Tittle : Unveil [Part 4]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
“Sedang apa kau disini? Apa kalian
berpacaran?”
“Iya! Kami berdua berpacaran.” Suara itu
pecah begitu saja dari balik bahu Jaewook. Bergetar, tapi cukup tegas. Seoyeon masih menyembunyikan badannya disana
dengan tangan yang menopang pada lengan namja itu.
Baik Jaewook maupun Junhyeok
sama-sama terperangah. Hanya saja, Jaewook tidak ingin sedikit pun kepanikan
Seoyeon terbaca oleh laki-laki itu. Maka ia melangkah setengah maju, tubuhnya
tegak, membangun jarak baru.
Dengan yakin, Jaewook meraih tangan
Seoyeon. Genggamannya hangat dan tidak goyah. Gerakan sederhana itu saja sudah
cukup untuk membuat Junhyeok tersentak, rahangnya mengeras.
“Mulai sekarang,” Jaewook menatap
lurus, suaranya berat namun tenang, “Tolong jangan ganggu pacarku lagi.”
Junhyeok semakin kesal. Enggan berlama-lama
berurusan dengan mereka berdua, namja itupun pergi meninggalkannya.
“Seoyeon-ssi, gwenchana?!?” Jaewook menghambur
ke arah Seoyeon khawatir.
Saat itulah pertahanan Seoyeon hancur.
Sekuat tenaga ia sudah menyembunyikan rasa sakitnya, ternyata kini ledakan itu
tak sanggup lagi ia kendalikan.
Napasnya terputus-putus, hanya udara
dangkal yang lewat di tenggorokan. Ujung jarinya mati rasa, gemetar. Keringat
dingin mulai muncul di pelipis, sementara pandangannya mengabur.
“Jaewook ssi-” ucap Seoyeon tertahan. Tubuhnya
tidak tahu lagi bagaimana caranya meminta tolong.
Dengan cepat Jaewook menahan tubuh Seoyeon
yang hampir ambruk. Ia langsung menggendong yeoja itu memasuki lift. Beruntung
Seoyeon masih bisa menyebutkan nomor apartemen beserta passwordnya, jika tidak,
mungkin Jaewook harus membawa yeoja itu ke rumah sakit.
“Gwenchana?” tanya Jaewook setelah memastikan
Seoyeon telah kembali kepada kesadarannya.
Seoyeon mengangguk. Ia duduk di atas sofa
sementara Jaewook duduk dilantai, dengan sopan memberi jarak agar Seoyeon tidak
merasa sesak. Disampingnya sudah berserakan isi tas Seoyeon karena Jaewook mencari
obat serta inhaler untuk mengobati panik attack yeoja itu.
Meskipun sangat khawatir, Jaewook tetap
bergerak tenang, tidak membebani dan memberi ruang untuk Seoyeon memproses rasa
sakitnya.
Namun perhatian Seoyeon justru tersita pada
hal lain, sejak tadi jemari namja itu terus mengetuk lututnya dengan ritme yang
beraturan. Seolah membangun tempo baru untuk napas Seoyeon. Ketukan tangan
Jaewook tanpa sadar membuat Seoyeon mengikuti ritme itu hingga berangsur tenang.
Yang terasa hanya satu: Jaewook. Suaranya.
Ritmenya.
Entah kenapa Jaewook merasa kejadian malam
ini seperti déjà vu. Bukan pertamakalinya ia mendapati panick attack
Seoyeon kambuh seperti sekarang.
Sama persis seperti yang Junhyeok katakan,
Jaewook memang hadir di malam itu. Malam dimana Seoyeon dan Junhyeok bertengkar
hebat sepulang mereka kerja. Suasana yang sepi di musim dingin dengan cepat
membuat suara Junhyeok bergema di jalanan, membuat Jaewook yang tak sengaja
lewat terpaksa menghentikan langkahnya untuk mengamati dari kejauhan.
Nada bicara Junhyeok yang agresif, nyaris
menenggelamkan suara Seoyeon ketika ia mencoba menjawab. Tapi kemudian Jaewook
harus mencampuri urusan orang lain saat dengan jelas ia melihat namja itu
melakukan sesuatu diluar batas.
Jaewook hanya tidak menyangka, bahwa
setelah itu Seoyeon pindah ke area tempat ia bekerja paruh waktu dan terlibat
beberapa kejadian sampai akhirnya takdir membawa mereka berdua disini sekarang.
“Apa ada yang kau butuhkan? Apa kau ingin
aku mengambilkan sesuatu?”
Seoyeon menggeleng, lalu meletakan gelas
yang sejak tadi ia pegang.
“Atau…” Jaewook tampak ragu mengatakannya. “Kau
butuh waktu untuk sendiri?”
Seoyeon terdiam mendengar pertanyaan itu.
Selama ini ia memang selalu menyembunyikannya, berharap tidak ada siapapun yang
mengetahui sisi rapuhnya. Seoyeon sakit. Ia lemah. Dirinya bukan independent
yeoja seperti yang ia perlihatkan selama ini.
Seoyeon membencinya. Ia benci ketika
mengetahui ada orang lain yang memergoki sisi buruknya. Seoyeon berharap bisa
menghapus detik-detik tadi dari ingatan Jaewook… agar dirinya bisa kembali
menjadi versi kuat yang selalu ia perlihatkan pada dunia.
“Kalau kau sudah agak tenang, aku ingin
pulang dulu.” Jaewook bangkit setelah membaca reaksi Seoyeon. “Tadinya aku
ingin mengantarkan lukisan. Aku meninggalkannya dibawah. Tapi nanti akan aku
taruh didepan pintu apartemenmu.”
“Aku lapar.” Suaranya lirih, namun butuh
energi yang begitu besar untuk mengatakannya. “Bisakah kau membuatkanku
sesuatu?”
Jaewook mengulum senyum, ia merasa lega
akhirnya yeoja itu mengatakan sesuatu yang ingin ia dengar. Dalam waktu seperti
sekarang, Jaewook sangat ingin berguna untuk Seoyeon. Tapi ia tahu dirinya
memiliki batasan untuk membantu yeoja itu.
“Tunggu sebentar, biar aku cek isi kulkasmu.”
Kontras dengan apartemen Jaewook yang rapi
dan bersih, apartemen milik Seoyeon tampak berantakan. Di tempat cucian piring
bahkan Jaewook masih bisa menemukan menu terakhir yang yeoja itu makan. Banyak
gelas-gelas berdiri dengan sisa air yang tinggal setengah, di ruang tamu bahkan
beberapa cardingan dan outer bergelantungan disamping sofa.
Jaewook tau ia tidak boleh memindahkan
barang orang lain sembarangan, tapi setidaknya area dapur akan ia bersihkan.
Dimulai dari mengecek isi kulkas, Jaewook
merasa telah menemukan harta karun yang dibungkus rapi dengan toples toples
berlabel merah. Ada berbagai macam banchan dan lauk-lauk yang sangat praktis
tinggal dipanaskan. Betapa beruntungnya Seoyeon bisa menikmati makanan ‘mahal’
yang bahkan tidak bisa dihitung dengan uang ini.
Sambil memasak, secara multitasking
Jaewook bolak balik mencuci semua peralatan dapur yang kotor, menata isi
kulkas, mengelap semua area hingga bersih dan bahkan sempat membuang tumpukan
sampah ke lantai bawah.
Saat itu juga tanpa sengaja Jaewook
menemukan beberapa botol berisi obat ketika ia membuka lemari dapur untuk
mencari bumbu. Jaewook tidak menyentuhnya, tapi ia tahu salah satunya punya
kemasan yang sama persis untuk mengobati panic attack Seoyeon tadi.
Hanya memandangnya saja sudah membuat
Jaewook iba. Kehidupan seperti apa yang Seoyeon jalani hingga ia terpaksa
bertahan dengan obat sebanyak itu? Jaewook tak sanggup
membayangkan begitu besar trauma yang pernah ditorehkan Junhyeok, sampai
Seoyeon harus hidup sambil menahan nyeri yang tak pernah benar-benar reda.
Meski sedikit memakan waktu, namun
penantian Seoyeon tidak berakhir sia-sia saat sebuah kimchi jjigae
dengan begitu banyak banchan mendarat di meja apartemennya. Tidak sabar yeoja
itu mengulurkan mangkuknya minta diisi, rupanya dia memang sudah benar-benar
lapar.
“Wah.. gila. Kimchi ini enak sekali.”
Jaewook berseru begitu kuah kimchi jiggae itu menyentuh ujung lidahnya. Ia
sampai tidak percaya bisa menemukan kimchi yang sudah lama difermentasi dalam
kulkas milik Seoyeon.
“Ummaku yang membuatnya.” Jawab Seoyeon
sambil ikut menyendok makanan itu. “Setiap kali aku pulang kerumah, umma selalu
membawakan banyak sekali banchan. Padahal sudah kubilang kalau lauk yang
ia bawakan sebelumnya masih banyak di kulkas.”
Jaewook tertawa iri.
“Lagipula aku jarang makan dirumah.”
Lanjutnya. “Pagi hari aku tidak sarapan. Siang aku makan di kantor. Dan malam
aku sering lembur. Mana sempat aku memasak? Tapi umma tetap saja bersikeras
untuk membawakan semuanya. Umma bilang ini lauk lebihan dari warung.”
Yeoja itu terus berseloroh sambil makan. Ia
tidak sadar kalau namja yang duduk didepannya diam-diam mengamati Seoyeon
dengan teliti. Ini pertamakalinya Jaewook melihat Seoyeon bercerita sebanyak
ini, seakan-akan mereka berdua adalah orang yang sudah lama saling kenal.
“Ummaku berjualan mandu guksu di
pesisir pantai Boryeong. Orang-orang mengatakan banchan yang ia buat
sangat enak sampai ia juga menjualnya secara terpisah.” Lanjut Seoyeon sambil
terus menjejalkan makanan ke mulutnya.
“Apa kau mau?”
“Eo?”
“Jika kau mau, kau bisa membawanya.”
Mata Jaewook melebar. Ia tampak senang. “Gomawoyo
nuna.”
…Nuna?
Panggilan spontan itu membuat keduanya
sama-sama terkejut karena muncul di situasi yang tidak mereka kira. Tapi
kemudian sudut bibir itu mengulum senyum, ia membalas tatapan sosok yang ada
didepannya.
Tampaknya sosok itu memang sudah berhasil
membuatnya nyaman.
***
Hujan deras menyambut Seoyeon begitu ia
turun dari bus kota. Sepatunya basah terkena cipratan air. Sebagai seorang
pemilik MBTI akhiran P, membawa payung saat pergantian dari musim semi ke musim
panas merupakan hal yang tidak pernah ia pikirkan.
Seoyeon bingung bagaimana caranya pergi ke
apartemen dari tempat ini. Tampaknya ia tak punya pilihan lain selain menunggu
hujan sedikit reda.
“Nuna!”
Suara itu menarik perhatian Seoyeon. Ia
tersenyum saat menemukan darimana asalnya.
“Aku datang disaat yang tepat kan?”
Jaewook begitu gembira berlarian ke arah
Seoyeon. Masih dengan kemeja jeans berlapis celemek yang menggantung di bahu,
sepatu sneakers yang basah dan rambut yang sedikit acak-acakan, namja itu
tampak terburu-buru menghampiri nuna favoritenya.
“Ayo kita pulang.” Ia mengapit bahu Seoyeon
dari samping, kemudian mengajak yeoja itu berjalan pelan membelah hujan.
“Kau pulang kerja?” tanya Seoyeon penasaran
dengan penampilan baru yang belum pernah dilihatnya.
Jaewook mengangguk. “Aku sekarang bekerja
di restoran daging. Tadi aku terburu-buru kesini saat tahu hujan turun. Pasti
nuna lupa membawa payung.” Tebakannya benar.
Begitu sampai apartemen, Seoyeon baru
menyadari sebelah bahu milik Jaewook basah. Rupanya namja itu membiarkan
dirinya terkena hujan agar payung bisa menahan Seoyeon tetap kering. Hal yang
sama juga terjadi pada celana dan sepatunya. Totally mess.
“Kau bisa memakai ini dulu.” Seoyeon
mengulurkan hoodie yang ia ambil dari lemari. Ini satu-satunya pakaian yang
paling besar yang Seoyeon miliki. Sayangnya tak ada satupun celana yang mungkin
muat dipakai oleh namja itu.
Dengan lembut Seoyeon juga mencoba melepas
kacamata milik Jaewook. Mengelapnya dengan tisu agar embun dingin diluar tidak
mengaburkan pandangannya. Tapi tanpa sadar gerakan itu membuat Jaewook
mematung, ada dentuman yang tiba-tiba menggema keras dalam jantungnya.
Saat itu juga dering ponsel menyita
perhatian mereka berdua. Seoyeon terkejut, buru-buru merogoh tasnya dan
menempelkannya ke telinga.
“Yeoboseyo?”
Sebuah percakapan singkat terdengar
setelahnya. Namun perlahan-lahan raut wajah Seoyeon berubah. Jaewook ikut
menegang saat ia menyadari ada sesuatu yang tidak beres disana.
“Jam berapa sekarang?” Seoyeon menutup
telpon dengan tangan gemetar.
“Sembilan lebih tiga belas menit.”
Yeoja itu langsung bangkit meraih cardigan
yang ia sampirkan di sandaran sofa.
“Mau kemana?”
“Boryeong.”
Jaewook menahan pergelangan tangan Seoyeon,
nafasnya ikut terhenti. “Apa terjadi sesuatu?” nada khawatirnya tidak bisa
disembunyikan.
“Mereka bilang…” Kata-kata itu nyaris tak
terdengar. “…ibuku sakit.” Wajahnya memucat, tatapannya kosong
seperti kehilangan pijakan.
Jaewook tidak perlu mendengar lebih banyak.
Ia langsung menyambar hoodie yang sempat dipinjamkan, menyampirkannya ke
tubuhnya sendiri, lalu mengenakan sepatu yang masih basah.
“Biar kuantarkan.”
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment