Tittle : Unveil [Part 8]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Jalanan Seoul tampak padat oleh lalu lalang
kendaraan di jam-jam sibuk.
Di setiap persimpangan lampu merah, mobil-mobil berjejer panjang, sabar
menunggu giliran melaju. Semua itu berlangsung seolah tak menghiraukan puncak
musim panas yang tengah menyelimuti. Tahun ini bahkan suhunya menyentuh 37°C.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Seoyeon
tidak duduk di bangku bus kota. Melainkan berada di dalam sebuah mobil Tesla keluaran
terbaru. Ditemani hembusan angin sejuk yang menjalar hingga ke kakinya,
berbanding terbalik dengan udara di luar yang panas dan terik
Meskipun begitu nyaman, namun tak satu
detikpun Seoyeon sanggup menikmati suasana dalam mobil ini. Simply
karena ini mobil Junhyeok. Sudah begitu banyak alasan yang ia lontarkan untuk
tidak ikut masuk ke dalam mobil terkutuk ini, namun rekan satu timnya tetap
ingin bergabung. Karena itu Seoyeon tidak punya pilihan lain.
Kebetulan hari ini memang tim dari Hanwool
dan Luminate harus survey ke beberapa tempat yang akan dijadikan lokasi pop
up exhibition. Masing-masing tim diwakili oleh dua orang. Ini pertama
kalinya mereka pergi bersama, karena keputusan final dibutuhkan untuk penentuan
tempat exhibition.
Mulai dari Seongsu-dong, berlanjut ke
Garosugil, hingga terakhir Ikseon-dong.
Tak terasa, pekerjaan hari ini selesai lebih lama dari perkiraan. Matahari
telah menghilang sejak beberapa jam lalu. Satu per satu penumpang di mobil
Junhyeok pun berpamitan, bergantian turun di tujuan masing-masing.
“Aku juga akan turun disini.” Ucap Seoyeon
melepas seat beltnya.
“Tidak, kau akan kuantarkan sampai
apartemen.”
“Iya Seoyeon-ssi. Timjangnim akan
kembali ke kantor setelah ini, bukankah itu searah dengan rumahmu?” Sahut
karyawan lain yang duduk dibelakang. Ia terus membujuk Seoyeon untuk tetap di
mobil itu padahal sendirinya juga ikutan pamit kemudian.
“Tenang saja, aku tidak ada niat untuk mengganggu
pacar orang.” Ucap Junhyeok lalu kembali melaju. Mengabaikan Seoyeon yang
tampak kesal.
“Tapi serius, kau benar-benar berpacaran
dengan pelayan itu?” lanjutnya sambil menyetir. “Kemana si perfectionist
Seoyeon yang kukenal?”
Tidak ada jawaban.
“Dulu bahkan aku butuh waktu berbulan-bulan
untuk meyakinkanmu karena kau tidak pernah pacaran. Tapi pelayan itu…” Junhyeok
melirik Seoyeon sekilas. “Apa dia begitu spesial?”
Mungkin karena sudah terlalu sering mendengarkan
pertanyaan semacam ini, atau karena
kesabaran Jaewook yang menular, Seoyeon tidak lagi terlalu memikirkan
apa yang dikatakan Junhyeok. Sia-sia saja menjawab pertanyaan bodoh itu. Lebih
baik Seoyeon menghabiskan energinya untuk hal lain.
“Bagaimana kabar ahjummoni? Apakah beliau
masih sehat?”
Apalagi ini, tiba-tiba saja bertanya
tentang keadaan umma Seoyeon. Padahal meskipun sudah empat tahun mereka
berpacaran, tidak pernah sekalipun Junhyeok mau mengunjungi kampung halaman mantan
pacarnya ini.
Kala itu ada saja alasan yang diucapkan
Junhyeok. Bahkan di hari-hari penting seperti peringatan kematian ayah Seoyeon
dan ulang tahun ummanya, Junhyeok tak pernah menyempatkan waktu untuk
menemaninya pulang kampung.
“Yeon-ah! Kau tidak mendengarkanku
huh?”
Seoyeon tersentak. Sapaan itu mendadak
membuat luka di hati Seoyeon kembali terbuka. Seoyeon ingat setiap kali
Junhyeok marah padanya, alih-alih memanggilnya ‘jagiya’, Junhyeok akan
memanggilnya dengan sapaan itu.
“Turunkan aku didepan.” Ucap Seoyeon akhirnya.
Junhyeok marah. “Kau berani mengabaikanku?”
“Kubilang turunkan aku didepan.” Seoyeon
memutar kepalanya, membalas tatapan Junhyeok dengan yakin.
Junhyeok
tiba-tiba membanting setir ke kanan, mobil itu berhenti mendadak di pinggir
jalan. Membuat tubuh Seoyeon terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman
menahannya kembali. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan namun
Junhyeok belum sedikit pun mengizinkan Seoyeon keluar.
Pintu tetap terkunci. Keheningan menekan di
antara mereka, jauh lebih bising daripada suara mesin yang bergetar di udara
malam.
“Kau anggap aku apa, huh?” suara
Junhyeok bergetar, penuh tekanan.
Sesuatu di dalam diri Seoyeon akhirnya
retak. Untuk pertama kalinya, ia tak menelan amarah itu sendirian.
“GEUMANHAE! Jebal geumanhae!!”
Bentakan itu meluncur begitu saja.
Kasar, jujur, tanpa saringan. Ini pertama kalinya Seoyeon membalas suara
Junhyeok dengan nada setinggi itu, membuat Junhyeok terkesiap. Tangannya yang
masih mencengkeram setir mengendur sesaat, seolah ia tak pernah menduga
perlawanan akan datang dari Seoyeon.
Kesabaran Seoyeon sudah habis. Sudah
terlalu lama ia menanggung rasa sakit yang tidak seharusnya ia dapatkan.
Seoyeon tahu ia pantas untuk diperlakukan dengan baik. Oleh siapapun. Terutama
seseorang yang meninggalkan luka terbesar dalam hidupnya ini.
“Jadi kau berani denganku?” Kali ini
Junhyeok meninggikan suaranya.
“Kau dan aku sudah selesai!” Bentak
Seoyeon. “JADI KUMOHON BERHENTILAH, KIM JUNHYEOK!”
PLAKK!! Saat itulah tamparan keras mendarat
di pipi Seoyeon. Ia terperanjat. Begitu pula dengan Junhyeok yang tidak pernah
menyangka motoriknya akan lebih dulu mengambil alih sebelum logikanya sempat
bekerja.
Rambut Seoyeon terkoyak karena tamparan itu.
Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ssementara
keheningan di dalam mobil berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan
daripada teriakan apa pun.
Yang terdengar kemudian hanya bunyi kunci
pintu penumpang yang telah dibuka. Mempersilakan Seoyeon pergi tanpa suara.
Seoyeon turun dari mobil dengan langkah
linglung, menutup pintu tanpa menunggu sepatah kata pun dari pemiliknya. Ia
tahu betul seberapa tebal tumpukan gengsi yang dimiliki Junhyeok. Hingga kapan
pun, kata maaf bukanlah sesuatu yang mungkin keluar darinya.
Sejurus kemudian mobil itupun meluncur
jauh, meninggalkan Seoyeon yang berjalan tertatih. Kepalanya terasa ngilu,
dadanya sesak. Memori yang menyakitkan dengan cepat memenuhi amigdala dalam
otaknya. Membangkitkan trauma yang sudah lama ia simpan rapat-rapat.
Sekuat tenaga Seoyeon berusaha mengatur
napas, menekan kuat-kuat rasa sakit yang meremas dadanya. Setiap tarikan udara
terasa dangkal, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Tangan kirinya gemetar
saat merogoh tas, jari-jarinya sibuk mencari ponsel dengan gerakan tak teratur.
‘Wook-ie’.
Nama kontak itu akhirnya muncul di layar,
membuat matanya bergetar. Demi Tuhan, ia ingin bertemu namja itu lebih dulu sebelum
penyakitnya kembali kambuh. Sebelum dirinya benar-benar jatuh.
Bertahanlah, Seoyeon-ah… bertahanlah,
bisiknya dalam hati, seperti doa yang dipanjatkan dalam keheningan.
“Yeoboseyo?”
Tepat saat suara itu terdengar dari ujung
telepon, pertahanan Seoyeon runtuh sepenuhnya. Kepalanya terasa nyeri tak tertahankan,
berdenyut hebat hingga pandangannya mengabur. Ia mencoba menarik napas, namun
tak satu pun udara berhasil masuk. Dadanya sesak, jantungnya berdegup liar,
sementara kedua kakinya perlahan kehilangan kekuatan.
Di tepi jalan dekat Itaewon, Seoyeon
pingsan.
***
Langit-langit berwarna putih
dengan cahaya yang terlalu terang menyambut pandangan Seoyeon. Asing,
menyilaukan, dan membuat kepalanya berdenyut pelan. Ia mengedarkan mata dengan
napas tertahan. Di sekelilingnya tirai-tirai tertutup rapat, warnanya senada
dengan langit-langit dan selimut yang kini membungkus tubuhnya. Dingin dan
steril.
Ada bau obat yang samar. Ada keheningan
yang terlalu rapi.
Rumah sakit.
Kesadaran itu datang perlahan, bersamaan
dengan denyut nyeri di dadanya. Seseorang pasti telah membawanya ke tempat ini.
Seseorang yang menemukannya tergeletak, sendirian di tepi jalan
Seoyeon meraih hp yang
tergeletak di meja samping ranjangnya. Pukul 22.12. Mungkin sekitar 2 jam yang
lalu ia pingsan.
“Oh.. anda sudah siuman?”
Seorang berseragam biru muda membuka tirai dan mendapati Seoyeon sibuk dengan
handphonenya. “Apa ada keluhan?” ucapnya lalu mengambil tensimeter untuk
mengecek tekanan darah Seoyeon.
Seoyeon menggeleng. “Siapa yang
membawaku kemari?”
“Kami mendapat laporan dari
seorang wanita paruh baya.” Jawab perawat itu. “Setelah ambulance datang kemari,
kemudian seseorang laki-laki datang mengaku sebagai wali anda.”
Jaewook. Pasti dia Jaewook,
pikir Seoyeon.
Seoyeon masih menunggu beberapa
saat sampai jarum infus dilepas dari punggung tangannya dan ia diperbolehkan
pulang. Rupanya administrasi rumah sakit sudah lunas dibayar Jaewook, namun
entah kenapa sampai sekarang namja itu justru tidak bisa dihubungi.
Begitu keluar dari rumah sakit, Seoyeon
melangkahkan kakinya ke rumah Jaewook, bukan pulang untuk beristirahat seperti
seharusnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak kesendirian, yang
memaksanya mencari satu-satunya tempat yang terasa aman.
Dengan tubuh yang masih lemah, ia menaiki
tangga menuju lantai atas dengan susah payah. Setiap langkah terasa berat,
seolah sisa-sisa pusing dan nyeri belum benar-benar pergi. Namun setibanya di
depan rumah itu, harapannya meredup. Lampu masih padam, jendela terlihat gelap.
Seoyeon menekan bel sekali. Tidak ada
jawaban.
Ia menekannya lagi. Dan lagi.
Tetap sunyi.
Dadanya menghangat oleh rasa cemas yang
pelan-pelan berubah menjadi perih. Di
manakah Jaewook sebenarnya? Mengapa setelah menemuinya di
rumah sakit, namja itu justru pergi begitu saja?
Seoyeon sudah mencoba menelfon
tempat dimana Jaewook bekerja, tapi mereka mengatakan hari ini ia tidak
berangkat tanpa keterangan.
Entah kenapa kali ini perasaan
Seoyeon tidak enak. Sebelumnya mereka sering berpapasan tanpa sengaja, kini bahkan
saat Seoyeon terang-terangan mencari Jaewook, namja itu tidak terlihat
dimanapun. Seoyeon bahkan mengecek minimarket dan juga café yang sudah
jelas-jelas Jaewook tidak sedang bekerja disana, namun tetap saja ia tidak
mendapatkan jawaban.
Jaewook… dia tidak apa-apa
kan?
Kenapa ia tiba-tiba menghilang?
Kenapa tidak ada satupun jejak yang bisa menjadi petunjuk keberadaan Jaewook?
Padahal sudah jelas-jelas tadi Seoyeon melihat tanda tangan Jaewook selaku wali
nya di rumah sakit. Namun hanya selang beberapa jam kemudian tiba-tiba saja
namja itu lenyap seolah tidak pernah berada disana.
Rasa penasaran Seoyeon berubah
menjadi panik. Nafasnya tertahan di tenggorokan, seperti ada beban tak kasat
mata yang menekan dadanya. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir begitu saja
sementara rasa sakit yang datang mendadak menghantam seperti petir di malam
hari.
Seoyeon menolak mengakuinya. Ia tak mau
mengakui bahwa Jaewook pergi begitu saja tanpa aba-aba, meninggalkan kekosongan
yang bahkan belum sanggup ia cerna.
***
Beberapa hari berselang, keberadaan Jaewook
benar-benar lenyap seolah ditelan bumi.
Rasa sakit yang tak pernah mampu Seoyeon prediksi pun mulai menjalar di
tubuhnya. Perlahan namun pasti, seperti penyakit langka tanpa obat yang
menggerogoti dari dalam.
Seoyeon bahkan sampai mendatangi pemilik
apartemen Jaewook, memaksakan diri menanyakan keberadaan namja itu. Namun
ketika fakta itu akhirnya terungkap, bukannya memberi kejelasan, justru membuat
rasa sakit di dadanya membesar berkali-kali lipat.
Apartemen Jaewook kosong. Tidak ada satupun
barang didalamnya. Seakan-akan tempat itu tak pernah dihuni. Seakan-akan
Jaewook tidak pernah ada.
Apakah itu bahkan mungkin untuk
seseorang yang sangat Seoyeon kenali tiba-tiba lenyap begitu saja?
Begitu banyak alasan yang Seoyeon
susun rapi di dalam kepalanya, kemungkinan-kemungkinan tentang Jaewook yang
bisa saja pergi tiba-tiba. Namun tak satu pun terasa pantas untuk menjadi
jawaban.
Kemudian Seoyeon menyadari bahwa
meski ia merasa begitu mengenal Jaewook, tidak ada satupun hal dari namja itu
yang benar-benar Seoyeon ketahui. Seoyeon tidak tahu darimana asal Jaewook,
dimana keluarganya tinggal, siapa saja teman dekatnya, dan informasi penting
lainnya yang sangat dibutuhkan seperti sekarang.
Ternyata selama ini hanya
Seoyeon yang membuka pintu-pintunya, sedangkan Jaewook tidak. Seoyeon tidak
mengenal Jaewook sebanyak Jaewook mengenalnya. Rasanya sungguh tidak pantas
jika Seoyeon bahkan ingin marah, karena kenyataannya Jaewook tidak benar-benar
dimilikinya.
Seoyeon terpaku menatap monitor dengan
tatapan yang kosong, menyadari satu hal. Kepergian Jaewook bukanlah kebetulan,
melainkan sebuah pilihan. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada
ditinggalkan dengan sadar.
Air matanya jatuh tanpa siapapun tahu. Pada
saat itu, dunia Seoyeon seolah berhenti bergerak. Namun bagi orang lain, waktu
tetap berjalan, tak peduli pada apa yang runtuh di dalam dirinya.
Meskipun tertatih, Seoyeon tetap
bangkit. Ia menjalani hari-harinya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menyembunyikan
luka di balik kebiasaan, dan belajar tersenyum di atas perasaan yang perlahan
hancur.
“Onni, apa kau sudah dengar
kabar dari Hanwool?” suara rekan kerja Seoyeon membuyarkan lamunannya.
Seoyeon memundurkan kursinya,
sedikit menoleh dibalik sekat meja yang menjadi penghalang mereka berdua.
“…Kudengar Junhyeok sajangnim
dipecat dari Hanwool.”
Seoyeon mengerjap. Ada jeda
sepersekian detik sebelum kata-kata itu benar-benar sampai ke dalam kesadarannya.
“Apa kau bilang?”
Rekan kerja Seoyeon berujar lagi,
“Dan apa onni tahu sesuatu yang lebih mengejutkan?”
Kali ini Seoyeon menata
ekspresinya agar tidak terlalu heboh seperti sebelumnya. “Cepat katakan.”
“Kudengar mereka tertarik untuk
merekrut karyawan dari perusahaan kita.” Jawab yeoja itu. “Dan onni adalah
salah satunya.”
Usaha Seoyeon gagal. Ia terkesiap mendengar
kalimat itu. Terlalu banyak hal yang tiba-tiba bertabrakan di kepalanya. Nama
Junhyeok, Hanwool, dan dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya hari itu, Seoyeon
benar-benar kehilangan kata-kata.
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment