Tittle : Unveil [Part 9]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Sebuah berkas dengan sampul berlogo Hanwool
menjadi bekal Seoyeon untuk mendatangi sebuah perusahaan yang berlokasi di
Yeouido, distric yang sangat terkenal sebagai wall street nya
korea. Dari kejauhan berjajar gedung-gedung tinggi yang berhadapan langsung
dengan sungai Han. Seoyeon bisa membayangkan pemandangan para karyawan gedung-gedung
itu pasti sangat indah setiap hari.
Kabar dari rekan kerja Seoyeon tentang
Junhyeok ternyata benar adanya. Seoyeon yang dipilih untuk menggantikan pun
juga benar adanya. Namun ia bukan salah satunya. Melainkan satu-satunya.
Secara khusus presdir Hanwool menunjuk
Seoyeon untuk menjadi Product Director perusahaan itu, tempat dimana
Junhyeok menjabat sebelumnya. Namun ketika ia sampai di gedung Hanwool,
bukannya diminta menghadap ke HRD, Seoyeon justru diarahkan masuk ke dalam ballroom.
Tempat dimana para inverstor dan petinggi perusahaan berkumpul, untuk menyambut
sesuatu.
Suasana di sekelilingnya terasa asing. Orang-orang
dengan jabatan tinggi berlalu-lalang dalam balutan barang branded,
diselingi obrolan rumit yang tak mampu ia imbangi. Masing-masing dari mereka
berdiri dengan kubu-kubu. Tak satupun kelompok yang Seoyeon berani dekati.
Seoyeon menelan ludah. Ia tak percaya
dirinya terjebak di tempat ini.
Saat itu pula iringan riuh kompak menyambut
seorang wanita usia 40-an yang keluar dari belakang panggung. Dress simple
dengan blazer berwarna earth tone membuat penampilannya begitu elegan.
Meskipun Seoyeon yakin usia asli wanita ini lebih tua daripada perkiraannya, namun
aura mahal yang beliau pancarkan begitu ketara.
“Terimakasih kepada rekan-rekan atas
sambutannya. Saya Lee Misun, yang beberapa bulan menjabat menjadi presiden
direktur di perusahaan ini.” Ucapnya sambil tersenyum. Disusul tepuk tangan
yang kembali terdengar.
‘Ah… rupanya orang ini yang memiliki
Hanwool.’ Batin Seoyeon.
“Semenjak suami saya meninggal, saya
sedikit khawatir dengan keadaan perusahaan. Untuk itu saya sangat
berterimakasih kepada rekan yang membantu saya selama menjabat sebagai presdir
sementara…”
Seoyeon mengerutkan alisnya. Tapi kenapa
orang ini terasa tidak asing?
“…Hari ini akhirnya saya bisa mengumumkan
bahwa jabatan saya akan diambil alih oleh satu-satunya putra tunggal kami.
Mohon tepuk tangannya…”
DEG!
Tepat saat itu seorang laki-laki bertubuh
tinggi tegap melangkah ke tengah panggung. Setelan jas hitam membingkai
sosoknya dengan rapi, memancarkan wibawa yang sulit diabaikan. Rambutnya
tertata sempurna, kacamata baru bertengger di wajah yang kini tampak asing
sekaligus terlalu dikenalnya.
Meski penampilannya berubah, tak satu pun
detail itu mampu menghapus ingatannya.
Lee Jaewook. Namja yang barusan disebut
presdir sebagai anak satu-satunya itu Lee…Jae…Wook.
Seoyeon tersentak, dadanya bergemuruh.
Tangannya reflek menutup mulut karena ia terperangah tidak percaya.
Seorang Jaewook yang ia kenal sebagai
laki-laki pekerja serabutan ternyata anak tunggal presdir dari perusahaan
tempat ia bekerja sama. Laki-laki yang Seoyeon kenal selalu hidup sederhana
karena memiliki hutang. Yang tampil apa adanya serta rela begadang semalaman
untuk bekerja. Yang pernah datang dalam hidup Seoyeon tanpa aba-aba. Lalu pergi tanpa permisi.
Laki-laki itu… sosok yang tengah berdiri
diatas panggung. Berbalutkan pakaian mahal dan jam tangan merk terkenal dengan
bahu yang besar menahan ujung tombak perusahaan.
Yang kini tanpa sengaja menangkap mata
Seoyeon yang nanar.
Kata-katanya terhenti. Jaewook tercekat,
menyadari kilau tipis di ujung mata yeoja yang berdiri ditengah kerumunan.
Bibir keduanya tak bersuara, tapi tatapan mereka berbicara banyak.
Jaewook hampir saja meninggalkan panggung
saat menyadari Seoyeon membalik badannya dan pergi, tapi bodyguard menahan
tubuh Jaewook untuk tetap disana.
Tangis Seoyeon pecah. Tubuhnya bergetar
menahan sesak yang meluap dalam dadanya. Ia mencoba bernapas, namun setiap tarikan
terasa sia-sia.
Kini teka-teki itu terjawab sudah. Bukan
karena ia akhirnya tahu siapa Jaewook sebenarnya. Melainkan karena ia sadar,
selama ini ia mencintai seseorang yang tak pernah benar-benar ia miliki.
“Kang Seoyeon-ssi.” Sebuah suara menghentikan
langkah Seoyeon menjauhi ballroom. “Ada yang ingin bertemu denganmu.”
Seoyeon menghapus air matanya sembarangan,
lalu dengan langkah yang goyah ia mengikuti seseorang yang berjalan lebih dulu
didepannya.
Sebuah ruangan lain berpintu kayu yang cukup
besar terbuka saat Seoyeon datang. Di ujungnya terlihat meja kerja dengan name
plate Lee Misun – Sajangnim (presdir) yang Seoyeon duga adalah milik
wanita tadi. Yaitu umma Jaewook.
Seoyeon dipersilakan duduk di sofa hitam
tengah ruangan, dengan meja yang menjadi sekat antara sofa melingkar itu. Dari
posisinya, sebuah foto keluarga terpajang jelas menampilkan ayah, ibu, dan
Jaewook dalam satu bingkai.
Sekali lagi kenyataan menjatuhkan
tamparannya pada Seoyeon.
“Terimakasih sudah menunggu.”
Seoyeon berdiri lalu membungkuk saat orang
yang ia tunggu datang. Wanita itu lalu mempersilakan Seoyeon kembali duduk di
sofa seberang miliknya.
“Lama tidak berjumpa, Seoyeon-ssi.”
Ternyata dugaan Seoyeon benar, ia pernah
bertemu wanita ini sebelumnya. Bukan sebagai presdir, tapi sebagai Head Of
Development Hanwool. Saat itu Seoyeon merasa Junhyeok mempermainkannya
dengan menolak seluruh proposal buatannya. Oleh karena itu Seoyeon berinisiatif
menemui Head Of Development Hanwool untuk meminta persetujuan langsung.
Dan orang yang ia temui saat itu adalah Lee
Misun.
“Aku tidak bermaksud membohongimu,
Seoyeon-ssi. Lagipula mulai hari ini aku akan menjadi Head Of Development
karena jabatanku sudah digantikan dengan Jaewook.”
Seoyeon menunduk, tidak berani menjawab.
“Sebelumnya aku ingin berterimakasih
kepadamu Seoyeon-ssi, karena sudah membawa Jaewook kembali.” Ia tersenyum,
meninggalkan tanda tanya besar bagi Seoyeon.
“Aku sudah melakukan berbagai cara untuk
membuatnya pulang, tapi Jaewook tetap saja menolak untuk hidup bersama kami.”
Jelas Lee Misun. “Bahkan setelah ayahnya meninggal, Jaewook tetap tidak merubah
keputusannya.”
Umma Jaewook menghela nafas, “Sampai
akhirnya ada kau, Kang Seoyeon. Selama ini aku selalu memperhatikan kalian
semua. Antara kau, Jaewook dan… Junhyeok. Ternyata kali ini usahaku berhasil.”
Seoyeon mengerutkan alisnya. ‘Apa maksud
perkataan itu?’
“Awalnya Jaewook tidak percaya padaku.”
Umma Jaewook tertawa. “Sampai akhirnya… ia setuju untuk kembali.”
Mata Seoyeon menyipit, memproses kata-kata
itu. Jangan-jangan umma Jaewook sengaja menciptakan semua ini. Dengan membuat situasi
tidak nyaman pada Seoyeon melalui trauma masa lalunya, yaitu Junhyeok. Karena
Junhyeok berada dibawah Hanwool yang tengah bekerja sama dengan Luminate,
otomatis Junhyeok akan selalu berada disekitar Seoyeon.
Junhyeok sebagai senjata, pisau bermata
dua. Yang bisa membunuh Seoyeon maupun Jaewook sekaligus. Satu-satunya cara
untuk memusnahkannya hanyalah dengan kekuasaan yang dimiliki Presdir.
Dan benar, ketika Jaewook setuju untuk
kembali, Junhyeok pun dipecat. Saat itu pula ia menghilang dari lingkaran
Seoyeon. Yang otomatis membuat Seoyeon aman.
Tapi… Jaewook?
“Presdir sengaja melakukan ini untuk
Jaewook?” Seoyeon memberanikan diri untuk bertanya, setelah kesimpulan besar
dapat ia ambil.
“Yeoksi kau bisa membaca kemana arah
pembicaraanku.” Senyum tipis menghiasi wajah wanita itu. “Dan aku mengundangmu
kesini untuk menemaninya. Bukankah ini happy ending?” lanjutnya membahas
tawaran pekerjaan untuk Seoyeon.
Ekspresi Seoyeon berubah. Ia speechless.
Bisa-bisanya beliau menilai ini happy ending sementara wajah Jaewook
diatas panggung tadi begitu muram. Ia seperti dipenjara dengan masa tahanan
seumur hidup.
“Apakah presdir tahu apa mimpi Jaewook?”
Tch! Umma Jaewook mencibir. “Untuk apa
berbicara tentang mimpi jika semua yang Jaewook inginkan bisa ia miliki di
tempat ini?”
Seoyeon menghela nafas panjang sebelum
berujar dengan yakin. “Ia ingin menjadi seorang pelukis.” Ucapnya kemudian.
“…Jaewook tetap tersenyum meskipun ia
memiliki hutang. Ia tetap tersenyum meskipun bekerja serabutan, tetap tersenyum
meskipun tinggal di apartemen kecil, dan tetap tersenyum meskipun direndahkan
sebagai seorang pelayan…”
Kata-kata Seoyeon terhenti, ia berusaha
untuk tidak menangis. “…dengan kondisi sulit seperti itu Jaewook tetap
tersenyum karena ia tahu ia masih bisa menyelesaikan goresan terakhir di
kanvasnya. Tapi tidak dengan hari ini…” nafas Seoyeon tersengal. “Senyuman itu
hilang. Wajahnya tampak mendung tanpa cahaya. Apa presdir menyadarinya?”
Kali ini gantian umma Jaewook yang terdiam.
Ada guratan luka yang tidak bisa Seoyeon artikan.
“Terimakasih atas tawaran hari ini,
Presdir. Saya merasa terhormat mendapatkannya.” Jawab Seoyeon meletakkan map
berlogo Hanwool di atas meja. “…Tapi maaf, saya tidak bisa melakukannya.”
Yeoja itu membungkuk sopan, lalu berjalan
meninggalkan umma Jaewook yang masih terduduk tanpa merubah posisi.
Tapi tepat ketika Seoyeon membuka pintu,
didepan nya berdiri seseorang yang mereka bicarakan sejak tadi.
Laki-laki itu menunduk, badannya tak
bertenaga. Ia terdiam tidak berani membalas tatapan Seoyeon. Air matanya
mengalir deras hingga ujung dagunya terlihat tetesan yang hampir jatuh.
Suaranya begitu serak tapi ia berusaha berbicara.
“Mianhe…”
Saat itulah pertahanan Seoyeon runtuh. Sejak
tadi ia masih berusaha tegar di hadapan Lee Misun. Menyembunyikan retakan
dengan sikap tenang yang dipaksakan. Namun namja ini berbeda.
Ada satu tombol yang tanpa sengaja Jaewook
tekan. Yang sekali disentuh membuat seluruh pertahanan Seoyeon runtuh. Dan
seketika, semua yang selama ini ia jaga hancur tanpa sisa.
Hati Seoyeon terasa begitu sakit melihat
kondisi Jaewook yang tidak pernah ia temukan sebelumnya. Sosok yang selama ini
ia kenal tenang dan terkendali kini tampak rapuh, seolah memikul beban yang
terlalu berat untuk ditanggung sendirian.
Ia tahu Jaewook melakukan ini untuknya,
mengorbankan diri kembali ke tempat yang paling ia benci demi menyingkirkan
Junhyeok. Agar Junhyeok tidak menyakiti Seoyeon lagi. Agar trauma Seoyeon tidak
kambuh lagi. Agar Seoyeon bisa bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu kelamnya.
Tapi satu hal yang tidak Jaewook ketahui,
bahwa kebahagiaan Seoyeon bukanlah dengan menghapus masa lalunya. Tapi justru
dengan menghadapi masa lalu itu… bersamanya.
Yang Seoyeon butuhkan sekarang bukanlah
Junhyeok yang pergi darinya. Tapi Seoyeon membutuhkan Jaewook tetap berada
disisinya, apapun keadaannya. Seoyeon tidak peduli Junhyeok menamparnya
kembali, atau mempersulit pekerjaanya. Asal bersama Jaewook semuanya akan
baik-baik saja.
Asal Jaewook di sisinya, Seoyeon akan
baik-baik saja.
Tapi sayang Jaewook memilih untuk pergi.
Meninggalkan Seoyeon sendirian. Seoyeon dipaksa kembali menyembuhkan luka baru
yang bahkan belum sempat ia pahami asalnya.
Seoyeon mungkin pernah mendapatkan rasa sakit
di masa lalu. Namun kali ini berbeda. Kali ini ia jauh lebih berantakan.
Pikirannya kacau. Tidak ada kata yang cukup
untuk menggambarkan perasaan itu, tidak ada logika yang mampu menenangkannya.
Ia hanya tahu satu hal, keputusan yang
diambil Jaewook telah melampaui kendalinya. Bukan sesuatu yang bisa ia tahan
dengan kesabaran. Keputusan itu berdiri sendiri, dingin dan tegas. Meninggalkan
Seoyeon sebagai satu-satunya pihak yang harus menanggung sisanya.
Setiap keputusan memang memiliki
konsekuensinya sendiri. Dan untuk saat ini, konsekuensi itu terlalu berat untuk
Seoyeon hadapi sambil tetap tinggal. Lagipula jika Seoyeon menerima tawaran
itu, Jaewook akan tetap terpenjara di tempat ini. Tak ada bedanya.
Maka satu-satunya pilihan yang tersisa
hanyalah pergi. Bukan karena Seoyeon tidak peduli, melainkan karena bertahan
hanya akan menghancurkan dirinya lebih jauh.
Seoyeon menghapus air mata di pipi Jaewook
pelan. Dadanya terasa sakit, tapi keputusan yang ia ambil sudah bulat.
Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia
berbisik di telinga namja itu. “Selamat tinggal… Jaewook-ah…”
Seoyeon lalu berjalan melewati Jaewook. Tangisnya
pecah. Setiap langkah terasa berat, seakan kakinya ditarik oleh kenangan yang
enggan dilepaskan.
Namun yeoja itu tetap pergi meninggalkan
Jaewook di sana. Bersama air mata, penyesalan, dan jarak yang kini semakin
jauh.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment