Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 8]

 


Tittle                    : Unveil [Part 8]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Jalanan Seoul tampak padat oleh lalu lalang kendaraan di jam-jam sibuk.
Di setiap persimpangan lampu merah, mobil-mobil berjejer panjang, sabar menunggu giliran melaju. Semua itu berlangsung seolah tak menghiraukan puncak musim panas yang tengah menyelimuti. Tahun ini bahkan suhunya menyentuh 37°C.

Berbeda dari sebelumnya, kali ini Seoyeon tidak duduk di bangku bus kota. Melainkan berada di dalam sebuah mobil Tesla keluaran terbaru. Ditemani hembusan angin sejuk yang menjalar hingga ke kakinya, berbanding terbalik dengan udara di luar yang panas dan terik

Meskipun begitu nyaman, namun tak satu detikpun Seoyeon sanggup menikmati suasana dalam mobil ini. Simply karena ini mobil Junhyeok. Sudah begitu banyak alasan yang ia lontarkan untuk tidak ikut masuk ke dalam mobil terkutuk ini, namun rekan satu timnya tetap ingin bergabung. Karena itu Seoyeon tidak punya pilihan lain.

Kebetulan hari ini memang tim dari Hanwool dan Luminate harus survey ke beberapa tempat yang akan dijadikan lokasi pop up exhibition. Masing-masing tim diwakili oleh dua orang. Ini pertama kalinya mereka pergi bersama, karena keputusan final dibutuhkan untuk penentuan tempat exhibition.

Mulai dari Seongsu-dong, berlanjut ke Garosugil, hingga terakhir Ikseon-dong.
Tak terasa, pekerjaan hari ini selesai lebih lama dari perkiraan. Matahari telah menghilang sejak beberapa jam lalu. Satu per satu penumpang di mobil Junhyeok pun berpamitan, bergantian turun di tujuan masing-masing.

“Aku juga akan turun disini.” Ucap Seoyeon melepas seat beltnya.

“Tidak, kau akan kuantarkan sampai apartemen.”

“Iya Seoyeon-ssi. Timjangnim akan kembali ke kantor setelah ini, bukankah itu searah dengan rumahmu?” Sahut karyawan lain yang duduk dibelakang. Ia terus membujuk Seoyeon untuk tetap di mobil itu padahal sendirinya juga ikutan pamit kemudian.

“Tenang saja, aku tidak ada niat untuk mengganggu pacar orang.” Ucap Junhyeok lalu kembali melaju. Mengabaikan Seoyeon yang tampak kesal.

“Tapi serius, kau benar-benar berpacaran dengan pelayan itu?” lanjutnya sambil menyetir. “Kemana si perfectionist Seoyeon yang kukenal?”

Tidak ada jawaban.

“Dulu bahkan aku butuh waktu berbulan-bulan untuk meyakinkanmu karena kau tidak pernah pacaran. Tapi pelayan itu…” Junhyeok melirik Seoyeon sekilas. “Apa dia begitu spesial?”

Mungkin karena sudah terlalu sering mendengarkan pertanyaan semacam ini, atau karena  kesabaran Jaewook yang menular, Seoyeon tidak lagi terlalu memikirkan apa yang dikatakan Junhyeok. Sia-sia saja menjawab pertanyaan bodoh itu. Lebih baik Seoyeon menghabiskan energinya untuk hal lain.

“Bagaimana kabar ahjummoni? Apakah beliau masih sehat?”

Apalagi ini, tiba-tiba saja bertanya tentang keadaan umma Seoyeon. Padahal meskipun sudah empat tahun mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Junhyeok mau mengunjungi kampung halaman mantan pacarnya ini.

Kala itu ada saja alasan yang diucapkan Junhyeok. Bahkan di hari-hari penting seperti peringatan kematian ayah Seoyeon dan ulang tahun ummanya, Junhyeok tak pernah menyempatkan waktu untuk menemaninya pulang kampung.

Yeon-ah! Kau tidak mendengarkanku huh?”

Seoyeon tersentak. Sapaan itu mendadak membuat luka di hati Seoyeon kembali terbuka. Seoyeon ingat setiap kali Junhyeok marah padanya, alih-alih memanggilnya ‘jagiya’, Junhyeok akan memanggilnya dengan sapaan itu.

“Turunkan aku didepan.” Ucap Seoyeon akhirnya.

Junhyeok marah. “Kau berani mengabaikanku?”

“Kubilang turunkan aku didepan.” Seoyeon memutar kepalanya, membalas tatapan Junhyeok dengan yakin.

 Junhyeok tiba-tiba membanting setir ke kanan, mobil itu berhenti mendadak di pinggir jalan. Membuat tubuh Seoyeon terdorong ke depan sebelum sabuk pengaman menahannya kembali. Mesin masih menyala, lampu sein berkedip pelan namun Junhyeok belum sedikit pun mengizinkan Seoyeon keluar.

Pintu tetap terkunci. Keheningan menekan di antara mereka, jauh lebih bising daripada suara mesin yang bergetar di udara malam.

“Kau anggap aku apa, huh?” suara Junhyeok bergetar, penuh tekanan.

Sesuatu di dalam diri Seoyeon akhirnya retak. Untuk pertama kalinya, ia tak menelan amarah itu sendirian.

“GEUMANHAE! Jebal geumanhae!!”

Bentakan itu meluncur begitu saja. Kasar, jujur, tanpa saringan. Ini pertama kalinya Seoyeon membalas suara Junhyeok dengan nada setinggi itu, membuat Junhyeok terkesiap. Tangannya yang masih mencengkeram setir mengendur sesaat, seolah ia tak pernah menduga perlawanan akan datang dari Seoyeon.

Kesabaran Seoyeon sudah habis. Sudah terlalu lama ia menanggung rasa sakit yang tidak seharusnya ia dapatkan. Seoyeon tahu ia pantas untuk diperlakukan dengan baik. Oleh siapapun. Terutama seseorang yang meninggalkan luka terbesar dalam hidupnya ini.

“Jadi kau berani denganku?” Kali ini Junhyeok meninggikan suaranya.

“Kau dan aku sudah selesai!” Bentak Seoyeon. “JADI KUMOHON BERHENTILAH, KIM JUNHYEOK!”

PLAKK!! Saat itulah tamparan keras mendarat di pipi Seoyeon. Ia terperanjat. Begitu pula dengan Junhyeok yang tidak pernah menyangka motoriknya akan lebih dulu mengambil alih sebelum logikanya sempat bekerja.

Rambut Seoyeon terkoyak karena tamparan itu. Ia mengangkat tangan, menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ssementara keheningan di dalam mobil berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada teriakan apa pun.

Yang terdengar kemudian hanya bunyi kunci pintu penumpang yang telah dibuka. Mempersilakan Seoyeon pergi tanpa suara.

Seoyeon turun dari mobil dengan langkah linglung, menutup pintu tanpa menunggu sepatah kata pun dari pemiliknya. Ia tahu betul seberapa tebal tumpukan gengsi yang dimiliki Junhyeok. Hingga kapan pun, kata maaf bukanlah sesuatu yang mungkin keluar darinya.

Sejurus kemudian mobil itupun meluncur jauh, meninggalkan Seoyeon yang berjalan tertatih. Kepalanya terasa ngilu, dadanya sesak. Memori yang menyakitkan dengan cepat memenuhi amigdala dalam otaknya. Membangkitkan trauma yang sudah lama ia simpan rapat-rapat.

Sekuat tenaga Seoyeon berusaha mengatur napas, menekan kuat-kuat rasa sakit yang meremas dadanya. Setiap tarikan udara terasa dangkal, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Tangan kirinya gemetar saat merogoh tas, jari-jarinya sibuk mencari ponsel dengan gerakan tak teratur.

‘Wook-ie’.

Nama kontak itu akhirnya muncul di layar, membuat matanya bergetar. Demi Tuhan, ia ingin bertemu namja itu lebih dulu sebelum penyakitnya kembali kambuh. Sebelum dirinya benar-benar jatuh.

Bertahanlah, Seoyeon-ah… bertahanlah, bisiknya dalam hati, seperti doa yang dipanjatkan dalam keheningan.

“Yeoboseyo?”

Tepat saat suara itu terdengar dari ujung telepon, pertahanan Seoyeon runtuh sepenuhnya. Kepalanya terasa nyeri tak tertahankan, berdenyut hebat hingga pandangannya mengabur. Ia mencoba menarik napas, namun tak satu pun udara berhasil masuk. Dadanya sesak, jantungnya berdegup liar, sementara kedua kakinya perlahan kehilangan kekuatan.

Di tepi jalan dekat Itaewon, Seoyeon pingsan.

***

                Langit-langit berwarna putih dengan cahaya yang terlalu terang menyambut pandangan Seoyeon. Asing, menyilaukan, dan membuat kepalanya berdenyut pelan. Ia mengedarkan mata dengan napas tertahan. Di sekelilingnya tirai-tirai tertutup rapat, warnanya senada dengan langit-langit dan selimut yang kini membungkus tubuhnya. Dingin dan steril.

Ada bau obat yang samar. Ada keheningan yang terlalu rapi.

Rumah sakit.

Kesadaran itu datang perlahan, bersamaan dengan denyut nyeri di dadanya. Seseorang pasti telah membawanya ke tempat ini. Seseorang yang menemukannya tergeletak, sendirian di tepi jalan 

                Seoyeon meraih hp yang tergeletak di meja samping ranjangnya. Pukul 22.12. Mungkin sekitar 2 jam yang lalu ia pingsan.

                “Oh.. anda sudah siuman?” Seorang berseragam biru muda membuka tirai dan mendapati Seoyeon sibuk dengan handphonenya. “Apa ada keluhan?” ucapnya lalu mengambil tensimeter untuk mengecek tekanan darah Seoyeon.

                Seoyeon menggeleng. “Siapa yang membawaku kemari?”

                “Kami mendapat laporan dari seorang wanita paruh baya.” Jawab perawat itu. “Setelah ambulance datang kemari, kemudian seseorang laki-laki datang mengaku sebagai wali anda.”

                Jaewook. Pasti dia Jaewook, pikir Seoyeon.

                Seoyeon masih menunggu beberapa saat sampai jarum infus dilepas dari punggung tangannya dan ia diperbolehkan pulang. Rupanya administrasi rumah sakit sudah lunas dibayar Jaewook, namun entah kenapa sampai sekarang namja itu justru tidak bisa dihubungi.

Begitu keluar dari rumah sakit, Seoyeon melangkahkan kakinya ke rumah Jaewook, bukan pulang untuk beristirahat seperti seharusnya. Ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak kesendirian, yang memaksanya mencari satu-satunya tempat yang terasa aman.

Dengan tubuh yang masih lemah, ia menaiki tangga menuju lantai atas dengan susah payah. Setiap langkah terasa berat, seolah sisa-sisa pusing dan nyeri belum benar-benar pergi. Namun setibanya di depan rumah itu, harapannya meredup. Lampu masih padam, jendela terlihat gelap.

Seoyeon menekan bel sekali. Tidak ada jawaban.

Ia menekannya lagi. Dan lagi.

Tetap sunyi.

Dadanya menghangat oleh rasa cemas yang pelan-pelan berubah menjadi perih. Di manakah Jaewook sebenarnya? Mengapa setelah menemuinya di rumah sakit, namja itu justru pergi begitu saja?

                Seoyeon sudah mencoba menelfon tempat dimana Jaewook bekerja, tapi mereka mengatakan hari ini ia tidak berangkat tanpa keterangan.

                Entah kenapa kali ini perasaan Seoyeon tidak enak. Sebelumnya mereka sering berpapasan tanpa sengaja, kini bahkan saat Seoyeon terang-terangan mencari Jaewook, namja itu tidak terlihat dimanapun. Seoyeon bahkan mengecek minimarket dan juga café yang sudah jelas-jelas Jaewook tidak sedang bekerja disana, namun tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban.

                Jaewook… dia tidak apa-apa kan?

                Kenapa ia tiba-tiba menghilang? Kenapa tidak ada satupun jejak yang bisa menjadi petunjuk keberadaan Jaewook? Padahal sudah jelas-jelas tadi Seoyeon melihat tanda tangan Jaewook selaku wali nya di rumah sakit. Namun hanya selang beberapa jam kemudian tiba-tiba saja namja itu lenyap seolah tidak pernah berada disana.

                Rasa penasaran Seoyeon berubah menjadi panik. Nafasnya tertahan di tenggorokan, seperti ada beban tak kasat mata yang menekan dadanya. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir begitu saja sementara rasa sakit yang datang mendadak menghantam seperti petir di malam hari.

Seoyeon menolak mengakuinya. Ia tak mau mengakui bahwa Jaewook pergi begitu saja tanpa aba-aba, meninggalkan kekosongan yang bahkan belum sanggup ia cerna.

***

Beberapa hari berselang, keberadaan Jaewook benar-benar lenyap seolah ditelan bumi.  Rasa sakit yang tak pernah mampu Seoyeon prediksi pun mulai menjalar di tubuhnya. Perlahan namun pasti, seperti penyakit langka tanpa obat yang menggerogoti dari dalam.

Seoyeon bahkan sampai mendatangi pemilik apartemen Jaewook, memaksakan diri menanyakan keberadaan namja itu. Namun ketika fakta itu akhirnya terungkap, bukannya memberi kejelasan, justru membuat rasa sakit di dadanya membesar berkali-kali lipat.

Apartemen Jaewook kosong. Tidak ada satupun barang didalamnya. Seakan-akan tempat itu tak pernah dihuni. Seakan-akan Jaewook tidak pernah ada.

                Apakah itu bahkan mungkin untuk seseorang yang sangat Seoyeon kenali tiba-tiba lenyap begitu saja?

                Begitu banyak alasan yang Seoyeon susun rapi di dalam kepalanya, kemungkinan-kemungkinan tentang Jaewook yang bisa saja pergi tiba-tiba. Namun tak satu pun terasa pantas untuk menjadi jawaban.

                Kemudian Seoyeon menyadari bahwa meski ia merasa begitu mengenal Jaewook, tidak ada satupun hal dari namja itu yang benar-benar Seoyeon ketahui. Seoyeon tidak tahu darimana asal Jaewook, dimana keluarganya tinggal, siapa saja teman dekatnya, dan informasi penting lainnya yang sangat dibutuhkan seperti sekarang.

                Ternyata selama ini hanya Seoyeon yang membuka pintu-pintunya, sedangkan Jaewook tidak. Seoyeon tidak mengenal Jaewook sebanyak Jaewook mengenalnya. Rasanya sungguh tidak pantas jika Seoyeon bahkan ingin marah, karena kenyataannya Jaewook tidak benar-benar dimilikinya.

Seoyeon terpaku menatap monitor dengan tatapan yang kosong, menyadari satu hal. Kepergian Jaewook bukanlah kebetulan, melainkan sebuah pilihan. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ditinggalkan dengan sadar.

Air matanya jatuh tanpa siapapun tahu. Pada saat itu, dunia Seoyeon seolah berhenti bergerak. Namun bagi orang lain, waktu tetap berjalan, tak peduli pada apa yang runtuh di dalam dirinya.

Meskipun tertatih, Seoyeon tetap bangkit. Ia menjalani hari-harinya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Menyembunyikan luka di balik kebiasaan, dan belajar tersenyum di atas perasaan yang perlahan hancur.

                “Onni, apa kau sudah dengar kabar dari Hanwool?” suara rekan kerja Seoyeon membuyarkan lamunannya.

                Seoyeon memundurkan kursinya, sedikit menoleh dibalik sekat meja yang menjadi penghalang mereka berdua.

                “…Kudengar Junhyeok sajangnim dipecat dari Hanwool.”

                Seoyeon mengerjap. Ada jeda sepersekian detik sebelum kata-kata itu benar-benar sampai ke dalam kesadarannya. “Apa kau bilang?”

                Rekan kerja Seoyeon berujar lagi, “Dan apa onni tahu sesuatu yang lebih mengejutkan?”

                Kali ini Seoyeon menata ekspresinya agar tidak terlalu heboh seperti sebelumnya. “Cepat katakan.”

                “Kudengar mereka tertarik untuk merekrut karyawan dari perusahaan kita.” Jawab yeoja itu. “Dan onni adalah salah satunya.”

Usaha Seoyeon gagal. Ia terkesiap mendengar kalimat itu. Terlalu banyak hal yang tiba-tiba bertabrakan di kepalanya. Nama Junhyeok, Hanwool, dan dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya hari itu, Seoyeon benar-benar kehilangan kata-kata.

-To Be Continue-


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...