Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 4]


Tittle                    : Unveil [Part 4]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

“Sedang apa kau disini? Apa kalian berpacaran?”

“Iya! Kami berdua berpacaran.” Suara itu pecah begitu saja dari balik bahu Jaewook. Bergetar, tapi cukup tegas.  Seoyeon masih menyembunyikan badannya disana dengan tangan yang menopang pada lengan namja itu.

Baik Jaewook maupun Junhyeok sama-sama terperangah. Hanya saja, Jaewook tidak ingin sedikit pun kepanikan Seoyeon terbaca oleh laki-laki itu. Maka ia melangkah setengah maju, tubuhnya tegak, membangun jarak baru.

Dengan yakin, Jaewook meraih tangan Seoyeon. Genggamannya hangat dan tidak goyah. Gerakan sederhana itu saja sudah cukup untuk membuat Junhyeok tersentak, rahangnya mengeras.

“Mulai sekarang,” Jaewook menatap lurus, suaranya berat namun tenang, “Tolong jangan ganggu pacarku lagi.”

Junhyeok semakin kesal. Enggan berlama-lama berurusan dengan mereka berdua, namja itupun pergi meninggalkannya.

“Seoyeon-ssi, gwenchana?!?” Jaewook menghambur ke arah Seoyeon khawatir.

Saat itulah pertahanan Seoyeon hancur. Sekuat tenaga ia sudah menyembunyikan rasa sakitnya, ternyata kini ledakan itu tak sanggup lagi ia kendalikan.

Napasnya terputus-putus, hanya udara dangkal yang lewat di tenggorokan. Ujung jarinya mati rasa, gemetar. Keringat dingin mulai muncul di pelipis, sementara pandangannya mengabur.

“Jaewook ssi-” ucap Seoyeon tertahan. Tubuhnya tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta tolong.

Dengan cepat Jaewook menahan tubuh Seoyeon yang hampir ambruk. Ia langsung menggendong yeoja itu memasuki lift. Beruntung Seoyeon masih bisa menyebutkan nomor apartemen beserta passwordnya, jika tidak, mungkin Jaewook harus membawa yeoja itu ke rumah sakit.

Gwenchana?” tanya Jaewook setelah memastikan Seoyeon telah kembali kepada kesadarannya.

Seoyeon mengangguk. Ia duduk di atas sofa sementara Jaewook duduk dilantai, dengan sopan memberi jarak agar Seoyeon tidak merasa sesak. Disampingnya sudah berserakan isi tas Seoyeon karena Jaewook mencari obat serta inhaler untuk mengobati panik attack yeoja itu.

Meskipun sangat khawatir, Jaewook tetap bergerak tenang, tidak membebani dan memberi ruang untuk Seoyeon memproses rasa sakitnya.

Namun perhatian Seoyeon justru tersita pada hal lain, sejak tadi jemari namja itu terus mengetuk lututnya dengan ritme yang beraturan. Seolah membangun tempo baru untuk napas Seoyeon. Ketukan tangan Jaewook tanpa sadar membuat Seoyeon mengikuti ritme itu hingga berangsur tenang.

Yang terasa hanya satu: Jaewook. Suaranya. Ritmenya.

Entah kenapa Jaewook merasa kejadian malam ini seperti déjà vu. Bukan pertamakalinya ia mendapati panick attack Seoyeon kambuh seperti sekarang.

Sama persis seperti yang Junhyeok katakan, Jaewook memang hadir di malam itu. Malam dimana Seoyeon dan Junhyeok bertengkar hebat sepulang mereka kerja. Suasana yang sepi di musim dingin dengan cepat membuat suara Junhyeok bergema di jalanan, membuat Jaewook yang tak sengaja lewat terpaksa menghentikan langkahnya untuk mengamati dari kejauhan.

Nada bicara Junhyeok yang agresif, nyaris menenggelamkan suara Seoyeon ketika ia mencoba menjawab. Tapi kemudian Jaewook harus mencampuri urusan orang lain saat dengan jelas ia melihat namja itu melakukan sesuatu diluar batas.

Jaewook hanya tidak menyangka, bahwa setelah itu Seoyeon pindah ke area tempat ia bekerja paruh waktu dan terlibat beberapa kejadian sampai akhirnya takdir membawa mereka berdua disini sekarang.

“Apa ada yang kau butuhkan? Apa kau ingin aku mengambilkan sesuatu?”

Seoyeon menggeleng, lalu meletakan gelas yang sejak tadi ia pegang.

“Atau…” Jaewook tampak ragu mengatakannya. “Kau butuh waktu untuk sendiri?”

Seoyeon terdiam mendengar pertanyaan itu. Selama ini ia memang selalu menyembunyikannya, berharap tidak ada siapapun yang mengetahui sisi rapuhnya. Seoyeon sakit. Ia lemah. Dirinya bukan independent yeoja seperti yang ia perlihatkan selama ini.

Seoyeon membencinya. Ia benci ketika mengetahui ada orang lain yang memergoki sisi buruknya. Seoyeon berharap bisa menghapus detik-detik tadi dari ingatan Jaewook… agar dirinya bisa kembali menjadi versi kuat yang selalu ia perlihatkan pada dunia.

“Kalau kau sudah agak tenang, aku ingin pulang dulu.” Jaewook bangkit setelah membaca reaksi Seoyeon. “Tadinya aku ingin mengantarkan lukisan. Aku meninggalkannya dibawah. Tapi nanti akan aku taruh didepan pintu apartemenmu.”

“Aku lapar.” Suaranya lirih, namun butuh energi yang begitu besar untuk mengatakannya. “Bisakah kau membuatkanku sesuatu?”

Jaewook mengulum senyum, ia merasa lega akhirnya yeoja itu mengatakan sesuatu yang ingin ia dengar. Dalam waktu seperti sekarang, Jaewook sangat ingin berguna untuk Seoyeon. Tapi ia tahu dirinya memiliki batasan untuk membantu yeoja itu.

 “Tunggu sebentar, biar aku cek isi kulkasmu.”

Kontras dengan apartemen Jaewook yang rapi dan bersih, apartemen milik Seoyeon tampak berantakan. Di tempat cucian piring bahkan Jaewook masih bisa menemukan menu terakhir yang yeoja itu makan. Banyak gelas-gelas berdiri dengan sisa air yang tinggal setengah, di ruang tamu bahkan beberapa cardingan dan outer bergelantungan disamping sofa.

Jaewook tau ia tidak boleh memindahkan barang orang lain sembarangan, tapi setidaknya area dapur akan ia bersihkan.

Dimulai dari mengecek isi kulkas, Jaewook merasa telah menemukan harta karun yang dibungkus rapi dengan toples toples berlabel merah. Ada berbagai macam banchan dan lauk-lauk yang sangat praktis tinggal dipanaskan. Betapa beruntungnya Seoyeon bisa menikmati makanan ‘mahal’ yang bahkan tidak bisa dihitung dengan uang ini.

Sambil memasak, secara multitasking Jaewook bolak balik mencuci semua peralatan dapur yang kotor, menata isi kulkas, mengelap semua area hingga bersih dan bahkan sempat membuang tumpukan sampah ke lantai bawah.

Saat itu juga tanpa sengaja Jaewook menemukan beberapa botol berisi obat ketika ia membuka lemari dapur untuk mencari bumbu. Jaewook tidak menyentuhnya, tapi ia tahu salah satunya punya kemasan yang sama persis untuk mengobati panic attack Seoyeon tadi.

Hanya memandangnya saja sudah membuat Jaewook iba. Kehidupan seperti apa yang Seoyeon jalani hingga ia terpaksa bertahan dengan obat sebanyak itu? Jaewook tak sanggup membayangkan begitu besar trauma yang pernah ditorehkan Junhyeok, sampai Seoyeon harus hidup sambil menahan nyeri yang tak pernah benar-benar reda.

Meski sedikit memakan waktu, namun penantian Seoyeon tidak berakhir sia-sia saat sebuah kimchi jjigae dengan begitu banyak banchan mendarat di meja apartemennya. Tidak sabar yeoja itu mengulurkan mangkuknya minta diisi, rupanya dia memang sudah benar-benar lapar.

“Wah.. gila. Kimchi ini enak sekali.” Jaewook berseru begitu kuah kimchi jiggae itu menyentuh ujung lidahnya. Ia sampai tidak percaya bisa menemukan kimchi yang sudah lama difermentasi dalam kulkas milik Seoyeon.

“Ummaku yang membuatnya.” Jawab Seoyeon sambil ikut menyendok makanan itu. “Setiap kali aku pulang kerumah, umma selalu membawakan banyak sekali banchan. Padahal sudah kubilang kalau lauk yang ia bawakan sebelumnya masih banyak di kulkas.”

Jaewook tertawa iri.

“Lagipula aku jarang makan dirumah.” Lanjutnya. “Pagi hari aku tidak sarapan. Siang aku makan di kantor. Dan malam aku sering lembur. Mana sempat aku memasak? Tapi umma tetap saja bersikeras untuk membawakan semuanya. Umma bilang ini lauk lebihan dari warung.”

