Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 6]

 


Tittle                    : Unveil [Part 6]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Sehari setelah Seoyeon kembali ke kampung halamannya, Jaewook lebih dulu pamit. Banyaknya pekerjaan paruh waktu membuatnya tak bisa tinggal lebih lama. Berbeda dengan Seoyeon, yang memilih mengambil satu hari cuti dan memanfaatkan dua hari akhir pekannya untuk beristirahat di sana.

Sebelumnya umma Seoyeon selalu membawakan begitu banyak lauk dan banchan untuknya. Namun kali ini bahkan toples-toples itu bertambah dua kali lipat karena sebagian dititipkan untuk Jaewook.

Dan disinilah Seoyeon sekarang. Duduk di beranda rumah Jaewook yang terletak di rooftop bangunan 2 lantai. Ia baru sadar kalau ia tidak memiliki kontak apapun milik namja itu. Selama ini mereka berdua bertemu hanya karena kebetulan. Jadi, satu-satunya pilihan yang ia punya hanyalah datang ke rumahnya dan menunggu sampai namja itu pulang.

“Nuna?”

Seoyeon menoleh. Akhirnya.

“Sudah berapa lama noona menunggu disini?”  Buru-buru Jaewook menaiki sisa anak tangga saat menemukan Seoyeon duduk di bangku teras rumahnya.

“Tidak pa-pa.” Hanya jawaban itu yang terdengar. Padahal ia sudah disana sebelum matahari terbenam. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.

“Ah maaf, aku pulang terlambat karena lembur.” Ucapnya lalu membukakan pintu.

“Ini dari umma.”

Jaewook berseru melihat ke dua tas berisi toples yang Seoyeon bawa, matanya membundar. “Banyak sekali nuna.”

“Umma juga menitipkan salam untukmu. Katanya terimakasih karena kau sudah membantuku.”

Apa Seoyeon bercerita banyak tentangnya? Jaewook tidak berani menebak. Tapi hanya dengan mendengar salam itu saja membuat ia merasa lega. Seolah kehadirannya di hidup Seoyeon benar-benar diterima.

Ruangan yang sederhana, lampu yang redup, udara yang dingin dan meja lipat. Semua itu menciptakan suasana yang kini terasa jauh lebih ramah bagi Seoyeon. Ini kedua kalinya ia mengunjungi apartemen Jaewook. Tapi entah kenapa, tempat ini terasa seperti ruang yang sudah familiar… seolah sebagian dirinya pernah tinggal di sini.

Dan sama seperti pertama kali, Jaewook lagi-lagi menawarkan makan malam. Entah kenapa saat bersamanya, Jaewook tidak pernah membiarkan Seoyeon kelaparan.

“Jaewook-ah. Bolehkah aku meminta kontakmu?” tanya Seoyeon setelah Jaewook selesai mencuci piring dan semua alat makan.

“Tentu saja.” namja itu tampak girang. Langsung menyambar handphone miliknya kemudian duduk disamping Seoyeon.

Seoyeon pikir, memiliki kontak satu sama lain penting di waktu seperti sekarang. Lagipula mereka saling kenal, tidak ada salahnya saling bertukar kontak kan?

“Telfon aku jika nuna membutuhkan sesuatu.” Ucap namja itu setelah memasukkan nomornya pada ponsel Seoyeon.

Seoyeon mengangguk. “Gomawo.”

“Hm?”

“Untuk semuanya.”

Jaewook tidak langsung merespon. Ada jeda beberapa saat ketika dirinya hanya bertukar tatapan dalam diam. Seolah masing-masing sedang menyelami apa yang ada di kepala satu sama lain.

Sejujurnya ini pertama kalinya Seoyeon mengucapkan kata itu. Mengucapkan terimakasih. Meskipun Jaewook tak pernah menuntut apa pun darinya, tapi ia tahu… Seoyeon selalu menyimpan rasa terima kasih itu dalam hatinya. Untuk seorang yeoja yang begitu tertutup, yang bertahun-tahun hidup dengan trauma dan rasa takut, ucapan sederhana yang ia berikan malam ini sudah terasa seperti langkah besar.

Dan bagi Jaewook, itu lebih dari cukup

“Orang itu…” Jaewook sedikit ragu. “Dia tidak mengganggumu lagi kan?”

Junhyeok yang dimaksud, Seoyeon paham. Kata mengganggu jika diartikan sebagai mempersulit pekerjaan Seoyeon berkali-kali lipat, berarti jawabannya ya. Tapi jika diartikan berusaha menemui Seoyeon diluar jam kerja, jawabannya tidak.

Seoyeon memilih opsi kedua. “Belum lama ini, sebenarnya aku dan dia adalah partner kerja.”

Jaewook terkejut. Berusaha keras mengatur ekspresi wajahnya.

“Perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan tempatku bekerja.” Lanjut Seoyeon seperti tidak punya pilihan. “Kami beberapa kali bertemu saat meeting.”

“Nuna tidak apa-apa?”

Tentu saja itu sulit, Seoyeon harus menemui psikiaternya dan meminta dosis obatnya dinaikkan. Jam tidurnya kembali kacau. Setiap hari Seoyeon harus pulang lembur dan sering mabuk sendirian di apartemennya.

Tapi di pagi hari ia tetap bangun tidur, mengumpulkan semua keberanianya dan menjalani semuanya seolah-olah tidak ada yang terjadi.

“Tidak papa untuk mengatakan jika itu sulit, nuna.” Jaewook menjawab pertanyaannya sendiri. Seakan memvalidasi perasaan yang selama ini Seoyeon sembunyikan.

Seoyeon menghela nafas, “Aku hanya tidak mau terlihat lemah dihadapan dia, Jaewook ah.” Bahunya turun. “Sudah terlalu lama aku bersembunyi. Apapun yang terjadi sekarang, aku harus menyelesaikan projek ini dengan baik.”

Jaewook meraih jemari Seoyeon lalu menggenggamnya.

“Aku selalu percaya noona bisa melakukannya.” Ucap Jaewook. “Tapi jika suatu saat noona menghadapi kesulitan, aku ada disini. Aku tidak akan kemana-mana.”

Untuk pertama kalinya Jaewook mengungkapkan perasaanya. Selama ini ia hanya hadir dan memberi ruang aman bagi Seoyeon tanpa mengucapkan apapun. Tapi baginya, itu tidak lagi cukup. Jaewook ingin Seoyeon tahu, bahwa Seoyeon bisa mengandalkannya.

Dalam kepala Jaewook, Seoyeon masih orang yang sama. Sosok ia temukan terjembab di pinggir jalan setelah mendapat pukulan dari kekasihnya. Yang justru menahan Jaewook sesaat setelah Jaewook membalaskan pukulan untuk Junhyeok.

Saat itu sudut bibir Seoyeon memerah, pipinya membiru karena tamparan yang Jaewook tebak sudah ia dapatkan beberapa hari sebelumnya. Rambutnya kusut dengan jaket yang dipakai sembarangan. Jaewook tidak peduli meskipun Seoyeon sudah menahan tubuhnya untuk menjauh, tapi ia tetap mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada Junhyeok.

Sampai sebulan kemudian, Jaewook bertemu Seoyeon lagi saat ia bekerja paruh waktu di minimarket. Meskipun Jaewook tahu Seoyeon mengenalinya, namun pertemuan mereka berdua tidak bisa dikatakan baik. Oleh karena itu keduanya kompak untuk tidak saling bertukar sapa.

Selama hampir dua tahun melihat Seoyeon, Jaewook diam-diam mempelajari keseharian yeoja itu. Tidak hanya hafal dengan merk rokoknya, Jaewook juga tahu jam berapa ia biasa pulang kerja, apa ramen kesukaannya, dan tentu saja kebiasaan Seoyeon yang selalu minum 1 kaleng bir sebelum pulang ke apartemen.

Jaewook hanya tidak menyangka, bahwa kejadian demi kejadian menggiring hubungan mereka berdua sampai sekarang. Dalam hati ia berjanji, bahwa ia tidak akan mengijinkan namja itu untuk menyakiti Seoyeon lagi.

                “Jaewook-ah.”

                “Hm?”

                “Besok rabu aku ada jadwal konseling. Maukah kau menemaniku?”

                Jaewook mengulum senyum. “Tentu saja.”

***

                Akhirnya hari ini tiba. Hari dimana Seoyeon mengantongi ‘kemenangannya’ melawan mantan kekasih yang kini menjadi partner kerjanya. Meskipun beberapa bulan belakangan Junhyeok selalu mempersulit pekerjaan Seoyeon, tapi yeoja itu tidak kehilangan jalan keluar.

