Tittle : Unveil [Part 2]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Luminate Seoul. Sebuah perusahaan yang
namanya selalu muncul di salah satu halaman majalah bisnis setiap kali ada
brand besar yang ingin memperbaharui citra mereka. Kantornya berada di lantai
tinggi sebuah gedung kaca area Gangnam. Tampak megah dengan lalu lalang pekerja
berbaju rapi dan berotak tajam yang berkeliaran disekitarnya.
Seoyeon belum lama bekerja disana, hampir dua
tahun. Namun pengalamannya di tempat kerja yang dulu membawa Seoyeon dengan
cepat meraih posisi sebagai leader tim creative planning. Ia sangat cekatan,
matanya jeli membaca tren. Sooyeon tidak hanya ulet dalam mengarahkan tim
kreatif tapi juga penghubung antara klien yang penuh tuntutan dengan perusahaan
brand strategy ini.
Berbeda dengan project yang pernah
Sooyeon tangani sebelumnya, kali ini tantangan Seoyeon cukup besar. Luminate
punya tugas untuk rebranding sebuah perusahaan klasik yang outletnya sering
Seoyeon temui di dalam mall. Bahkan ia mendengar bahwa produk dari perusahaan
ini juga terkenal di kancah global.
Hanwool Heritage Co. Sebuah luxury
heritage brand yang bekerja di bidang premium leather goods &
artisan craftsmanship. Ouh… mendengar namanya saja sudah membuat Seoyeon
merinding. Namun semakin besar beban yang harus Seoyeon tanggung, semakin besar
pula dopamin yang mengalir dalam tubuhnya.
Project ini sudah
beberapa bulan Seoyeon garap sebelum ia mempresentasikannya di hadapan
perwakilan dari Hanwool. Dengan matang ia membahas campaign, storyline, insight
konsumen, strategi pitching, bahkan sampai ke output seperti digital
ad dan collab influencer.
Rebranding Hanwool harus
sukses. Ia ingin tetap mempertahankan citra klasik dan elegan yang sudah melekat
dengan product Hanwool ditambah sentuhan modern yang menjadi ciri khas
dari Luminate.
“Hana.. apakah ruang rapat sudah
siap?” Tanya Seoyeon menjulurkan kepalanya dari bilik meja dengan sekat.
“Sudah, timjang-nim.” Jawab
yeoja itu dengan panggilan formal untuk kepala tim.
“Mereka bilang Product
Director dari Hanwool sudah dekat. Sebaiknya kita masuk sekarang.”
Dengan arahan Seoyeon, tim
creative yang memiliki anggota 4 orang itu pun mengikuti langkahnya menuju
meeting room. Seoyeon beberapa kali mengecek hasil proposal yang sudah
disiapkan sebelum akhirnya mendapat laporan bahwa perwakilan Hanwool sudah
datang.
DEG! Saat menatap sosok yang
berdiri di ambang pintu, perut Seoyeon menegang seperti menahan hantaman yang
datang tiba-tiba. Ia merasa udara di ruangan berubah lebih tipis. Ada jeda
kecil dalam kepalanya yang berisik dan menusuk, membawa luka lama yang begitu
sakit dan tidak pernah benar-benar hilang.
Tidak pernah Sooyeon kira, sosok yang
pernah menjadi bagian dari masa lalunya berdiri tiga meter darinya dengan
ekspresi professional seolah tidak pernah ada apapun diantara mereka.
Sosok itu, seorang laki-laki
berbadan tegap dengan jas abu berdasi hitam adalah seseorang yang menuliskan
cerita paling berkesan dalam hidup Seoyeon. Empat tahun dari usianya, ia
habiskan bersama sosok itu. Namun sayangnya kisah romansa Seoyeon tidak
berakhir indah seperti dalam drama korea yang sering ia tonton.
Seoyeon menelan napas yang tidak sempat ia
atur. Tangannya otomatis merapatkan map di depannya, upaya kecil untuk
menyembunyikan getaran halus yang muncul begitu saja. Pandangannya berusaha
tetap datar, tapi dadanya terasa seperti ditarik antara masa lalu dan masa kini
yang beradu keras tanpa permisi.
‘Jebal…jebal.” Rasa sakit yang ia tahan
semakin memuncak. Jari jarinya menyisir tepi kuku dengan keras, menahan sekuat
tenaga untuk tetap tenang.
Satu… dua… tiga… Seoyeon mengatur nafas
dengan ritme beraturan sambil menunduk, menutup matanya.
Hari ini hari yang besar. Ia tidak boleh
melakukan kesalahan.
“Baik.” Ucap Seoyeon sesaat setelah ia
mengembalikan posisi duduknya, tepat diseberang sosok mantan yang kini menjadi
‘rekan’ kerjanya. “Jika semua sudah siap, apakah rapat bisa kita mulai?”
***
Kepulan asap tipis menyebar
tidak beraturan di udara sekitar Seoyeon. Kali ini tidak hanya satu batang,
tapi entah sudah berapa kali ia menyulut korek api untuk menyalakan rokoknya. Di
sana juga terlihat dua botol soju menjadi teman Seoyeon duduk di depan
minimarket itu.
Kepala Sooyeon terasa berat. Tapi
ia tetap berusaha menjejalkan air soju disela tenggorokannya. Berapapun banyak
yang sudah ia minum, masih saja tidak sanggup menghapuskan kejadian paling
terkutuk yang pernah Seoyeon hadapi dalam hidupnya.
Mimpi apa Seoyeon semalam sampai
Junhyeok muncul didepannya hari ini?
Padahal sudah begitu banyak hal yang
Seoyeon korbankan untuk menghindari laki-laki itu. Namun dengan mudah ia
kembali hadir tanpa permisi.
Seoyeon tidak hanya menyerah dengan
pekerjaannya yang dulu, tapi ia juga pindah ke apartemen yang baru, mengganti
nomor ponselnya dan berhenti menghubungi semua teman lamanya.
Seoyeon tidak tahu kini Junhyeok
bekerja di Hanwool. Bahkan menjadi Product Director? Ia tak sanggup
membayangkan usaha apa yang dilakukan namja itu sampai bisa berada di posisi
sekarang.
Huh… helaan nafas terdengar
untuk kesekian kalinya. Jika mengingat kebodohan Seoyeon dulu, demi Tuhan ia
tidak akan sudi mengulanginya lagi.
Sebagai seorang lulusan Seoul
University yang datang dari pesisir, Seoyeon tidak banyak memiliki koneksi
untuk masuk perusahaan besar kala itu. Kebetulan Junhyeok yang merupakan kakak
tingkatnya dulu memiliki lowongan di perusahaan tempat ia bekerja. Sooyeon
dengan mudah masuk menjadi karyawan disana. Mereka berdua sama-sama tim creative
planning, beradu dengan kompak sebagai sunbae dan hoobae.
Dan secara natural kisah romantis
itupun muncul. Soohyeon pikir, memberikan segalanya dalam sebuah hubungan
adalah hal yang paling mendasar. Tapi ternyata pengetahuan minim itu tidak
cukup bagi Seoyeon dalam menjalani pengalaman pertamanya.
Sooyeon menjadi terlalu lemah.
Ia merasa apapun yang ia lakukan tidak pernah cukup, sampai akhirnya kotak
pandora itu terbuka. Sebuah ruang yang dulunya Seoyeon kenali begitu penyayang,
berganti dengan ketidaksabaran, frustasi dan amarah yang seperti bom waktu.
Cara Junhyeok meletakkan barang
di meja saja membuat ruangan terasa berguncang. Tangan namja itu sering
mengepal tanpa sadar, nadanya meninggi dan kemarahannya meledak tidak
terkendali. Tak jarang meninggalkan lebam samar di beberapa bagian tubuh Seoyeon,
jejak yang selalu ia sembunyikan di balik senyum tipisnya.
Seoyeon tidak pernah marah. Ia
justru memaafkan Junhyeok beribu kali. Bagi Seoyeon, rasa sakit yang ia
dapatkan dari Junhyeok itu pasti, ia mengira masih bisa menahannya sedikit
lagi. Ia mengira Junhyeok masih bisa berubah suatu saat. Ia mengira Junhyeok
masih bisa Kembali seperti dulu. Ia mengira…
Uh.
Sedangkan rasa sakit yang
mungkin akan ia terima bila ia meninggalkan Junhyeok masih berupa
ketidakpastian. Karena itulah Seoyeon terperangkap dalam pilihan yang sama-sama
menyakitkan: bertahan dalam luka yang sudah ia kenal, atau melangkah pergi
menuju sesuatu yang asing, yang ia sendiri tak tahu akan membawanya ke mana.
Sampai suatu kejadian membuat Seoyeon
tersadar. Dan akhirnya membawa ia kepada keputusan yang tepat.
“Jeogiyo..” Sebuah suara
membuyarkan lamunan Seoyeon, membuat yeoja itu mendongak untuk melihat siapa
yang datang.
“Apa kau masih ingat denganku?”
Alis Seoyeon berkerut. Laki-laki
berhoodie abu-abu dengan kacamata berframe hitam itu berdiri tak jauh darinya.
Dari tinggi tubuhnya saja, sejujurnya Seoyeon sudah bisa mengenali sosok itu.
Namun barulah ia sadar semenjak kejadian di kantor polisi kemarin, ia sama
sekali tidak pernah melihat namja itu bekerja lagi.
“Aku ingin menepati janjiku.” Ujarnya
setelah beberapa lama tidak mendapatkan jawaban dari Seoyeon.
Ah otak Seoyeon sekarang sedang
rusak. Saking fokus dengan pekerjaanya, Seoyeon tidak pernah sekalipun memikirkan
hal lain. Apalagi janji yang pernah ia dengar dari seseorang yang bahkan ia
tidak tahu namanya ini.
Bukannya menanggapi, Seoyeon
justru bangkit dari kursinya tidak peduli. Yang paling ia inginkan sekarang
hanyalah pergi dari tempat ini dan menjatuhkan badan di kasurnya yang empuk.
Tapi belum sempat kaki Seoyeon
melangkah, tubuhnya lebih dulu ambruk kedepan. Dengan kepala yang berat dan
kadar alcohol yang tidak bisa ia toleransi lagi, akhirnya gadis itu kehilangan
kesadarannya.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment