Tittle : Unveil [Part 10/END]
Author : Icha Ichez
Genre : Romance, Angst, Trauma,
Healing
Cast : Lee Jaewook, Kang
Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length : Chapter
Desclaimer :
This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the
character is not real. Enjoy reading!
Cahaya keemasan menyapa Seoyeon yang duduk
di bangku panjang tepian jalan, berseberangan dengan tetrapod pemecah ombak.
Warna laut kebiruan membentang di depannya, bersiap menyembunyikan matahari
yang sebentar lagi akan tenggelam.
Pemandangan ini membuat Seoyeon
bernostalgia. Dulu waktu kecil ia sangat menyukai duduk di pinggiran teras
rumah saat senja sembari menunggu ayahnya pulang. Namun setelah ia kuliah dan
bekerja di Seoul, Seoyeon sering melewatkannya. Bahkan ketika ia sangat sibuk,
Seoyeon sampai tidak bisa membedakan kapan siang kapan malam.
Tapi sekarang Seoyeon sendiri tak percaya
bahwa ia kembali ke tempat ini. Setelah menyerah dengan pekerjaannya… dengan
dunianya… dan bahkan dengan dirinya, Seoyeon memilih untuk pulang. Ia tidak
hanya menolak bekerja di Hanwool, tapi juga mengundurkan diri dari Luminate dan
mengambil semua tabungan serta deposito apartemennya.
Seoyeon kembali ke titik awal. Setelah
tombol on dimatikan oleh Jaewook, tidak ada pilihan lain selain menekan
tombol restart.
“Seoyeon-ah bisakah kau membersihkan meja
nomor 5?” umma Seoyeon berteriak dari dalam kedainya. Menyadarkan Seoyeon yang
sempat beristirahat sejenak didepan untuk kembali bekerja.
Seoyeon merasa beruntung bahwa ia masih
memiliki ummanya. Ketika pulang membawa 2 koper berukuran 28 inchi, beliau
tidak melontarkan satupun pertanyaan. Alih-alih penasaran dengan alasan Seoyeon
kembali, ummanya justru menyambut dengan gembira. Dan bahkan bercanda bahwa ia
bingung bagaimana menggaji seorang sarjana ilmu komunikasi lulusan Seoul
University, karena Seoyeon bilang mulai hari itu ia ingin bekerja di kedai
milik ummanya.
“Gomawo uri ddal (terimakasih
putriku). Semenjak kau membantu umma, kedai ini jadi jauh lebih ramai.”
Seoyeon tertawa. “Jangan berbohong umma.
Sejak dulu kan memang tempat ini selalu ramai.”
“Aniyaa, beberapa bulan ini memang
penjualan meningkat drastis.” Lee ahjumma ikut-ikutan. “Apa kau lupa? Sekarang
banchan yang kita buat bahkan ludes sebelum jam 9 pagi.”
Mereka berdua memang kompak untuk hal
semacam ini.
“Yeon-ah, sebaiknya kau pulang sekarang.
Sisanya serahkan pada umma dan Lee ahjumma.”
“Aniyo Umma! Aku akan mencuci semuanya
sebelum pulang.”
Umma Seoyeon menghela nafas. Seoyeon memang
sama persis dengan dirinya, sama-sama keras kepala. Sepertinya anak semata
wayangnya ini tengah mencari kesibukan untuk mengalihkan perhatiannya.
Namun umma Seoyeon merasa bersyukur karena
Seoyeon memilih pulang. Dengan begitu setidaknya ia bisa memastikan anak kesayangannya
hidup dengan layak.
***
Tok..tok..
“Ne umma. Masuklah.”
Seoyeon yang sedang rebahan di
kasur langsung berdiri saat melihat ummanya datang sambil membawa meja lipat.
Disana terlihat kepulan asap yang menari-nari diatas mangkuk berisi jjamppong
pedas. Tak hanya jjamppong, umma Seoyeon juga membuatkan jeon lengkap dengan
banchan andalan, serta buah peach yang sudah dipotong-potong.
“Umma… sudah kubilang kan aku
akan makan nanti saja.”
“Gwenchana-gwenchana.
Mumpung jjampongnya masih panas.” Ummanya meletakkan meja lipat itu dilantai
kamar Seoyeon.
“Umma tidak makan?”
“Aku sudah makan bersama Lee
Ahjumma di kedai tadi.”
Seoyeon hanya ber-oh lalu
mengambil sendok dan menyeruput jjamppong kesukaannya itu. Dalam diam Seoyeon
melirik ummanya, rupanya beliau tengah terpaku melihat sebuah lukisan yang
bertengger tepat di depan tempat tidur. Umma Seoyeon hafal sekali kalau sebelum
lukisan itu dipasang disana, tempat itu dipakai untuk bingkai foto keluarga
kecil mereka.
“Apa kau tidak merindukannya?”
tiba-tiba beliau bertanya.
Tak ada jawaban, seolah Seoyeon
tidak mendengar pertanyaan itu.
Meskipun umma Seoyeon tak
mengetahui petunjuk apapun tentang alasan Seoyeon pulang kerumah, namun beliau
tahu bahwa pemilik lukisan ini pasti meninggalkan kesan yang mendalam di hati
Seoyeon. Setiap kali ummanya melihat Seoyeon dari balik jendela, ia selalu
memergoki anak gadisnya tengah menatap lukisan itu dengan sedih. Padahal
lukisan abstrak itu tidak memperlihatkan wajah siapapun disana.
“Kau tahu kan umma sangat
bahagia saat kau datang kesini?” tanya umma Seoyeon yang dibalas dengan
anggukan. “Sebesar apapun kebahagiaan yang umma dapatkan, tapi umma akan jauh
lebih bahagia jika putri umma juga bahagia.”
Seoyeon terdiam menebak arah
pembicaraan itu.
“Sebenarnya setiap minggu ia
kemari, Yeon-ah. Temanmu yang pernah datang kesini.”
Gerakan tangan Seoyeon terhenti
tapi ia masih menunduk.
“Pernah tanpa sengaja umma
melihatnya duduk di depan kedai saat hari minggu. Umma bilang kedai kami tutup
dan menawarkan untuk datang kemari. Tapi ia menolak. Jadi umma membuatkannya
semangkuk mandu guksu...” Lanjut Umma Seoyeon.
“…Ia bilang jangan sampai
Seoyeon tahu tentang keberadaannya, dan berjanji akan mampir lagi. Jadi
seminggu kemudian umma kembali ke kedai siapa tahu dia ada disana. Dan..
ternyata ia menepati janjinya. Setelah itu umma jadi selalu bertemu dengannya
setiap minggu, karena ia ingin tahu bagaimana kabarmu.”
Bola mata Seoyon mendadak panas.
Ia menutup matanya sambil terus menunduk, takut ketahuan.
“Dan setiap kali datang, ia
selalu meminta maaf, Yeon-ah.” Suara umma Seoyeon berubah serak. “Tidak
jarang ia menangis sambil bercerita. Bahkan berlutut beberapa kali dihadapan
umma. Dia bilang, dialah penyebab kau jadi seperti sekarang.”
Saat itu juga Seoyeon tidak bisa
menahan bulir yang mendesak dari balik kelopak matanya. Ia menggigit bibir
bawahnya keras-keras.
“Maafkan umma Seoyeon-ah. Umma
tahu tidak seharusnya mencampuri urusan kalian berdua.” Umma Seoyeon lalu
meletakkan secarik kertas diatas meja. “Keputusan tetap berada ditanganmu.
Pilihlah sesuatu yang tidak akan membuatmu menyesal di kemudian hari. Apapun
pilihanmu, Umma akan tetap berada di pihakmu, kau tau kan?”
Seoyeon tidak menjawab. Hanya
melihat ke arah kertas yang umma tinggalkan di atas meja. Setelah pintu
tertutup dan ummanya pergi, tangis Seoyeon pun pecah.
***
Hiruk pikuk orang-orang yang
berlalu lalang di trotoar melewati Seoyeon begitu saja, seolah ia tak ada.
Sebagian setengah berlari menuju halte demi mengejar bus, sementara yang lain
tenggelam dalam layar smartphone, melangkah tanpa benar-benar melihat ke
depan.
Suasana ini tentu saja familiar
bagi Seoyeon. Bahkan bisa dibilang diam-diam ia merindukannya. Udara Seoul yang
terasa sesak dengan setumpuk pekerjaan yang menghantuinya dulu, kini jadi
bagian dari kesunyian yang sudah lama tidak ia rasakan.
Seoyeon sempat mengecek
penampilannya sekilas. Hari itu, ia tampak anggun dalam balutan formal dress
berwarna krem selutut yang dipadukan dengan outer biru navy. Setelah memastikan
segalanya, ia pun melangkah masuk ke galeri yang menjadi tujuan utamanya hari
ini.
Suara langkah high heels Seoyeon
menarik perhatian di tempat itu, karena pengunjung cukup sepi mengingat hari
ini hari terakhir pameran. Semakin masuk ke dalam, hatinya semakin terasa
janggal. Paduan warna yang familiar, goresan yang repetitif dan bentuk yang
sangat Seoyeon kenal memenuhi gallery itu.
Sampai sebuah objek membuat
langkahnya terhenti. Begitu besar, tergantung tepat di tengah-tengah. Seperti
sengaja dibiarkan agar menarik perhatian.
Entah kenapa yang satu ini
sangat berbeda. Sentuhannya begitu detail dengan pendaran cahaya yang membias
di setiap inci wajah. Bahkan rambut low messy bun itu tampak sangat nyata,
garis-garis helainya bisa jelas terlihat dari kejauhan.
Langkah Seoyeon terhenti.
Tubuhnya seakan membeku, telinganya menutup dari suara seseorang yang memanggil
namanya. Sampai akhirnya sosok itu berdiri di hadapannya, memutus pandangannya
dari lukisan tadi. Lukisan yang menampilkan wajahnya sendiri.
“Nuna–”
Seoyeon mendongak, kedua pasang
mata yang berkaca-kaca tertangkap di pandangannya. Saat itulah semua beban yang
berada dibahunya mendadak hilang. Rasa sakit yang lama ia sembunyikan tiba-tiba
sirna. Dan kerinduan yang ia simpan rapat-rapat kini membuncah.
Lengan Jaewook langsung menarik
Seoyeon kedalam dadanya, ia memeluknya. Erat. Seakan-akan seluruh hidupnya ia
pertaruhkan untuk hari ini. Seakan akan tidak ada hari esok. Seakan-akan
seseorang yang ada dalam pelukannya sebentar lagi menghilang.
Pelukan yang sudah lama ia
nantikan. Yang bahkan tidak berani ia bayangkan akan terjadi.
Tanpa Seoyeon ketahui, rupanya
kata-kata yang pernah ia ucapkan sangat mengena di hati umma Jaewook. Pertemuan
dengan Seoyeon terakhir kali membuat wanita keras kepala itu mulai berfikir
dari sisi yang lain. Sampai akhirnya membawa percakapan mendalam dengan anak
semata wayangnya.
Dan tak perlu waktu lama, kini telah lahir
mimpi Jaewook yang tertunda, yaitu membuat pameran lukisan.
Pameran lukisan ini sepenuhnya
merupakan hasil kerja keras Jaewook. Ia berhasil menjalin kerja sama dengan
seseorang yang pernah memberinya tawaran di masa lalu. Meski mimpinya akhirnya
berhasil ia raih, hubungan Jaewook dengan ummanya pun berakhir dengan baik.
Jaewook tetap memperoleh haknya sebagai pemilik saham Hanwool, sementara posisi
presiden direktur dilanjutkan oleh ummanya, dengan dukungan orang-orang
kepercayaan mereka.
Saat ini Jaewook bekerja di
Hanwool sebagai Head of Development selama 3 hari dalam seminggu,
seperti kontrak yang ia minta. Sisanya ia akan fokus menyelesaikan hobinya
yaitu melukis. Jaewook memiliki banyak waktu luang, oleh karena itu setiap akhir
pekan ia bisa menyetir 4 jam sampai ke Boryeo untuk bertemu dengan umma
Seoyeon.
Keadaan berjalan seolah kembali
normal. Namun tidak bagi Jaewook. Di dalam hatinya masih menganga sebuah lubang
besar, kosong, yang tak sanggup ia tutupi oleh apa pun, kecuali sosok yang
sejak dulu ia rindukan.
Jaewook sangat menghargai
keputusan Seoyeon. Ia tahu benar bahwa ia salah. Karena itu Jaewook tidak
memiliki sedikitpun keberanian untuk membawa Seoyeon kembali padanya.
Sampai ketika undangan pameran
ini ia berikan pada umma Seoyeon. Jaewook tidak berharap jika Seoyeon
melihatnya. Ia hanya ingin membagikan pencapaian itu pada umma Seoyeon. Namun
melihat Seoyeon berada disini sekarang, akhirnya Jaewook sanggup mempercayai
bagaimana semesta bekerja.
“Maaf sudah membuatmu menunggu
lama, Jaewook-ah.”
Jaewook menggeleng. Melepaskan
pelukannya sembari menghapus air mata di pipi Seoyeon. “Bahkan untuk menunggu
pun aku tidak pantas nuna.”
Gantian Seoyeon yang menyangkal.
Ia menyentuh lengan Jaewook lembut.
Andai saja Jaewook tahu, sebelum
ia akhirnya sampai disini ada beribu banyak pertimbangan yang melintas dalam
pikirannya. Seoyeon bingung harus mengikuti logikanya atau kata hatinya.
Dengan sadar Seoyeon tahu bahwa
Jaewook telah menyakitinya, meninggalkannya dan bahkan membohonginya. Namun
disisi lain Seoyeon faham betul bahwa ada alasan dibalik semua itu. Ada alasan
kenapa Jaewook memilih pergi tepat ketika Seoyeon benar-benar membutuhkannya.
Karena Jaewook sangat
menyayanginya.
Ketulusan dan harapan yang tidak
berjalan searah, membawa keduanya berhenti di persimpangan. Kemudian memilih
untuk pergi ke jalan masing-masing.
Meskipun kisah ini terasa begitu
menyakitkan, namun ada sebuah seni dibaliknya. Seni dalam menunggu
seseorang, dalam memaafkan kesalahan, dan dalam menikmati waktu istirahat. Sebuah
proses yang tanpa disadari membawa pada jawaban.
Bahwa pada akhirnya, suara hati adalah hal
yang paling penting.
Barangkali bukan salah siapapun. Mungkin
memang timingnya yang belum tepat. Mungkin pula belum saatnya mereka bertemu di
tengah keadaan yang sama-sama sulit. Namun kini, setelah Seoyeon berdamai
dengan masa lalunya dan Jaewook menemukan kembali hidup yang sempat hilang, akhirnya
mereka berdua kembali dipertemukan.
“Lukisan itu indah sekali.”
Jaewook tersenyum, “Aslinya jauh
lebih indah.”
Kalimat Jaewook membuat Seoyeon
menoleh sambil tersenyum. Betapa ia sangat merindukan seseorang yang berdiri
disampingnya ini.
“Sekali lagi maafkan aku nuna. Aku berjanji
tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun.”
Seoyeon mengangguk sambil kembali
melingkarkan tangannya di badan Jaewook. Sepertinya keranjang kerinduan yang
sudah lama kosong itu belum terisi penuh.
***
Seoul. 2 tahun kemudian.
“Timjangnim, kau sudah
dijemput.”
Suara itu mengalihkan atensi Seoyeon
yang tengah memimpin meeting. “Bilang padanya untuk tunggu sebentar.”
Dan melanjutkan pembacaan proposal yang sudah hampir selesai.
10 menit… 30 menit… karyawan itu
kembali muncul dari balik pintu. “Maaf timjangnim, tapi kata beliau…”
“Sudah yeobo. Ini sudah
jam 8 malam.”
Ah… memalukan sekali.
Bisa-bisanya Jaewook ikutan masuk ke dalam ruang meeting dan memanggilnya ‘yeobo’?
Apa dia lupa ini sedang dikantor? Sudah jelas-jelas Seoyeon sedang bekerja.
Meskipun kenyataanya semua orang disana tahu bahwa mereka berdua adalah
pasangan suami istri.
Setelah bertemu kembali di
Seoul, Jaewook meminta izin untuk membawa Seoyeon menemui ummanya. Karena memang
sudah sejak lama umma Seoyeon ingin meminta maaf langsung pada Seoyeon atas
perbuatannya. Dalam kesempatan itulah beliau kembali menawarkan posisi yang
sebelumnya Seoyeon tolak.
Seoyeon tidak ingin mendapatkan
pekerjaan dengan cara yang instan. Jadi alih-alih langsung menerima tawaran
itu, ia justru meminta 1 project untuk dikerjakan. Jika project Seoyeon
berhasil, barulah ia setuju untuk bekerja disana.
Proyek yang dipercayakan kepada
Seoyeon bukanlah proyek kecil. Ia harus memimpin pengembangan lini leather klasik
Hanwool, yang akan menjadi penentu arah perusahaan ke depan. Dengan fokus pada
penyempurnaan desain yang tak lekang waktu tanpa mengorbankan nilai craftsmanship
khas perusahaan.
Dan bukan Seoyeon namanya jika tidak mampu
menaklukan tantangan. Dengan percaya diri ia mempresentasikan hasil karyanya
bukan hanya didepan umma Jaewook selaku CEO, namun juga dihadapan para investor
asing yang siap membawa Hanwool ke kancah global.
Langkah sulit itulah yang membawa Seoyeon
diposisi sekarang, menjadi Product Director sekaligus menantu dari pemilik
Hanwool karena enam bulan yang lalu ia melangsungkan pernikahan dengan Jaewook.
“Aku ingin makan ramen.”
“Baiklah.. nanti akan kubuatkan.” Ucap
Jaewook sambil menyetir.
“Tapi kau juga harus menemaniku setelah
makan.” Seoyeon setengah merajuk.
“Tentu saja aku akan menemanimu, yeobo.”
“Tapi tadi malam setelah makan kau langsung
pergi kebawah.” Ucapnya menyebutkan studio room, tempat Jaewook menghabiskan
waktunya untuk melukis.
“Maaf… kukira kau sudah tidur.”
Seoyeon cemberut. “Bisakah kau berhenti
melukis wajahku huh? Bukannya dulu lukisanmu abstrak.” Gerutunya sambil
membuang muka. “Setiap kali aku datang ke pameranmu, orang-orang selalu melihat
ke arahku karena hampir semua lukisan disana adalah sketsa wajahku.”
Tawa Jaewook meledak. Baru kali ini ia
mendengar isi hati Seoyeon. Jaewook tidak menyangka bahwa istrinya berkata
demikian, karena bagi Jaewook isi kepalanya hanyalah Seoyeon. Jadi gambaran
itulah yang akhirnya sampai di atas kanvasnya.
“Arraseo… mianhe yeobo. Aku tidak
akan memajang wajahmu lagi di pameran.”
“Tidak-tidak. Maksudku… jangan sebanyak
itu.” Ralat Seoyeon cepat.
Ah…
“Baiklah. Tapi tolong jangan melarangku
untuk terus membuat lukisan wajahmu ya.” Sebelah tangan Jaewook mengelus kepala
Seoyeon. “Sampai kapanpun aku akan tetap melukisnya. Tapi hanya ada beberapa
yang akan ku pamerkan.”
Begitu kan maksudnya?
Seoyeon tersenyum. “Jangan lupa ramen.”
“Arraseo. Sebentar lagi kita
sampai.”
Seoyeon yang dulu Jaewook kenal sebagai
wanita pendiam dengan begitu banyak luka, kini menjadi seorang istri yang manja
namun pengertian. Jaewook sekali lagi jatuh cinta dengan sisi lain dari
Seoyeon, sisi yang Jaewook tahu itu pertanda bahwa pintu-pintu milik Seoyeon
telah terbuka.
Dan Jaewook yang dulu Seoyeon kenal sebagai
laki-laki tenang sekaligus misterius, kini menjadi sosok suami yang bertanggung
jawab dan sabar. Membuat Seoyeon semakin nyaman memperlihatkan dirinya, karena
ia merasa diterima.
Seoyeon pikir untuk mencintai seseorang
butuh usaha yang besar. Butuh pengorbanan. Butuh rasa sakit untuk
mempertahankannya. Namun kini Seoyeon sadar, di waktu yang tepat cinta itu akan
datang tanpa usaha berlebihan. Tanpa harus dipaksa. Justru membawa tenang dan
kenyamanan.
Perasaan yang belum pernah Seoyeon rasakan
sebelumnya.
Bagi Seoyeon, luka adalah cara untuk
bertahan dalam diam. Ia percaya kesendirian adalah bentuk perlindungan paling
aman. Sedangkan Jaewook, membawa kesepian yang sama sunyinya, tapi dengan hati
yang tetap utuh. Ia tidak datang untuk memaksa, justru kehadiran yang tidak
menuntut.
Dan di saat itulah Seoyeon mengerti. Bukan
lagi luka yang ia sembunyikan, melainkan hati yang akhirnya berani dibuka setelah
sekian lama dijaga. Oleh orang yang tepat.
Unveil.
-The End-
FF ini aku buat untuk diriku sendiri. sebagai media meluapkan inspirasi yang memenuhi kepala. Aku seneng bisa menyelesaikannya dan menang bertarung dengan rasa malasku haha
Semoga ada FF lain yaaa yang bisa aku bikin lagi. aku kangen jadi produktif!

No comments:
Post a Comment