras. Tepat disebelah pintu geser yang menjadi sekat antara ruang tengah dan beranda.

Rumah Umma Seoyeon sederhana tapi tampak nyaman. Didepannya persis sudah terlihat pagar pembatas antara jalan dan pinggiran pantai. Rumah berdiding kayu itu memiliki taman kecil dengan banga (alas duduk lebar) yang berada ditengahnya. Sama seperti rumah tradisional korea lainnya, rumah inipun memiliki lantai yang lebih tinggi, sehingga membutuhkan satu anak tangga untuk menaikinya.

Di sisi kiri terdapat dua kamar yang salah satunya milik Seoyeon. Lalu ruang tengah yang sekaligus menjadi tempat bersantai, tempat makan serta ruang berkumpul. Dan di sebelah kanan ada dapur dengan kran kecil di bagian depan, biasa tempat umma Seoyeon mencuci pakaian.

Rasanya sudah lama Jaewook tidak mengunjungi rumah seperti ini.

“Ini temanku, Jaewook.” Seoyeon memperkenalkan namja yang datang menemaninya. “Tadi kami sedang bersama, jadi dia menawarkan diri untuk mengantarkanku kemari.”

Wajah umma Seoyeon berubah cerah. “Ah salam kenal nak Jaewook. Terimakasih sudah mengantar Seoyeon jauh-jauh kesini.” Ucapnya lembut. “Apa kalian berdua sudah makan?”

Keduanya hanya saling bertukar pandangan.

“Kalau begitu kalian mandi dulu, biar umma siapkan makan malam.”

“Ummaaa~~~”

“Arraseo-arraseo.” Ummanya tidak jadi bangkit. “Ahjumma, tolong siapkan makan malam untuk mereka berdua.”

***

                Berbeda dengan kota Seoul, pesisir Boryeo jauh lebih dingin. Jaewook sampai harus memakai kaus berlapiskan hoodie milik Seoyeon meskipun ia hanya duduk di teras rumah. Beruntung umma Seoyeon masih menyimpan beberapa pakaian milik suaminya, sehingga Jaewook mendapatkan celana training yang bisa ia pakai meskipun sedikit congklang.

                “Minum ini nak Jaewook.” Umma Seoyeon tiba-tiba datang sambil membawa secangkir teh hangat.

                “Oh… Jeosonghaeyo (maaf).” Jaewook merasa bersalah karena membuat umma Seoyeon sedikit kerepotan.

                “Tidak pa-pa. Ini sebagai imbalan karena kau sudah membereskan makan malam dan mencuci semuanya.”

                Kamsahamnida.” Jawabnya sopan.

                Bukannya istirahat di dalam kamar, umma Seoyeon justru ikut duduk didepan teras bersama Jaewook. Sedangkan Seoyeon sudah tidak terlihat disana sejak ia menghabiskan makan malam.

                “Maafkan Seoyeon ya nak jika ia terlihat dingin dan pendiam.” Umma Seoyeon membuka pembicaraan. “Sebenarnya ia anak yang baik.”

                Jaewook menoleh, lalu mengangguk pelan.

                “Sejak kecil Seoyeon dipaksa untuk kuat dengan keadaan. Padahal dulu ia sangat ceria dan manja. Setiap hari Seoyeon selalu bersemangat setiap kali appanya pulang dari kerja. Sampai suatu ketika, hanya kabarnya yang sampai ke rumah ini. Bukan sosoknya…”

                Wanita itu menerawang.

                “…Saat itu pertama dan terakhir kalinya saya melihat Seoyeon menangis. Hanya beberapa waktu kemudian sifatnya berubah . Seoyeon lebih suka menyendiri padahal usianya belum genap 10 tahun.”

                Ah.. masa itu pasti sangat berat bagi Seoyeon, pikir Jaewook.

                “…Sepulang sekolah ia akan langsung membuka bukunya dan belajar hingga larut malam. Setiap hari. Seoyeon tidak pernah mengeluh, mengingat ia punya mimpi untuk bisa bekerja di ibu kota.”

                Tentu saja, tidak heran kini Seoyeon bisa mendapatkan pekerjaan di tempat bergengsi. Berbanding lurus dengan usaha yang sudah ia kerahkan.

                “…Sejak dulu Seoyeon tidak punya teman. Kau adalah orang pertama yang ia bawa kemari.” Ucapan beliau membuat Jaewook terkejut. “Terimakasih sudah mau menemani Seoyeon. Saya harap kau bisa sabar menghadapi sifatnya.” Ucap umma Seoyeon mengelus pundak Jaewook pelan.

                “Ne ahjummoni.”

                “Tapi sekarang hampir jam 2 pagi. Bisakah kau memintanya pulang?”

                Jaewook langsung bangkit. “Ahjummoni istirahat saja, biar saya yang mencari Seoyeon.”

                “Biasanya dia senang pergi ke dekat mercusuar. Kau bisa mencarinya mulai dari sana.”

                Berjarak kurang lebih 300 meter, terlihat mercusuar berwarna merah yang umma Seoyeon ceritakan. Namun sayangnya Jaewook tidak menemukan Seoyeon di tempat itu. Hampir saja Jaewook memutar badannya hingga ia menyadari ada kepulan asap tipis yang muncul dari baliknya.

                “Nuna…” Jaewook memanggil Seoyeon pelan, takut mengganggu.

                “Umma yang menyuruhmu kesini?” tanya Seoyeon, menarik nafas berasap sebelum menghembuskan perlahan.

                Jaewook mengangguk lalu duduk disamping Seoyeon. “Boleh pinjam tanganmu?”

                Belum juga dijawab namun Jaewook langsung mengambil tangan Seoyeon dan memakaikan plester pada ibu jarinya. Jaewook menyadari umma Seoyeon sejak awal mengetahui luka itu tapi beliau tidak berani bertanya.

                “Aku tidak benar-benar marah padanya. Kau tau kan?”

                Jaewook masih memegang tangan Seoyeon, menebak arah pembicaraan yeoja itu.

                “Sungguh aku selalu mengingatkan, tapi umma tidak pernah mendengarkan.” Seloroh Seoyeon, nada suaranya terdengar seperti keluh yang pahit. “Didepanku ia selalu mengatakan baik-baik saja. Tapi dengan orang lain? Umma justru sering mengeluh kesakitan.”

                Seoyeon menumpahkan semuanya.

                “Saat ini hanya umma yang kupunya. Aku sangat takut kehilangan dia. Aku tidak ingin kejadian seperti appa…” kalimat itu terhenti. Sekilas, ia seperti kembali melihat bantal kosong di sebelah ibunya pada suatu pagi yang terlalu sunyi.

Seoyeon langsung menunduk, menggertakkan giginya menahan badai yang menerjang dari dalam. Kedua matanya terpejam rapat.

                Jaewook menatapnya sebentar, lalu suaranya turun menjadi bisikan hangat. “Gwenchana nuna. Ureo do dwae (kau boleh menangis).”

                Tidak. Seoyeon benci menangis. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi seseorang yang kuat. Seoyeon tidak ingin mengulangi kelemahan yang dulu pernah ia perlihatkan. Sesulit apapun itu, Seoyeon harus bisa menahannya. Toh sudah banyak hal yang jauh lebih sakit daripada yang terjadi sekarang.

                Tapi kemudian gerakan itu datang tanpa permisi. Jaewook menarik lembut bahu Seoyeon untuk didekatkan pada tubuhnya, menyembunyikan wajah yeoja itu dalam pelukannya.

                Saat itulah punting rokok yang terselip diantara jemari Seoyeon jatuh, bersamaan dengan runtuhnya pertahanan yeoja itu.

                Ia terisak. Tubuhnya bergetar. Masih sekuat tenaga menahan suara agar tidak ada yang mendengar.

Meski ia sering menghadapi situasi sulit saat hidup sendirian, Seoyeon tidak pernah menangis. Bahkan ketika Junhyeok berulang kali menyakitinya hingga meninggalkan trauma, Seoyeon juga tidak pernah sekalipun menangis.

                Namun malam ini hanya karena satu hal yang tidak bisa dibandingkan dengan kesulitan yang pernah Seoyeon hadapi sebelumnya, tiba-tiba saja air matanya meluncur tanpa henti. Seperti sebuah tombol yang mendadak menyala karena ada seseorang yang mampu menemukan dimana letaknya.

                Dan tanpa Seoyeon sadari, orang itu bukanlah sekedar teman. Tapi sebuah rumah baginya.

-To Be Continue-

               

               

 


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...