Tittle : Unveil [Part 6]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Sehari setelah Seoyeon kembali ke kampung
halamannya, Jaewook lebih dulu pamit. Banyaknya pekerjaan paruh waktu
membuatnya tak bisa tinggal lebih lama. Berbeda dengan Seoyeon, yang memilih
mengambil satu hari cuti dan memanfaatkan dua hari akhir pekannya untuk
beristirahat di sana.
Sebelumnya umma Seoyeon selalu membawakan
begitu banyak lauk dan banchan untuknya. Namun kali ini bahkan toples-toples
itu bertambah dua kali lipat karena sebagian dititipkan untuk Jaewook.
Dan disinilah Seoyeon sekarang. Duduk di
beranda rumah Jaewook yang terletak di rooftop bangunan 2 lantai. Ia baru sadar
kalau ia tidak memiliki kontak apapun milik namja itu. Selama ini mereka berdua
bertemu hanya karena kebetulan. Jadi, satu-satunya pilihan yang ia punya
hanyalah datang ke rumahnya dan menunggu sampai namja itu pulang.
“Nuna?”
Seoyeon menoleh. Akhirnya.
“Sudah berapa lama noona menunggu
disini?” Buru-buru Jaewook menaiki sisa
anak tangga saat menemukan Seoyeon duduk di bangku teras rumahnya.
“Tidak pa-pa.” Hanya jawaban itu yang
terdengar. Padahal ia sudah disana sebelum matahari terbenam. Dan sekarang jam
sudah menunjukkan pukul 9 malam.
“Ah maaf, aku pulang terlambat karena
lembur.” Ucapnya lalu membukakan pintu.
“Ini dari umma.”
Jaewook berseru melihat ke dua tas berisi
toples yang Seoyeon bawa, matanya membundar. “Banyak sekali nuna.”
“Umma juga menitipkan salam untukmu.
Katanya terimakasih karena kau sudah membantuku.”
Apa Seoyeon bercerita banyak tentangnya?
Jaewook tidak berani menebak. Tapi hanya dengan mendengar salam itu saja
membuat ia merasa lega. Seolah kehadirannya di hidup Seoyeon benar-benar
diterima.
Ruangan yang sederhana, lampu yang redup,
udara yang dingin dan meja lipat. Semua itu menciptakan suasana yang kini
terasa jauh lebih ramah bagi Seoyeon. Ini kedua kalinya ia mengunjungi
apartemen Jaewook. Tapi entah kenapa, tempat ini terasa seperti ruang yang
sudah familiar… seolah sebagian dirinya pernah tinggal di sini.
Dan sama seperti pertama kali, Jaewook
lagi-lagi menawarkan makan malam. Entah kenapa saat bersamanya, Jaewook tidak
pernah membiarkan Seoyeon kelaparan.
“Jaewook-ah. Bolehkah aku meminta
kontakmu?” tanya Seoyeon setelah Jaewook selesai mencuci piring dan semua alat
makan.
“Tentu saja.” namja itu tampak girang.
Langsung menyambar handphone miliknya kemudian duduk disamping Seoyeon.
Seoyeon pikir, memiliki kontak satu sama
lain penting di waktu seperti sekarang. Lagipula mereka saling kenal, tidak ada
salahnya saling bertukar kontak kan?
“Telfon aku jika nuna membutuhkan sesuatu.”
Ucap namja itu setelah memasukkan nomornya pada ponsel Seoyeon.
Seoyeon mengangguk. “Gomawo.”
“Hm?”
“Untuk semuanya.”
Jaewook tidak langsung merespon. Ada jeda
beberapa saat ketika dirinya hanya bertukar tatapan dalam diam. Seolah
masing-masing sedang menyelami apa yang ada di kepala satu sama lain.
Sejujurnya ini pertama kalinya Seoyeon
mengucapkan kata itu. Mengucapkan terimakasih. Meskipun Jaewook tak pernah
menuntut apa pun darinya, tapi ia tahu… Seoyeon selalu menyimpan rasa terima
kasih itu dalam hatinya. Untuk seorang yeoja yang begitu tertutup, yang
bertahun-tahun hidup dengan trauma dan rasa takut, ucapan sederhana yang ia
berikan malam ini sudah terasa seperti langkah besar.
Dan bagi Jaewook, itu lebih dari cukup
“Orang itu…” Jaewook sedikit ragu. “Dia
tidak mengganggumu lagi kan?”
Junhyeok yang dimaksud, Seoyeon paham. Kata
mengganggu jika diartikan sebagai mempersulit pekerjaan Seoyeon berkali-kali
lipat, berarti jawabannya ya. Tapi jika diartikan berusaha menemui
Seoyeon diluar jam kerja, jawabannya tidak.
Seoyeon memilih opsi kedua. “Belum lama
ini, sebenarnya aku dan dia adalah partner kerja.”
Jaewook terkejut. Berusaha keras mengatur
ekspresi wajahnya.
“Perusahaannya bekerja sama dengan
perusahaan tempatku bekerja.” Lanjut Seoyeon seperti tidak punya pilihan. “Kami
beberapa kali bertemu saat meeting.”
“Nuna tidak apa-apa?”
Tentu saja itu sulit, Seoyeon harus menemui
psikiaternya dan meminta dosis obatnya dinaikkan. Jam tidurnya kembali kacau. Setiap
hari Seoyeon harus pulang lembur dan sering mabuk sendirian di apartemennya.
Tapi di pagi hari ia tetap bangun tidur,
mengumpulkan semua keberanianya dan menjalani semuanya seolah-olah tidak ada
yang terjadi.
“Tidak papa untuk mengatakan jika itu sulit,
nuna.” Jaewook menjawab pertanyaannya sendiri. Seakan memvalidasi perasaan yang
selama ini Seoyeon sembunyikan.
Seoyeon menghela nafas, “Aku hanya tidak
mau terlihat lemah dihadapan dia, Jaewook ah.” Bahunya turun. “Sudah terlalu
lama aku bersembunyi. Apapun yang terjadi sekarang, aku harus menyelesaikan
projek ini dengan baik.”
Jaewook meraih jemari Seoyeon lalu
menggenggamnya.
“Aku selalu percaya noona bisa
melakukannya.” Ucap Jaewook. “Tapi jika suatu saat noona menghadapi kesulitan,
aku ada disini. Aku tidak akan kemana-mana.”
Untuk pertama kalinya Jaewook mengungkapkan
perasaanya. Selama ini ia hanya hadir dan memberi ruang aman bagi Seoyeon tanpa
mengucapkan apapun. Tapi baginya, itu tidak lagi cukup. Jaewook ingin Seoyeon
tahu, bahwa Seoyeon bisa mengandalkannya.
Dalam kepala Jaewook, Seoyeon masih orang
yang sama. Sosok ia temukan terjembab di pinggir jalan setelah mendapat
pukulan dari kekasihnya. Yang justru menahan Jaewook sesaat setelah Jaewook
membalaskan pukulan untuk Junhyeok.
Saat itu sudut bibir Seoyeon memerah,
pipinya membiru karena tamparan yang Jaewook tebak sudah ia dapatkan beberapa
hari sebelumnya. Rambutnya kusut dengan jaket yang dipakai sembarangan. Jaewook
tidak peduli meskipun Seoyeon sudah menahan tubuhnya untuk menjauh, tapi ia
tetap mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada Junhyeok.
Sampai sebulan kemudian, Jaewook bertemu
Seoyeon lagi saat ia bekerja paruh waktu di minimarket. Meskipun Jaewook tahu
Seoyeon mengenalinya, namun pertemuan mereka berdua tidak bisa dikatakan baik.
Oleh karena itu keduanya kompak untuk tidak saling bertukar sapa.
Selama hampir dua tahun melihat Seoyeon,
Jaewook diam-diam mempelajari keseharian yeoja itu. Tidak hanya hafal dengan
merk rokoknya, Jaewook juga tahu jam berapa ia biasa pulang kerja, apa ramen
kesukaannya, dan tentu saja kebiasaan Seoyeon yang selalu minum 1 kaleng bir
sebelum pulang ke apartemen.
Jaewook hanya tidak menyangka, bahwa
kejadian demi kejadian menggiring hubungan mereka berdua sampai sekarang. Dalam
hati ia berjanji, bahwa ia tidak akan mengijinkan namja itu untuk menyakiti
Seoyeon lagi.
“Jaewook-ah.”
“Hm?”
“Besok rabu aku ada jadwal
konseling. Maukah kau menemaniku?”
Jaewook mengulum senyum. “Tentu
saja.”
***
Akhirnya hari ini tiba. Hari
dimana Seoyeon mengantongi ‘kemenangannya’ melawan mantan kekasih yang kini
menjadi partner kerjanya. Meskipun beberapa bulan belakangan Junhyeok selalu
mempersulit pekerjaan Seoyeon, tapi yeoja itu tidak kehilangan jalan keluar.
Tanpa sepengetahuan Junhyeok, Seoyeon
menemui Head Of Development milik perusahaan Hanwool. Yang merupakan
atasan Junhyeok sekaligus pimpinan dari project ini. Dan sesuai dugaan Seoyeon,
proposal miliknya diterima dengan sangat mudah. Tampaknya Seoyeon memang tidak
bisa lagi mempercayai Junhyeok yang selalu mencampurkan pekerjaan dengan urusan
pribadinya.
“Senang bekerja sama dengan anda, Kang
Seoyeon.” Junhyeok menjabat tangan Seoyeon setelah mereka menghadiri meeting
terakhir sebelum penentuan tanggal launching product.
Seoyeon hanya tersenyum sinis. Dalam hati
ia puas akhirnya Junhyeok mengakui kekalahannya dan menemui Seoyeon hari ini
untuk tanda tangan kontrak.
“Karena kita sudah deal, bagaimana
jika kalian semua kutraktir dinner?”
Tumben sekali, pikir Seoyeon.
HWARO : Seoul Grill jadi restoran barbeque
pilihan Junhyeok. Tempat ini memang lagi hits di kalangan muda dengan lokasi
strategis di jalanan Hongdae. Tidak heran hampir semua mejanya penuh. Beruntung
ruangan VIP masih tersedia, cukup untuk masing-masing dari tim Hanwool dan
Luminate.
“Jeogiyo…”
Seorang pelayan pun datang, siap mencatat
pesanan. Dari seberang meja Seoyeon langsung bisa mengenalinya. Namja itu
sedikit terkejut. Tapi Seoyeon justru tersenyum lebar, tampak senang bertemu
dengan seseorang yang dekat dengannya.
Sebelumnya Seoyeon tidak mengetahui dimana tempat
Jaewook bekerja. Namja itu hanya bercerita kalau ia pindah ke restoran daging.
Tapi melihat tempat ini, membuat Seoyeon merasa lega. Setidaknya namja itu
mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Porsi daging barbeque untuk 10 orang memang
tidak main-main. Terbukti sejak tadi Jaewook harus bolak balik mengisi ulang
daging di panggangan untuk meja Seoyeon. Belum lagi request Junhyeok yang
aneh-aneh.
“Ah daging ini terlalu gosong, aku tidak
bisa memakannya.”
Seoyeon melirik sinis ke arah Junhyeok.
Jangan bilang ia mau cari masalah disini.
“Jeosonghamnida.”
Buru-buru Jaewook meminta maaf. “Kami akan menggantinya dengan yang baru.”
Baru saja Seoyeon menarik nafas ingin berkata.
Tapi Jaewook menggeleng, mencegahnya.
Tapi belum juga beberapa lama Jaewook
melayaninya, lagi-lagi Junhyeok complain karena api yang digunakan terlalu
kecil.
“… pantas saja daging ini tidak kunjung
matang. Kamu tidak tahu kalau kami sudah menunggu terlalu lama?
“Jun– ”
“Jeosonghamnida.”
Suara Seoyeon berhenti karena permintaan
maaf dari Jaewook lebih dulu terdengar. Demi Tuhan rasanya Seoyeon ingin
menegur mantannya itu karena ia sangat tidak sopan.
“Prang!” suara dentingan keras memecah
udara. Kali ini gelas soju milik Junhyeok tiba-tiba saja terjatuh. Pecahannya
berhaburan di lantai.
“Ah! Basah semua… Cepat bersihkan!”
“Junhyeok-ssi!” Seoyeon bangkit. “Apa kau
sengaja melakukannya? Bisakah kau lebih sopan sedikit?”
Junhyeok menyeringai. Ia puas melihat
reaksi Seoyeon. “Kenapa memangnya? Bukankah itu tugas pelayan?”
“Junhyeok-ssi!”
“Ah… aku baru ingat.” Junhyeok ikut
bangkit. Menunjuk ke arah Jaewook. “Bukankah ia pacarmu? Pantas saja kulihat-lihat
mukanya tidak asing.”
Saat itu juga, semua pasang mata serempak
beralih pada Seoyeon dan Jaewook yang berdiri saling berseberangan. Bisik-bisik
kecil pun menyusup, bergema pelan di udara. Tampaknya para karyawan bergengsi
asal Gangnam itu terkejut mengetahui bahwa Seoyeon berpacaran dengan seorang
pelayan barbeque.
Tidak salah lagi. Ada alasan kenapa
Junhyeok tiba-tiba berbaik hati ingin mentraktir semua tim di tempat ini.
Pasti ia tahu kalau Jaewook bekerja disini.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment