Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 2]

Tittle                    : Unveil [Part 2]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Luminate Seoul. Sebuah perusahaan yang namanya selalu muncul di salah satu halaman majalah bisnis setiap kali ada brand besar yang ingin memperbaharui citra mereka. Kantornya berada di lantai tinggi sebuah gedung kaca area Gangnam. Tampak megah dengan lalu lalang pekerja berbaju rapi dan berotak tajam yang berkeliaran disekitarnya.

Seoyeon belum lama bekerja disana, hampir dua tahun. Namun pengalamannya di tempat kerja yang dulu membawa Seoyeon dengan cepat meraih posisi sebagai leader tim creative planning. Ia sangat cekatan, matanya jeli membaca tren. Sooyeon tidak hanya ulet dalam mengarahkan tim kreatif tapi juga penghubung antara klien yang penuh tuntutan dengan perusahaan brand strategy ini.

Berbeda dengan project yang pernah Sooyeon tangani sebelumnya, kali ini tantangan Seoyeon cukup besar. Luminate punya tugas untuk rebranding sebuah perusahaan klasik yang outletnya sering Seoyeon temui di dalam mall. Bahkan ia mendengar bahwa produk dari perusahaan ini juga terkenal di kancah global.

Hanwool Heritage Co. Sebuah luxury heritage brand yang bekerja di bidang premium leather goods & artisan craftsmanship. Ouh… mendengar namanya saja sudah membuat Seoyeon merinding. Namun semakin besar beban yang harus Seoyeon tanggung, semakin besar pula dopamin yang mengalir dalam tubuhnya.

                Project ini sudah beberapa bulan Seoyeon garap sebelum ia mempresentasikannya di hadapan perwakilan dari Hanwool. Dengan matang ia membahas campaign, storyline, insight konsumen, strategi pitching, bahkan sampai ke output seperti digital ad dan collab influencer.

                Rebranding Hanwool harus sukses. Ia ingin tetap mempertahankan citra klasik dan elegan yang sudah melekat dengan product Hanwool ditambah sentuhan modern yang menjadi ciri khas dari Luminate.

                “Hana.. apakah ruang rapat sudah siap?” Tanya Seoyeon menjulurkan kepalanya dari bilik meja dengan sekat.

                “Sudah, timjang-nim.” Jawab yeoja itu dengan panggilan formal untuk kepala tim.

                “Mereka bilang Product Director dari Hanwool sudah dekat. Sebaiknya kita masuk sekarang.”

                Dengan arahan Seoyeon, tim creative yang memiliki anggota 4 orang itu pun mengikuti langkahnya menuju meeting room. Seoyeon beberapa kali mengecek hasil proposal yang sudah disiapkan sebelum akhirnya mendapat laporan bahwa perwakilan Hanwool sudah datang.

                DEG! Saat menatap sosok yang berdiri di ambang pintu, perut Seoyeon menegang seperti menahan hantaman yang datang tiba-tiba. Ia merasa udara di ruangan berubah lebih tipis. Ada jeda kecil dalam kepalanya yang berisik dan menusuk, membawa luka lama yang begitu sakit dan tidak pernah benar-benar hilang.

Tidak pernah Sooyeon kira, sosok yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya berdiri tiga meter darinya dengan ekspresi professional seolah tidak pernah ada apapun diantara mereka.

                Sosok itu, seorang laki-laki berbadan tegap dengan jas abu berdasi hitam adalah seseorang yang menuliskan cerita paling berkesan dalam hidup Seoyeon. Empat tahun dari usianya, ia habiskan bersama sosok itu. Namun sayangnya kisah romansa Seoyeon tidak berakhir indah seperti dalam drama korea yang sering ia tonton.

Seoyeon menelan napas yang tidak sempat ia atur. Tangannya otomatis merapatkan map di depannya, upaya kecil untuk menyembunyikan getaran halus yang muncul begitu saja. Pandangannya berusaha tetap datar, tapi dadanya terasa seperti ditarik antara masa lalu dan masa kini yang beradu keras tanpa permisi.

‘Jebal…jebal.” Rasa sakit yang ia tahan semakin memuncak. Jari jarinya menyisir tepi kuku dengan keras, menahan sekuat tenaga untuk tetap tenang.

Satu… dua… tiga… Seoyeon mengatur nafas dengan ritme beraturan sambil menunduk, menutup matanya.

Hari ini hari yang besar. Ia tidak boleh melakukan kesalahan.

“Baik.” Ucap Seoyeon sesaat setelah ia mengembalikan posisi duduknya, tepat diseberang sosok mantan yang kini menjadi ‘rekan’ kerjanya. “Jika semua sudah siap, apakah rapat bisa kita mulai?”

***

                Kepulan asap tipis menyebar tidak beraturan di udara sekitar Seoyeon. Kali ini tidak hanya satu batang, tapi entah sudah berapa kali ia menyulut korek api untuk menyalakan rokoknya. Di sana juga terlihat dua botol soju menjadi teman Seoyeon duduk di depan minimarket itu.

                Kepala Sooyeon terasa berat. Tapi ia tetap berusaha menjejalkan air soju disela tenggorokannya. Berapapun banyak yang sudah ia minum, masih saja tidak sanggup menghapuskan kejadian paling terkutuk yang pernah Seoyeon hadapi dalam hidupnya.

                Mimpi apa Seoyeon semalam sampai Junhyeok muncul didepannya hari ini?

Padahal sudah begitu banyak hal yang Seoyeon korbankan untuk menghindari laki-laki itu. Namun dengan mudah ia kembali hadir tanpa permisi.

Seoyeon tidak hanya menyerah dengan pekerjaannya yang dulu, tapi ia juga pindah ke apartemen yang baru, mengganti nomor ponselnya dan berhenti menghubungi semua teman lamanya.

                Seoyeon tidak tahu kini Junhyeok bekerja di Hanwool. Bahkan menjadi Product Director? Ia tak sanggup membayangkan usaha apa yang dilakukan namja itu sampai bisa berada di posisi sekarang.

                Huh… helaan nafas terdengar untuk kesekian kalinya. Jika mengingat kebodohan Seoyeon dulu, demi Tuhan ia tidak akan sudi mengulanginya lagi.

                Sebagai seorang lulusan Seoul University yang datang dari pesisir, Seoyeon tidak banyak memiliki koneksi untuk masuk perusahaan besar kala itu. Kebetulan Junhyeok yang merupakan kakak tingkatnya dulu memiliki lowongan di perusahaan tempat ia bekerja. Sooyeon dengan mudah masuk menjadi karyawan disana. Mereka berdua sama-sama tim creative planning, beradu dengan kompak sebagai sunbae dan hoobae.

                Dan secara natural kisah romantis itupun muncul. Soohyeon pikir, memberikan segalanya dalam sebuah hubungan adalah hal yang paling mendasar. Tapi ternyata pengetahuan minim itu tidak cukup bagi Seoyeon dalam menjalani pengalaman pertamanya.

                Sooyeon menjadi terlalu lemah. Ia merasa apapun yang ia lakukan tidak pernah cukup, sampai akhirnya kotak pandora itu terbuka. Sebuah ruang yang dulunya Seoyeon kenali begitu penyayang, berganti dengan ketidaksabaran, frustasi dan amarah yang seperti bom waktu.

                Cara Junhyeok meletakkan barang di meja saja membuat ruangan terasa berguncang. Tangan namja itu sering mengepal tanpa sadar, nadanya meninggi dan kemarahannya meledak tidak terkendali. Tak jarang meninggalkan lebam samar di beberapa bagian tubuh Seoyeon, jejak yang selalu ia sembunyikan di balik senyum tipisnya.

                Seoyeon tidak pernah marah. Ia justru memaafkan Junhyeok beribu kali. Bagi Seoyeon, rasa sakit yang ia dapatkan dari Junhyeok itu pasti, ia mengira masih bisa menahannya sedikit lagi. Ia mengira Junhyeok masih bisa berubah suatu saat. Ia mengira Junhyeok masih bisa Kembali seperti dulu. Ia mengira…

                Uh.

                Sedangkan rasa sakit yang mungkin akan ia terima bila ia meninggalkan Junhyeok masih berupa ketidakpastian. Karena itulah Seoyeon terperangkap dalam pilihan yang sama-sama menyakitkan: bertahan dalam luka yang sudah ia kenal, atau melangkah pergi menuju sesuatu yang asing, yang ia sendiri tak tahu akan membawanya ke mana.

                Sampai suatu kejadian membuat Seoyeon tersadar. Dan akhirnya membawa ia kepada keputusan yang tepat.

                Jeogiyo..” Sebuah suara membuyarkan lamunan Seoyeon, membuat yeoja itu mendongak untuk melihat siapa yang datang.

                “Apa kau masih ingat denganku?”

                Alis Seoyeon berkerut. Laki-laki berhoodie abu-abu dengan kacamata berframe hitam itu berdiri tak jauh darinya. Dari tinggi tubuhnya saja, sejujurnya Seoyeon sudah bisa mengenali sosok itu. Namun barulah ia sadar semenjak kejadian di kantor polisi kemarin, ia sama sekali tidak pernah melihat namja itu bekerja lagi.               

“Aku ingin menepati janjiku.” Ujarnya setelah beberapa lama tidak mendapatkan jawaban dari Seoyeon.

                Ah otak Seoyeon sekarang sedang rusak. Saking fokus dengan pekerjaanya, Seoyeon tidak pernah sekalipun memikirkan hal lain. Apalagi janji yang pernah ia dengar dari seseorang yang bahkan ia tidak tahu namanya ini.

                Bukannya menanggapi, Seoyeon justru bangkit dari kursinya tidak peduli. Yang paling ia inginkan sekarang hanyalah pergi dari tempat ini dan menjatuhkan badan di kasurnya yang empuk.

                Tapi belum sempat kaki Seoyeon melangkah, tubuhnya lebih dulu ambruk kedepan. Dengan kepala yang berat dan kadar alcohol yang tidak bisa ia toleransi lagi, akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya.

-To Be Continue-


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...