Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 9]


Tittle                    : Unveil [Part 9]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Sebuah berkas dengan sampul berlogo Hanwool menjadi bekal Seoyeon untuk mendatangi sebuah perusahaan yang berlokasi di Yeouido, distric yang sangat terkenal sebagai wall street nya korea. Dari kejauhan berjajar gedung-gedung tinggi yang berhadapan langsung dengan sungai Han. Seoyeon bisa membayangkan pemandangan para karyawan gedung-gedung itu pasti sangat indah setiap hari.

Kabar dari rekan kerja Seoyeon tentang Junhyeok ternyata benar adanya. Seoyeon yang dipilih untuk menggantikan pun juga benar adanya. Namun ia bukan salah satunya. Melainkan satu-satunya.

Secara khusus presdir Hanwool menunjuk Seoyeon untuk menjadi Product Director perusahaan itu, tempat dimana Junhyeok menjabat sebelumnya. Namun ketika ia sampai di gedung Hanwool, bukannya diminta menghadap ke HRD, Seoyeon justru diarahkan masuk ke dalam ballroom. Tempat dimana para inverstor dan petinggi perusahaan berkumpul, untuk menyambut sesuatu.

Suasana di sekelilingnya terasa asing. Orang-orang dengan jabatan tinggi berlalu-lalang dalam balutan barang branded, diselingi obrolan rumit yang tak mampu ia imbangi. Masing-masing dari mereka berdiri dengan kubu-kubu. Tak satupun kelompok yang Seoyeon berani dekati.

Seoyeon menelan ludah. Ia tak percaya dirinya terjebak di tempat ini.

Saat itu pula iringan riuh kompak menyambut seorang wanita usia 40-an yang keluar dari belakang panggung. Dress simple dengan blazer berwarna earth tone membuat penampilannya begitu elegan. Meskipun Seoyeon yakin usia asli wanita ini lebih tua daripada perkiraannya, namun aura mahal yang beliau pancarkan begitu ketara.

“Terimakasih kepada rekan-rekan atas sambutannya. Saya Lee Misun, yang beberapa bulan menjabat menjadi presiden direktur di perusahaan ini.” Ucapnya sambil tersenyum. Disusul tepuk tangan yang kembali terdengar.

‘Ah… rupanya orang ini yang memiliki Hanwool.’ Batin Seoyeon.

“Semenjak suami saya meninggal, saya sedikit khawatir dengan keadaan perusahaan. Untuk itu saya sangat berterimakasih kepada rekan yang membantu saya selama menjabat sebagai presdir sementara…”

Seoyeon mengerutkan alisnya. Tapi kenapa orang ini terasa tidak asing?

“…Hari ini akhirnya saya bisa mengumumkan bahwa jabatan saya akan diambil alih oleh satu-satunya putra tunggal kami. Mohon tepuk tangannya…”

DEG!

Tepat saat itu seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap melangkah ke tengah panggung. Setelan jas hitam membingkai sosoknya dengan rapi, memancarkan wibawa yang sulit diabaikan. Rambutnya tertata sempurna, kacamata baru bertengger di wajah yang kini tampak asing sekaligus terlalu dikenalnya.

Meski penampilannya berubah, tak satu pun detail itu mampu menghapus ingatannya.

Lee Jaewook. Namja yang barusan disebut presdir sebagai anak satu-satunya itu Lee…Jae…Wook.

Seoyeon tersentak, dadanya bergemuruh. Tangannya reflek menutup mulut karena ia terperangah tidak percaya.

Seorang Jaewook yang ia kenal sebagai laki-laki pekerja serabutan ternyata anak tunggal presdir dari perusahaan tempat ia bekerja sama. Laki-laki yang Seoyeon kenal selalu hidup sederhana karena memiliki hutang. Yang tampil apa adanya serta rela begadang semalaman untuk bekerja. Yang pernah datang dalam hidup Seoyeon tanpa aba-aba.  Lalu pergi tanpa permisi.

Laki-laki itu… sosok yang tengah berdiri diatas panggung. Berbalutkan pakaian mahal dan jam tangan merk terkenal dengan bahu yang besar menahan ujung tombak perusahaan.

Yang kini tanpa sengaja menangkap mata Seoyeon yang nanar.

Kata-katanya terhenti. Jaewook tercekat, menyadari kilau tipis di ujung mata yeoja yang berdiri ditengah kerumunan. Bibir keduanya tak bersuara, tapi tatapan mereka berbicara banyak.

Jaewook hampir saja meninggalkan panggung saat menyadari Seoyeon membalik badannya dan pergi, tapi bodyguard menahan tubuh Jaewook untuk tetap disana.

Tangis Seoyeon pecah. Tubuhnya bergetar menahan sesak yang meluap dalam dadanya.  Ia mencoba bernapas, namun setiap tarikan terasa sia-sia.

Kini teka-teki itu terjawab sudah. Bukan karena ia akhirnya tahu siapa Jaewook sebenarnya. Melainkan karena ia sadar, selama ini ia mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar ia miliki.