Tanpa sepengetahuan Junhyeok, Seoyeon menemui Head Of Development milik perusahaan Hanwool. Yang merupakan atasan Junhyeok sekaligus pimpinan dari project ini. Dan sesuai dugaan Seoyeon, proposal miliknya diterima dengan sangat mudah. Tampaknya Seoyeon memang tidak bisa lagi mempercayai Junhyeok yang selalu mencampurkan pekerjaan dengan urusan pribadinya.

“Senang bekerja sama dengan anda, Kang Seoyeon.” Junhyeok menjabat tangan Seoyeon setelah mereka menghadiri meeting terakhir sebelum penentuan tanggal launching product.

Seoyeon hanya tersenyum sinis. Dalam hati ia puas akhirnya Junhyeok mengakui kekalahannya dan menemui Seoyeon hari ini untuk tanda tangan kontrak.

“Karena kita sudah deal, bagaimana jika kalian semua kutraktir dinner?”

Tumben sekali, pikir Seoyeon.

HWARO : Seoul Grill jadi restoran barbeque pilihan Junhyeok. Tempat ini memang lagi hits di kalangan muda dengan lokasi strategis di jalanan Hongdae. Tidak heran hampir semua mejanya penuh. Beruntung ruangan VIP masih tersedia, cukup untuk masing-masing dari tim Hanwool dan Luminate.

“Jeogiyo…”

Seorang pelayan pun datang, siap mencatat pesanan. Dari seberang meja Seoyeon langsung bisa mengenalinya. Namja itu sedikit terkejut. Tapi Seoyeon justru tersenyum lebar, tampak senang bertemu dengan seseorang yang dekat dengannya.

Sebelumnya Seoyeon tidak mengetahui dimana tempat Jaewook bekerja. Namja itu hanya bercerita kalau ia pindah ke restoran daging. Tapi melihat tempat ini, membuat Seoyeon merasa lega. Setidaknya namja itu mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Porsi daging barbeque untuk 10 orang memang tidak main-main. Terbukti sejak tadi Jaewook harus bolak balik mengisi ulang daging di panggangan untuk meja Seoyeon. Belum lagi request Junhyeok yang aneh-aneh.

“Ah daging ini terlalu gosong, aku tidak bisa memakannya.”

Seoyeon melirik sinis ke arah Junhyeok. Jangan bilang ia mau cari masalah disini.

“Jeosonghamnida.” Buru-buru Jaewook meminta maaf. “Kami akan menggantinya dengan yang baru.”

Baru saja Seoyeon menarik nafas ingin berkata. Tapi Jaewook menggeleng, mencegahnya.

Tapi belum juga beberapa lama Jaewook melayaninya, lagi-lagi Junhyeok complain karena api yang digunakan terlalu kecil.

“… pantas saja daging ini tidak kunjung matang. Kamu tidak tahu kalau kami sudah menunggu terlalu lama?

“Jun– ”

Jeosonghamnida.”

Suara Seoyeon berhenti karena permintaan maaf dari Jaewook lebih dulu terdengar. Demi Tuhan rasanya Seoyeon ingin menegur mantannya itu karena ia sangat tidak sopan.

“Prang!” suara dentingan keras memecah udara. Kali ini gelas soju milik Junhyeok tiba-tiba saja terjatuh. Pecahannya berhaburan di lantai.

“Ah! Basah semua… Cepat bersihkan!”

“Junhyeok-ssi!” Seoyeon bangkit. “Apa kau sengaja melakukannya? Bisakah kau lebih sopan sedikit?”

Junhyeok menyeringai. Ia puas melihat reaksi Seoyeon. “Kenapa memangnya? Bukankah itu tugas pelayan?”

“Junhyeok-ssi!”

“Ah… aku baru ingat.” Junhyeok ikut bangkit. Menunjuk ke arah Jaewook. “Bukankah ia pacarmu? Pantas saja kulihat-lihat mukanya tidak asing.”

Saat itu juga, semua pasang mata serempak beralih pada Seoyeon dan Jaewook yang berdiri saling berseberangan. Bisik-bisik kecil pun menyusup, bergema pelan di udara. Tampaknya para karyawan bergengsi asal Gangnam itu terkejut mengetahui bahwa Seoyeon berpacaran dengan seorang pelayan barbeque.

Tidak salah lagi. Ada alasan kenapa Junhyeok tiba-tiba berbaik hati ingin mentraktir semua tim di tempat ini.

Pasti ia tahu kalau Jaewook bekerja disini.

-To Be Continue-

               

 


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...