Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 10/END]

Tittle                    : Unveil [Part 10/END]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Cahaya keemasan menyapa Seoyeon yang duduk di bangku panjang tepian jalan, berseberangan dengan tetrapod pemecah ombak. Warna laut kebiruan membentang di depannya, bersiap menyembunyikan matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.

Pemandangan ini membuat Seoyeon bernostalgia. Dulu waktu kecil ia sangat menyukai duduk di pinggiran teras rumah saat senja sembari menunggu ayahnya pulang. Namun setelah ia kuliah dan bekerja di Seoul, Seoyeon sering melewatkannya. Bahkan ketika ia sangat sibuk, Seoyeon sampai tidak bisa membedakan kapan siang kapan malam.

Tapi sekarang Seoyeon sendiri tak percaya bahwa ia kembali ke tempat ini. Setelah menyerah dengan pekerjaannya… dengan dunianya… dan bahkan dengan dirinya, Seoyeon memilih untuk pulang. Ia tidak hanya menolak bekerja di Hanwool, tapi juga mengundurkan diri dari Luminate dan mengambil semua tabungan serta deposito apartemennya.

Seoyeon kembali ke titik awal. Setelah tombol on dimatikan oleh Jaewook, tidak ada pilihan lain selain menekan tombol restart.

“Seoyeon-ah bisakah kau membersihkan meja nomor 5?” umma Seoyeon berteriak dari dalam kedainya. Menyadarkan Seoyeon yang sempat beristirahat sejenak didepan untuk kembali bekerja.

Seoyeon merasa beruntung bahwa ia masih memiliki ummanya. Ketika pulang membawa 2 koper berukuran 28 inchi, beliau tidak melontarkan satupun pertanyaan. Alih-alih penasaran dengan alasan Seoyeon kembali, ummanya justru menyambut dengan gembira. Dan bahkan bercanda bahwa ia bingung bagaimana menggaji seorang sarjana ilmu komunikasi lulusan Seoul University, karena Seoyeon bilang mulai hari itu ia ingin bekerja di kedai milik ummanya.

Gomawo uri ddal (terimakasih putriku). Semenjak kau membantu umma, kedai ini jadi jauh lebih ramai.”

Seoyeon tertawa. “Jangan berbohong umma. Sejak dulu kan memang tempat ini selalu ramai.”

“Aniyaa, beberapa bulan ini memang penjualan meningkat drastis.” Lee ahjumma ikut-ikutan. “Apa kau lupa? Sekarang banchan yang kita buat bahkan ludes sebelum jam 9 pagi.”

Mereka berdua memang kompak untuk hal semacam ini.

“Yeon-ah, sebaiknya kau pulang sekarang. Sisanya serahkan pada umma dan Lee ahjumma.”

“Aniyo Umma! Aku akan mencuci semuanya sebelum pulang.”

Umma Seoyeon menghela nafas. Seoyeon memang sama persis dengan dirinya, sama-sama keras kepala. Sepertinya anak semata wayangnya ini tengah mencari kesibukan untuk mengalihkan perhatiannya.

Namun umma Seoyeon merasa bersyukur karena Seoyeon memilih pulang. Dengan begitu setidaknya ia bisa memastikan anak kesayangannya hidup dengan layak.

***

                Tok..tok..

                “Ne umma. Masuklah.”

                Seoyeon yang sedang rebahan di kasur langsung berdiri saat melihat ummanya datang sambil membawa meja lipat. Disana terlihat kepulan asap yang menari-nari diatas mangkuk berisi jjamppong pedas. Tak hanya jjamppong, umma Seoyeon juga membuatkan jeon lengkap dengan banchan andalan, serta buah peach yang sudah dipotong-potong.

                “Umma… sudah kubilang kan aku akan makan nanti saja.”

                Gwenchana-gwenchana. Mumpung jjampongnya masih panas.” Ummanya meletakkan meja lipat itu dilantai kamar Seoyeon.

                “Umma tidak makan?”

                “Aku sudah makan bersama Lee Ahjumma di kedai tadi.”

                Seoyeon hanya ber-oh lalu mengambil sendok dan menyeruput jjamppong kesukaannya itu. Dalam diam Seoyeon melirik ummanya, rupanya beliau tengah terpaku melihat sebuah lukisan yang bertengger tepat di depan tempat tidur. Umma Seoyeon hafal sekali kalau sebelum lukisan itu dipasang disana, tempat itu dipakai untuk bingkai foto keluarga kecil mereka.

                “Apa kau tidak merindukannya?” tiba-tiba beliau bertanya.

                Tak ada jawaban, seolah Seoyeon tidak mendengar pertanyaan itu.

                Meskipun umma Seoyeon tak mengetahui petunjuk apapun tentang alasan Seoyeon pulang kerumah, namun beliau tahu bahwa pemilik lukisan ini pasti meninggalkan kesan yang mendalam di hati Seoyeon. Setiap kali ummanya melihat Seoyeon dari balik jendela, ia selalu memergoki anak gadisnya tengah menatap lukisan itu dengan sedih. Padahal lukisan abstrak itu tidak memperlihatkan wajah siapapun disana.

                “Kau tahu kan umma sangat bahagia saat kau datang kesini?” tanya umma Seoyeon yang dibalas dengan anggukan. “Sebesar apapun kebahagiaan yang umma dapatkan, tapi umma akan jauh lebih bahagia jika putri umma juga bahagia.”

                Seoyeon terdiam menebak arah pembicaraan itu.

                “Sebenarnya setiap minggu ia kemari, Yeon-ah. Temanmu yang pernah datang kesini.”

                Gerakan tangan Seoyeon terhenti tapi ia masih menunduk.

                “Pernah tanpa sengaja umma melihatnya duduk di depan kedai saat hari minggu. Umma bilang kedai kami tutup dan menawarkan untuk datang kemari. Tapi ia menolak. Jadi umma membuatkannya semangkuk mandu guksu...” Lanjut Umma Seoyeon.

                “…Ia bilang jangan sampai Seoyeon tahu tentang keberadaannya, dan berjanji akan mampir lagi. Jadi seminggu kemudian umma kembali ke kedai siapa tahu dia ada disana. Dan.. ternyata ia menepati janjinya. Setelah itu umma jadi selalu bertemu dengannya setiap minggu, karena ia ingin tahu bagaimana kabarmu.”

                Bola mata Seoyon mendadak panas. Ia menutup matanya sambil terus menunduk, takut ketahuan.

                “Dan setiap kali datang, ia selalu meminta maaf, Yeon-ah.” Suara umma Seoyeon berubah serak. “Tidak jarang ia menangis sambil bercerita. Bahkan berlutut beberapa kali dihadapan umma. Dia bilang, dialah penyebab kau jadi seperti sekarang.”

                Saat itu juga Seoyeon tidak bisa menahan bulir yang mendesak dari balik kelopak matanya. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras.

                “Maafkan umma Seoyeon-ah. Umma tahu tidak seharusnya mencampuri urusan kalian berdua.” Umma Seoyeon lalu meletakkan secarik kertas diatas meja. “Keputusan tetap berada ditanganmu. Pilihlah sesuatu yang tidak akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Apapun pilihanmu, Umma akan tetap berada di pihakmu, kau tau kan?”

                Seoyeon tidak menjawab. Hanya melihat ke arah kertas yang umma tinggalkan di atas meja. Setelah pintu tertutup dan ummanya pergi, tangis Seoyeon pun pecah.

***

                Hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang di trotoar melewati Seoyeon begitu saja, seolah ia tak ada. Sebagian setengah berlari menuju halte demi mengejar bus, sementara yang lain tenggelam dalam layar smartphone, melangkah tanpa benar-benar melihat ke depan.

                Suasana ini tentu saja familiar bagi Seoyeon. Bahkan bisa dibilang diam-diam ia merindukannya. Udara Seoul yang terasa sesak dengan setumpuk pekerjaan yang menghantuinya dulu, kini jadi bagian dari kesunyian yang sudah lama tidak ia rasakan.

                Seoyeon sempat mengecek penampilannya sekilas. Hari itu, ia tampak anggun dalam balutan formal dress berwarna krem selutut yang dipadukan dengan outer biru navy. Setelah memastikan segalanya, ia pun melangkah masuk ke galeri yang menjadi tujuan utamanya hari ini.

                Suara langkah high heels Seoyeon menarik perhatian di tempat itu, karena pengunjung cukup sepi mengingat hari ini hari terakhir pameran. Semakin masuk ke dalam, hatinya semakin terasa janggal. Paduan warna yang familiar, goresan yang repetitif dan bentuk yang sangat Seoyeon kenal memenuhi gallery itu.

                Sampai sebuah objek membuat langkahnya terhenti. Begitu besar, tergantung tepat di tengah-tengah. Seperti sengaja dibiarkan agar menarik perhatian.

                Entah kenapa yang satu ini sangat berbeda. Sentuhannya begitu detail dengan pendaran cahaya yang membias di setiap inci wajah. Bahkan rambut low messy bun itu tampak sangat nyata, garis-garis helainya bisa jelas terlihat dari kejauhan.

                Langkah Seoyeon terhenti. Tubuhnya seakan membeku, telinganya menutup dari suara seseorang yang memanggil namanya. Sampai akhirnya sosok itu berdiri di hadapannya, memutus pandangannya dari lukisan tadi. Lukisan yang menampilkan wajahnya sendiri.

                “Nuna–”

                Seoyeon mendongak, kedua pasang mata yang berkaca-kaca tertangkap di pandangannya. Saat itulah semua beban yang berada dibahunya mendadak hilang. Rasa sakit yang lama ia sembunyikan tiba-tiba sirna. Dan kerinduan yang ia simpan rapat-rapat kini membuncah.

                Lengan Jaewook langsung menarik Seoyeon kedalam dadanya, ia memeluknya. Erat. Seakan-akan seluruh hidupnya ia pertaruhkan untuk hari ini. Seakan akan tidak ada hari esok. Seakan-akan seseorang yang ada dalam pelukannya sebentar lagi menghilang.

                Pelukan yang sudah lama ia nantikan. Yang bahkan tidak berani ia bayangkan akan terjadi.

                Tanpa Seoyeon ketahui, rupanya kata-kata yang pernah ia ucapkan sangat mengena di hati umma Jaewook. Pertemuan dengan Seoyeon terakhir kali membuat wanita keras kepala itu mulai berfikir dari sisi yang lain. Sampai akhirnya membawa percakapan mendalam dengan anak semata wayangnya.

Dan tak perlu waktu lama, kini telah lahir mimpi Jaewook yang tertunda, yaitu membuat pameran lukisan.

                Pameran lukisan ini sepenuhnya merupakan hasil kerja keras Jaewook. Ia berhasil menjalin kerja sama dengan seseorang yang pernah memberinya tawaran di masa lalu. Meski mimpinya akhirnya berhasil ia raih, hubungan Jaewook dengan ummanya pun berakhir dengan baik. Jaewook tetap memperoleh haknya sebagai pemilik saham Hanwool, sementara posisi presiden direktur dilanjutkan oleh ummanya, dengan dukungan orang-orang kepercayaan mereka.

                Saat ini Jaewook bekerja di Hanwool sebagai Head of Development selama 3 hari dalam seminggu, seperti kontrak yang ia minta. Sisanya ia akan fokus menyelesaikan hobinya yaitu melukis. Jaewook memiliki banyak waktu luang, oleh karena itu setiap akhir pekan ia bisa menyetir 4 jam sampai ke Boryeo untuk bertemu dengan umma Seoyeon.

                Keadaan berjalan seolah kembali normal. Namun tidak bagi Jaewook. Di dalam hatinya masih menganga sebuah lubang besar, kosong, yang tak sanggup ia tutupi oleh apa pun, kecuali sosok yang sejak dulu ia rindukan.

                Jaewook sangat menghargai keputusan Seoyeon. Ia tahu benar bahwa ia salah. Karena itu Jaewook tidak memiliki sedikitpun keberanian untuk membawa Seoyeon kembali padanya.

                Sampai ketika undangan pameran ini ia berikan pada umma Seoyeon. Jaewook tidak berharap jika Seoyeon melihatnya. Ia hanya ingin membagikan pencapaian itu pada umma Seoyeon. Namun melihat Seoyeon berada disini sekarang, akhirnya Jaewook sanggup mempercayai bagaimana semesta bekerja.

                “Maaf sudah membuatmu menunggu lama, Jaewook-ah.”

                Jaewook menggeleng. Melepaskan pelukannya sembari menghapus air mata di pipi Seoyeon. “Bahkan untuk menunggu pun aku tidak pantas nuna.”

                Gantian Seoyeon yang menyangkal. Ia menyentuh lengan Jaewook lembut.

                Andai saja Jaewook tahu, sebelum ia akhirnya sampai disini ada beribu banyak pertimbangan yang melintas dalam pikirannya. Seoyeon bingung harus mengikuti logikanya atau kata hatinya.

                Dengan sadar Seoyeon tahu bahwa Jaewook telah menyakitinya, meninggalkannya dan bahkan membohonginya. Namun disisi lain Seoyeon faham betul bahwa ada alasan dibalik semua itu. Ada alasan kenapa Jaewook memilih pergi tepat ketika Seoyeon benar-benar membutuhkannya.

                Karena Jaewook sangat menyayanginya.

                Ketulusan dan harapan yang tidak berjalan searah, membawa keduanya berhenti di persimpangan. Kemudian memilih untuk pergi ke jalan masing-masing.

                Meskipun kisah ini terasa begitu menyakitkan, namun ada sebuah seni dibaliknya. Seni dalam menunggu seseorang, dalam memaafkan kesalahan, dan dalam menikmati waktu istirahat. Sebuah proses yang tanpa disadari membawa pada jawaban.

Bahwa pada akhirnya, suara hati adalah hal yang paling penting.    

Barangkali bukan salah siapapun. Mungkin memang timingnya yang belum tepat. Mungkin pula belum saatnya mereka bertemu di tengah keadaan yang sama-sama sulit. Namun kini, setelah Seoyeon berdamai dengan masa lalunya dan Jaewook menemukan kembali hidup yang sempat hilang, akhirnya mereka berdua kembali dipertemukan.

                “Lukisan itu indah sekali.”

                Jaewook tersenyum, “Aslinya jauh lebih indah.”

                Kalimat Jaewook membuat Seoyeon menoleh sambil tersenyum. Betapa ia sangat merindukan seseorang yang berdiri disampingnya ini.

                 “Sekali lagi maafkan aku nuna. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun.”

                Seoyeon mengangguk sambil kembali melingkarkan tangannya di badan Jaewook. Sepertinya keranjang kerinduan yang sudah lama kosong itu belum terisi penuh.

***

                Seoul. 2 tahun kemudian.

                Timjangnim, kau sudah dijemput.”

                Suara itu mengalihkan atensi Seoyeon yang tengah memimpin meeting. “Bilang padanya untuk tunggu sebentar.” Dan melanjutkan pembacaan proposal yang sudah hampir selesai.

                10 menit… 30 menit… karyawan itu kembali muncul dari balik pintu. “Maaf timjangnim, tapi kata beliau…”

                “Sudah yeobo. Ini sudah jam 8 malam.”

                Ah… memalukan sekali. Bisa-bisanya Jaewook ikutan masuk ke dalam ruang meeting dan memanggilnya ‘yeobo’? Apa dia lupa ini sedang dikantor? Sudah jelas-jelas Seoyeon sedang bekerja. Meskipun kenyataanya semua orang disana tahu bahwa mereka berdua adalah pasangan suami istri.

                Setelah bertemu kembali di Seoul, Jaewook meminta izin untuk membawa Seoyeon menemui ummanya. Karena memang sudah sejak lama umma Seoyeon ingin meminta maaf langsung pada Seoyeon atas perbuatannya. Dalam kesempatan itulah beliau kembali menawarkan posisi yang sebelumnya Seoyeon tolak.

                Seoyeon tidak ingin mendapatkan pekerjaan dengan cara yang instan. Jadi alih-alih langsung menerima tawaran itu, ia justru meminta 1 project untuk dikerjakan. Jika project Seoyeon berhasil, barulah ia setuju untuk bekerja disana.

                Proyek yang dipercayakan kepada Seoyeon bukanlah proyek kecil. Ia harus memimpin pengembangan lini leather klasik Hanwool, yang akan menjadi penentu arah perusahaan ke depan. Dengan fokus pada penyempurnaan desain yang tak lekang waktu tanpa mengorbankan nilai craftsmanship khas perusahaan.

Dan bukan Seoyeon namanya jika tidak mampu menaklukan tantangan. Dengan percaya diri ia mempresentasikan hasil karyanya bukan hanya didepan umma Jaewook selaku CEO, namun juga dihadapan para investor asing yang siap membawa Hanwool ke kancah global.

Langkah sulit itulah yang membawa Seoyeon diposisi sekarang, menjadi Product Director sekaligus menantu dari pemilik Hanwool karena enam bulan yang lalu ia melangsungkan pernikahan dengan Jaewook.

“Aku ingin makan ramen.”

“Baiklah.. nanti akan kubuatkan.” Ucap Jaewook sambil menyetir.

“Tapi kau juga harus menemaniku setelah makan.” Seoyeon setengah merajuk.

“Tentu saja aku akan menemanimu, yeobo.”

“Tapi tadi malam setelah makan kau langsung pergi kebawah.” Ucapnya menyebutkan studio room, tempat Jaewook menghabiskan waktunya untuk melukis.

“Maaf… kukira kau sudah tidur.”

Seoyeon cemberut. “Bisakah kau berhenti melukis wajahku huh? Bukannya dulu lukisanmu abstrak.” Gerutunya sambil membuang muka. “Setiap kali aku datang ke pameranmu, orang-orang selalu melihat ke arahku karena hampir semua lukisan disana adalah sketsa wajahku.”

Tawa Jaewook meledak. Baru kali ini ia mendengar isi hati Seoyeon. Jaewook tidak menyangka bahwa istrinya berkata demikian, karena bagi Jaewook isi kepalanya hanyalah Seoyeon. Jadi gambaran itulah yang akhirnya sampai di atas kanvasnya.

Arraseo… mianhe yeobo. Aku tidak akan memajang wajahmu lagi di pameran.”

“Tidak-tidak. Maksudku… jangan sebanyak itu.” Ralat Seoyeon cepat.

Ah…

“Baiklah. Tapi tolong jangan melarangku untuk terus membuat lukisan wajahmu ya.” Sebelah tangan Jaewook mengelus kepala Seoyeon. “Sampai kapanpun aku akan tetap melukisnya. Tapi hanya ada beberapa yang akan ku pamerkan.”

Begitu kan maksudnya?

Seoyeon tersenyum. “Jangan lupa ramen.”

Arraseo. Sebentar lagi kita sampai.”

Seoyeon yang dulu Jaewook kenal sebagai wanita pendiam dengan begitu banyak luka, kini menjadi seorang istri yang manja namun pengertian. Jaewook sekali lagi jatuh cinta dengan sisi lain dari Seoyeon, sisi yang Jaewook tahu itu pertanda bahwa pintu-pintu milik Seoyeon telah terbuka.

Dan Jaewook yang dulu Seoyeon kenal sebagai laki-laki tenang sekaligus misterius, kini menjadi sosok suami yang bertanggung jawab dan sabar. Membuat Seoyeon semakin nyaman memperlihatkan dirinya, karena ia merasa diterima.

Seoyeon pikir untuk mencintai seseorang butuh usaha yang besar. Butuh pengorbanan. Butuh rasa sakit untuk mempertahankannya. Namun kini Seoyeon sadar, di waktu yang tepat cinta itu akan datang tanpa usaha berlebihan. Tanpa harus dipaksa. Justru membawa tenang dan kenyamanan.

Perasaan yang belum pernah Seoyeon rasakan sebelumnya.

Bagi Seoyeon, luka adalah cara untuk bertahan dalam diam. Ia percaya kesendirian adalah bentuk perlindungan paling aman. Sedangkan Jaewook, membawa kesepian yang sama sunyinya, tapi dengan hati yang tetap utuh. Ia tidak datang untuk memaksa, justru kehadiran yang tidak menuntut.

Dan di saat itulah Seoyeon mengerti. Bukan lagi luka yang ia sembunyikan, melainkan hati yang akhirnya berani dibuka setelah sekian lama dijaga. Oleh orang yang tepat.

Unveil.

-The End-

 

AKHIRNYA! SETELAH 2 BULAN BIKIN FF INI, AKHIRNYA AKU BISA POSTING SAMPAI ENDING.

Jujur ini pertamakalinya aku posting FF berpart kaya gini langsung sekaligus sape ending. itupun dengan revisi yang lebih dari 5x setiap partnya. Makanya ga heran butuh 2 bulan buat selesaiinya.

FF ini aku buat untuk diriku sendiri. sebagai media meluapkan inspirasi yang memenuhi kepala. Aku seneng bisa menyelesaikannya dan menang bertarung dengan rasa malasku haha

Semoga ada FF lain yaaa yang bisa aku bikin lagi. aku kangen jadi produktif!


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...