Yeoja itu terus berseloroh sambil makan. Ia tidak sadar kalau namja yang duduk didepannya diam-diam mengamati Seoyeon dengan teliti. Ini pertamakalinya Jaewook melihat Seoyeon bercerita sebanyak ini, seakan-akan mereka berdua adalah orang yang sudah lama saling kenal.

“Ummaku berjualan mandu guksu di pesisir pantai Boryeong. Orang-orang mengatakan banchan yang ia buat sangat enak sampai ia juga menjualnya secara terpisah.” Lanjut Seoyeon sambil terus menjejalkan makanan ke mulutnya.

“Apa kau mau?”

“Eo?”

“Jika kau mau, kau bisa membawanya.”

Mata Jaewook melebar. Ia tampak senang. “Gomawoyo nuna.”

…Nuna?

Panggilan spontan itu membuat keduanya sama-sama terkejut karena muncul di situasi yang tidak mereka kira. Tapi kemudian sudut bibir itu mengulum senyum, ia membalas tatapan sosok yang ada didepannya.

Tampaknya sosok itu memang sudah berhasil membuatnya nyaman.

***

Hujan deras menyambut Seoyeon begitu ia turun dari bus kota. Sepatunya basah terkena cipratan air. Sebagai seorang pemilik MBTI akhiran P, membawa payung saat pergantian dari musim semi ke musim panas merupakan hal yang tidak pernah ia pikirkan.

Seoyeon bingung bagaimana caranya pergi ke apartemen dari tempat ini. Tampaknya ia tak punya pilihan lain selain menunggu hujan sedikit reda.

“Nuna!”

Suara itu menarik perhatian Seoyeon. Ia tersenyum saat menemukan darimana asalnya.

“Aku datang disaat yang tepat kan?”

Jaewook begitu gembira berlarian ke arah Seoyeon. Masih dengan kemeja jeans berlapis celemek yang menggantung di bahu, sepatu sneakers yang basah dan rambut yang sedikit acak-acakan, namja itu tampak terburu-buru menghampiri nuna favoritenya.

“Ayo kita pulang.” Ia mengapit bahu Seoyeon dari samping, kemudian mengajak yeoja itu berjalan pelan membelah hujan.

“Kau pulang kerja?” tanya Seoyeon penasaran dengan penampilan baru yang belum pernah dilihatnya.

Jaewook mengangguk. “Aku sekarang bekerja di restoran daging. Tadi aku terburu-buru kesini saat tahu hujan turun. Pasti nuna lupa membawa payung.” Tebakannya benar.

Begitu sampai apartemen, Seoyeon baru menyadari sebelah bahu milik Jaewook basah. Rupanya namja itu membiarkan dirinya terkena hujan agar payung bisa menahan Seoyeon tetap kering. Hal yang sama juga terjadi pada celana dan sepatunya. Totally mess.

“Kau bisa memakai ini dulu.” Seoyeon mengulurkan hoodie yang ia ambil dari lemari. Ini satu-satunya pakaian yang paling besar yang Seoyeon miliki. Sayangnya tak ada satupun celana yang mungkin muat dipakai oleh namja itu.

Dengan lembut Seoyeon juga mencoba melepas kacamata milik Jaewook. Mengelapnya dengan tisu agar embun dingin diluar tidak mengaburkan pandangannya. Tapi tanpa sadar gerakan itu membuat Jaewook mematung, ada dentuman yang tiba-tiba menggema keras dalam jantungnya.

Saat itu juga dering ponsel menyita perhatian mereka berdua. Seoyeon terkejut, buru-buru merogoh tasnya dan menempelkannya ke telinga.

“Yeoboseyo?”

Sebuah percakapan singkat terdengar setelahnya. Namun perlahan-lahan raut wajah Seoyeon berubah. Jaewook ikut menegang saat ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres disana.

“Jam berapa sekarang?” Seoyeon menutup telpon dengan tangan gemetar.

“Sembilan lebih tiga belas menit.”

Yeoja itu langsung bangkit meraih cardigan yang ia sampirkan di sandaran sofa.

“Mau kemana?”

“Boryeong.”

Jaewook menahan pergelangan tangan Seoyeon, nafasnya ikut terhenti. “Apa terjadi sesuatu?” nada khawatirnya tidak bisa disembunyikan.

“Mereka bilang…” Kata-kata itu nyaris tak terdengar. “…ibuku sakit.” Wajahnya memucat, tatapannya kosong seperti kehilangan pijakan.

Jaewook tidak perlu mendengar lebih banyak. Ia langsung menyambar hoodie yang sempat dipinjamkan, menyampirkannya ke tubuhnya sendiri, lalu mengenakan sepatu yang masih basah.

“Biar kuantarkan.”

-To Be Continue-


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...