“Kang Seoyeon-ssi.” Sebuah suara menghentikan langkah Seoyeon menjauhi ballroom. “Ada yang ingin bertemu denganmu.”

Seoyeon menghapus air matanya sembarangan, lalu dengan langkah yang goyah ia mengikuti seseorang yang berjalan lebih dulu didepannya.

Sebuah ruangan lain berpintu kayu yang cukup besar terbuka saat Seoyeon datang. Di ujungnya terlihat meja kerja dengan name plate Lee Misun – Sajangnim (presdir) yang Seoyeon duga adalah milik wanita tadi. Yaitu umma Jaewook.

Seoyeon dipersilakan duduk di sofa hitam tengah ruangan, dengan meja yang menjadi sekat antara sofa melingkar itu. Dari posisinya, sebuah foto keluarga terpajang jelas menampilkan ayah, ibu, dan Jaewook dalam satu bingkai.

Sekali lagi kenyataan menjatuhkan tamparannya pada Seoyeon.

“Terimakasih sudah menunggu.”

Seoyeon berdiri lalu membungkuk saat orang yang ia tunggu datang. Wanita itu lalu mempersilakan Seoyeon kembali duduk di sofa seberang miliknya.

“Lama tidak berjumpa, Seoyeon-ssi.”

Ternyata dugaan Seoyeon benar, ia pernah bertemu wanita ini sebelumnya. Bukan sebagai presdir, tapi sebagai Head Of Development Hanwool. Saat itu Seoyeon merasa Junhyeok mempermainkannya dengan menolak seluruh proposal buatannya. Oleh karena itu Seoyeon berinisiatif menemui Head Of Development Hanwool untuk meminta persetujuan langsung.

Dan orang yang ia temui saat itu adalah Lee Misun.

“Aku tidak bermaksud membohongimu, Seoyeon-ssi. Lagipula mulai hari ini aku akan menjadi Head Of Development karena jabatanku sudah digantikan dengan Jaewook.”

Seoyeon menunduk, tidak berani menjawab.

“Sebelumnya aku ingin berterimakasih kepadamu Seoyeon-ssi, karena sudah membawa Jaewook kembali.” Ia tersenyum, meninggalkan tanda tanya besar bagi Seoyeon.

“Aku sudah melakukan berbagai cara untuk membuatnya pulang, tapi Jaewook tetap saja menolak untuk hidup bersama kami.” Jelas Lee Misun. “Bahkan setelah ayahnya meninggal, Jaewook tetap tidak merubah keputusannya.”

Umma Jaewook menghela nafas, “Sampai akhirnya ada kau, Kang Seoyeon. Selama ini aku selalu memperhatikan kalian semua. Antara kau, Jaewook dan… Junhyeok. Ternyata kali ini usahaku berhasil.”

Seoyeon mengerutkan alisnya. ‘Apa maksud perkataan itu?’

“Awalnya Jaewook tidak percaya padaku.” Umma Jaewook tertawa. “Sampai akhirnya… ia setuju untuk kembali.”

Mata Seoyeon menyipit, memproses kata-kata itu. Jangan-jangan umma Jaewook sengaja menciptakan semua ini. Dengan membuat situasi tidak nyaman pada Seoyeon melalui trauma masa lalunya, yaitu Junhyeok. Karena Junhyeok berada dibawah Hanwool yang tengah bekerja sama dengan Luminate, otomatis Junhyeok akan selalu berada disekitar Seoyeon.

Junhyeok sebagai senjata, pisau bermata dua. Yang bisa membunuh Seoyeon maupun Jaewook sekaligus. Satu-satunya cara untuk memusnahkannya hanyalah dengan kekuasaan yang dimiliki Presdir.

Dan benar, ketika Jaewook setuju untuk kembali, Junhyeok pun dipecat. Saat itu pula ia menghilang dari lingkaran Seoyeon. Yang otomatis membuat Seoyeon aman.

Tapi… Jaewook?

“Presdir sengaja melakukan ini untuk Jaewook?” Seoyeon memberanikan diri untuk bertanya, setelah kesimpulan besar dapat ia ambil.

“Yeoksi kau bisa membaca kemana arah pembicaraanku.” Senyum tipis menghiasi wajah wanita itu. “Dan aku mengundangmu kesini untuk menemaninya. Bukankah ini happy ending?” lanjutnya membahas tawaran pekerjaan untuk Seoyeon.

Ekspresi Seoyeon berubah. Ia speechless. Bisa-bisanya beliau menilai ini happy ending sementara wajah Jaewook diatas panggung tadi begitu muram. Ia seperti dipenjara dengan masa tahanan seumur hidup.

“Apakah presdir tahu apa mimpi Jaewook?”

Tch! Umma Jaewook mencibir. “Untuk apa berbicara tentang mimpi jika semua yang Jaewook inginkan bisa ia miliki di tempat ini?”

Seoyeon menghela nafas panjang sebelum berujar dengan yakin. “Ia ingin menjadi seorang pelukis.” Ucapnya kemudian.

“…Jaewook tetap tersenyum meskipun ia memiliki hutang. Ia tetap tersenyum meskipun bekerja serabutan, tetap tersenyum meskipun tinggal di apartemen kecil, dan tetap tersenyum meskipun direndahkan sebagai seorang pelayan…”

Kata-kata Seoyeon terhenti, ia berusaha untuk tidak menangis. “…dengan kondisi sulit seperti itu Jaewook tetap tersenyum karena ia tahu ia masih bisa menyelesaikan goresan terakhir di kanvasnya. Tapi tidak dengan hari ini…” nafas Seoyeon tersengal. “Senyuman itu hilang. Wajahnya tampak mendung tanpa cahaya. Apa presdir menyadarinya?”

Kali ini gantian umma Jaewook yang terdiam. Ada guratan luka yang tidak bisa Seoyeon artikan.

“Terimakasih atas tawaran hari ini, Presdir. Saya merasa terhormat mendapatkannya.” Jawab Seoyeon meletakkan map berlogo Hanwool di atas meja. “…Tapi maaf, saya tidak bisa melakukannya.”

Yeoja itu membungkuk sopan, lalu berjalan meninggalkan umma Jaewook yang masih terduduk tanpa merubah posisi.

Tapi tepat ketika Seoyeon membuka pintu, didepan nya berdiri seseorang yang mereka bicarakan sejak tadi.

Laki-laki itu menunduk, badannya tak bertenaga. Ia terdiam tidak berani membalas tatapan Seoyeon. Air matanya mengalir deras hingga ujung dagunya terlihat tetesan yang hampir jatuh. Suaranya begitu serak tapi ia berusaha berbicara.

“Mianhe…”

Saat itulah pertahanan Seoyeon runtuh. Sejak tadi ia masih berusaha tegar di hadapan Lee Misun. Menyembunyikan retakan dengan sikap tenang yang dipaksakan. Namun namja ini berbeda.

Ada satu tombol yang tanpa sengaja Jaewook tekan. Yang sekali disentuh membuat seluruh pertahanan Seoyeon runtuh. Dan seketika, semua yang selama ini ia jaga hancur tanpa sisa.

Hati Seoyeon terasa begitu sakit melihat kondisi Jaewook yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Sosok yang selama ini ia kenal tenang dan terkendali kini tampak rapuh, seolah memikul beban yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Ia tahu Jaewook melakukan ini untuknya, mengorbankan diri kembali ke tempat yang paling ia benci demi menyingkirkan Junhyeok. Agar Junhyeok tidak menyakiti Seoyeon lagi. Agar trauma Seoyeon tidak kambuh lagi. Agar Seoyeon bisa bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu kelamnya.

Tapi satu hal yang tidak Jaewook ketahui, bahwa kebahagiaan Seoyeon bukanlah dengan menghapus masa lalunya. Tapi justru dengan menghadapi masa lalu itu… bersamanya.

Yang Seoyeon butuhkan sekarang bukanlah Junhyeok yang pergi darinya. Tapi Seoyeon membutuhkan Jaewook tetap berada disisinya, apapun keadaannya. Seoyeon tidak peduli Junhyeok menamparnya kembali, atau mempersulit pekerjaanya. Asal bersama Jaewook semuanya akan baik-baik saja.

Asal Jaewook di sisinya, Seoyeon akan baik-baik saja.

Tapi sayang Jaewook memilih untuk pergi. Meninggalkan Seoyeon sendirian. Seoyeon dipaksa kembali menyembuhkan luka baru yang bahkan belum sempat ia pahami asalnya.

Seoyeon mungkin pernah mendapatkan rasa sakit di masa lalu. Namun kali ini berbeda. Kali ini ia jauh lebih berantakan.

Pikirannya kacau. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan itu, tidak ada logika yang mampu menenangkannya.

Ia hanya tahu satu hal, keputusan yang diambil Jaewook telah melampaui kendalinya. Bukan sesuatu yang bisa ia tahan dengan kesabaran. Keputusan itu berdiri sendiri, dingin dan tegas. Meninggalkan Seoyeon sebagai satu-satunya pihak yang harus menanggung sisanya.

Setiap keputusan memang memiliki konsekuensinya sendiri. Dan untuk saat ini, konsekuensi itu terlalu berat untuk Seoyeon hadapi sambil tetap tinggal. Lagipula jika Seoyeon menerima tawaran itu, Jaewook akan tetap terpenjara di tempat ini. Tak ada bedanya.

Maka satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah pergi. Bukan karena Seoyeon tidak peduli, melainkan karena bertahan hanya akan menghancurkan dirinya lebih jauh.

Seoyeon menghapus air mata di pipi Jaewook pelan. Dadanya terasa sakit, tapi keputusan yang ia ambil sudah bulat.

Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia berbisik di telinga namja itu. “Selamat tinggal… Jaewook-ah…”

Seoyeon lalu berjalan melewati Jaewook. Tangisnya pecah. Setiap langkah terasa berat, seakan kakinya ditarik oleh kenangan yang enggan dilepaskan.

Namun yeoja itu tetap pergi meninggalkan Jaewook di sana. Bersama air mata, penyesalan, dan jarak yang kini semakin jauh.

-To Be Continue-

 


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...