Sunday, 25 January 2026

FF Lee Jaewook : Unveil [Part 3]

Tittle                    : Unveil [Part 3]

Author                : Icha Ichez

Genre                  : Romance, Angst, Trauma, Healing

Cast                      : Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.

Length                : Chapter

Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

 

Sebuah sinar lampu redup yang menyala di sudut ruangan jadi yang pertama kali tertangkap oleh pandangan Seoyeon. Kepalanya begitu berat. Ia mengerjapkan kedua matanya berulang kali sampai menyadari tempat di sekitarnya kini terasa asing.

Dengan tubuh yang masih belum sepenuhnya terjaga, Seoyeon memaksakan diri untuk duduk. Saat itulah seseorang yang sejak tadi bersandar di tembok bergerak mendekatinya.

“Kau sudah sadar?”

Suara namja itu lebih dulu Seoyeon kenali sebelum ia menoleh ke arahnya. Bisa Seoyeon tebak pasti ia yang membawa Seoyeon kesini.

“Maaf aku tidak punya pilihan selain membawamu apartemenku.” Lanjutnya. “Sungguh aku tidak memiliki niat jahat.

Seoyeon memutar tubuhnya ke arah namja itu, menaruh kedua kakinya di lantai sementara badannya masih terduduk di kasur tanpa dipan. Bibirnya terkatup rapat.

“Apa kepalamu masih sakit? Apa perlu ku belikan obat penghilang pengar?” tanyanya lagi. “Atau kau butuh sesuatu?”

Bukannya menjawab, Seoyeon justru melihat namja itu sekilas lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen milik Jaewook. Tidak banyak hal yang bisa ia temukan disana. Ruang selebar 4x5 meter itu sudah termasuk dengan dapur dan kamar mandi. Meskipun kecil, namun semua perabotannya tampak rapi dan bersih.

“Ini minumlah.”

Tahu-tahu sebuah mug bergambar kucing muncul dihadapan Seoyeon, ia menerimanya dengan tangan kanan sementara sebelah tangannya merogoh isi tas untuk mengecek handphone.

Pukul 01.35 pagi.

Saat itu pula tiba-tiba terdengar suara lirih dari tubuh Seoyeon. Ia menutup matanya malu saat ketahuan bahwa perutnya keroncongan.

Namja itu mengekeh pelan, “Aku hanya punya ramen. Apa kau mau?”

Pertanyaan itu dibalas dengan anggukan.

Seoyeon tahu bahwa pemilik apartemen ini bukan orang jahat, oleh karena itu ia tetap bersikap tenang meski bangun tidur di tempat yang asing. Tapi hubungan mereka berdua tak bisa dikatakan dekat. Meski nyawanya belum sepenuhnya utuh, Seoyeon hanya bisa menerima kebaikan namja itu tanpa penolakan.

Sembari menunggu, Seoyeon membuka naver map untuk mencari lokasi dimana ia berada. Beruntungnya tempat ini tidak jauh dari apartemen miliknya, kurang dari satu kilometer dengan berjalan kaki.

Saat itu juga sebuah objek di sudut ruangan menarik perhatian Seoyeon. Tumpukan kanvas berdiri menyandar pada dinding. Di depannya ada sebuah easel, masih tegak, dengan satu lukisan yang belum rampung. Gambarnya tidak terlalu jelas karena gelap, namun lukisan itu bukan menampilkan sebuah objek. Melainkan paduan warna dengan guratan-guratan seperti tetesan embun yang menempel di jendela saat pagi. Seoyeon tidak bisa memahaminya, namun dengan melihatnya saja membuat ia merasa tenang.

“Sudah matang!” ucap namja itu lalu sibuk mengambil meja lipat, menyiapkan mangkuk, sumpit dan terakhir membawa panci berisi ramen ditengah-tengah meja. “Aku ikut makan tidak apa-apa kan?”

Seoyeon mengangguk sambil menyodorkan mangkuknya untuk diisi. Dengan tersenyum namja itupun mengambilnya. Hatinya bersorak senang karena untuk pertama kali ada orang lain yang menemaninya makan di apartemennya ini.

Seingat Seoyeon tadi namja itu hanya memasak 2 bungkus Jin Ramen, tapi entah kenapa ramen ini tidak terasa seperti ramen yang sering Seoyeon masak. Ia penasaran bagaimana cara namja itu memasaknya sampai-sampai kuahnya jauh terasa lebih gurih dan teksturnya menjadi lebih kenyal.

“Ah sampai lupa!” namja itu meletakkan sumpitnya lalu mengambil sesuatu dari saku jaket yang tergantung di belakang pintu. “Ini… aku ingin membayar hutangku kemarin. Maaf jika terlalu lama.”

Seoyeon melihat ke arah amplop coklat itu bingung. Sejak awal ia tidak pernah menganggap kebaikannya adalah sebuah hutang.

“Tidak perlu.” Akhirnya suara yeoja itu bergema untuk kali pertama.

“Tidak-tidak. Kau harus menerimanya. Aku tidak ingin berhutang budi dengan seseorang.”

Gantian Seoyeon yang menaruh sumpitnya. “Jika membahas tentang hutang budi, bukankah sekarang sudah impas?”

Jaewook membuang nafasnya putus asa. “Aku sudah berusaha keras bekerja di tempat yang baru untuk mengumpulkan uang ini. Bisakah kau menerimanya?” lanjutnya berbicara dengan tampang melas.

Dugaan Seoyeon benar, pasti namja itu berhenti bekerja dari minimarket karena kejadian seminggu yang lalu. “Jika kau ingin memberiku sesuatu, bolehkah aku minta itu saja?” Telunjuk Seoyeon bergerak menunjuk sebuah lukisan yang masih bertengger diatas easel.

“Itu?” alisnya naik. “Tapi itu..”

“Bagiku itu jauh lebih berharga daripada uang yang kau tawarkan.”

Seoyeon tahu bahwa kasus perkelahian terjadi karena Jaewook terlibat hutang dengan preman kala itu. Jadi ia pikir lebih baik uang ini dipakai untuk membereskan urusan Jaewook saja daripada diberikan kepadanya.

“Baiklah jika kau menginginkannya.” Jawab Jaewook akhirnya setuju. “Tapi lukisan itu belum selesai, bisakah kau memberiku waktu lagi?”

Seoyeon mengangguk. Fokusnya kembali pada mangkuk ramen yang kenikmatannya sempat tertunda karena percakapan itu.

                Beruntung besok akhir pekan, jadi Seoyeon tidak perlu khawatir jika malam ini ia pulang terlambat. Sekitar pukul 2 pagi lebih 30 menit ia pergi meninggalkan apartemen Jaewook, ditemani dengan namja itu tentu saja.

                Setelah melangkah keluar, barulah Seoyeon sadar kalau apartemen Jaewook berada diatas rooftop gedung 2 lantai. Aksesnya pun cukup sulit dengan melewati tangga curam di sisi bangunan yang sempit dan gelap. Jaewook bilang area sini cukup sepi saat malam hari, oleh karena itu Seoyeon tidak menolak saat Jaewook menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

                “Bolehkah aku bertanya namamu?” pertanyaan Jaewook memecah kecanggungan mereka berdua. Ia berjalan pelan, mencoba menyamakan langkah lebarnya dengan milik Seoyeon.

                “Aku Seoyeon. Kang Seoyeon.”

                Jaewook mengangguk sambil menatap Seoyeon dari samping. “Aku Lee Jaewook. Kau boleh berbicara non formal denganku.”

                Dari penampilannya, Seoyeon tahu bahwa Jaewook lebih muda darinya. Tapi ia enggan menebak berapa selisih usia mereka, lagipula bagi Seoyeon itu tidak terlalu penting.

                “Aku berjanji akan menyelesaikan lukisan itu dengan cepat.” Seloroh Jaewook lagi. “Sudah lama aku menjual lukisan-lukisanku di e-commerse, tapi sayangnya hanya beberapa yang laku. Tapi setidaknya hari ini ada seseorang yang membelinya secara langsung.”

                Senyum lebar namja itu menghiasi wajahnya. Dengan gerakan kecil yang canggung namun penuh semangat, ia kembali membetulkan posisi kacamatanya, seolah memastikan tidak ada yang menghalangi pandangannya pada Seoyeon.

                Tapi yeoja yang berjalan di sebelahnya justru berhenti. “Sampai sini saja.”

                Jaewook mendongak melihat apartemen Seoyeon sudah menjulang dihadapannya.

                Setelah pamit, Seoyeon melanjutkan langkah menuju gedung apartemen miliknya sementara Jaewook masih terus berdiri disana sambil memastikan yeoja itu benar-benar sudah masuk.

                Jaewook hanya tidak tahu, bahwa hari ini adalah hari yang begitu panjang bagi Seoyeon. Hari di mana ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya sampai memilih untuk mabuk tidak sadarkan diri dan berakhir di rumah namja itu.

***

Pekerjaan Seoyeon di kantor kini terasa jauh lebih berat dari biasanya. Meskipun ia selalu matang dalam membuat perencanaan namun tetap saja perusahaan rekan kerjanya, Hanwool mampu menemukan celah. Tidak heran malam ini Seoyeon kembali pulang terlambat.

Jangankan mampir minimarket untuk merokok, bahkan untuk makan malam saja Seoyeon tidak sempat. Lebih parahnya lagi, terkadang pekerjaan-pekerjaan itu harus Seoyeon bawa ke rumah dan ia selesaikan sebelum hari berganti esok.

Dengan lemas Seoyeon berjalan dari halte bus menuju apartemennya. Rambutnya yang panjang melewati dada sudah ia gerai dan tampak acak-acakan. Kemeja berbahan satin yang berdasi pita pun sudah lepas menjulur kebawah karena tidak lagi Seoyeon ikat.

Namun saat Seoyeon hendak masuk ke dalam gedung, sebuah suara menghentikan langkahnya di tengah-tengah.

“Jadi ini tempat tinggalmu yang baru?”

Leher Seoyeon menegang, ia tidak berani menoleh kebelakang. Berharap suara tadi tak pernah benar-benar ia dengar.

“Berhenti berpura-pura tidak mengenaliku, Seoyeon-ah. Kau pikir kau bisa menghilang dariku begitu saja?”

Kali ini Seoyeon membalik badannya. Kepalanya tertunduk, bola matanya bergulir ketika ia menangkap langkah seseorang yang berjalan mendekat.

“Meski sudah sering bertemu, sepertinya kita belum saling menyapa dengan benar kan?”

Seoyeon tidak berani berbicara. Hanya dengan mendengar suara namja itu saja sudah membuat jantungnya memukul rusuk dengan ritme tidak beraturan. Tangannya refleks meremas kain rok plisket yang ia kenakan, berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tidak goyah.

Sudah lama Seoyeon berusaha pergi menghindari sumber traumanya ini. Namun ia justru datang semakin mendekat dan bahkan berani mengikutinya hingga ke tempat Seoyeon tinggal. Memikirkan rencana apa lagi yang akan ia lakukan, membuat Seoyeon bergidik ngeri.

“Tidak semudah itu untuk menghilang dariku Seoyeon-ah. Kau tahu tanpa diriku, project buatanmu tidak akan berhasil.” Dia tertawa mengejek. “Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan.”

Jebal geumanhae (tolong berhentilah)… satu hal yang Seoyeon inginkan hanyalah namja itu pergi dari hadapannya sekarang juga. Pergi secepatnya, sebelum ia menyadari bahwa pertahanan Seoyeon hampir runtuh. Menahan sekuat tenaga trauma masa lalu yang sudah lama ia sembunyikan rapat-rapat.

“Jadi bagaimana? Apa kau ingin menyerah dan kembali padaku? Atau kau akan tetap berusaha meskipun kau tau itu sia-sia?”

Masih tidak ada jawaban. Nafas Seoyeon mulai memburu, sekuat tenaga ia berusaha tenang. Tapi tubuhnya belum mampu membedakan masa kini dari ingatan yang kembali menyerbu.

“Seoyeon-ah! Kau mendengarkanku kan?!”

Junhyeok berujar sambil mengangkat lengannya, hendak meraih kepala Seoyeon. Refleks Seoyeon menunduk sambil memejamkan matanya keras. Gerakan itu tiba-tiba membangkitkan memori akan rasa sakit yang pernah Seoyeon coba kubur : nada tinggi, genggaman yang meninggalkan lebam dan ketakutan yang tidak pernah ia akui pada siapapun.

Demi Tuhan Seoyeon tidak bisa menahannya lagi. Rasanya ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Namun trauma masa lalunya membuat tubuh Seoyeon membeku, siap meledak diharapan seseorang yang menjadi sumber triggernya.

Saat itulah Seoyeon menyadari ada seseorang yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Menimbulkan jarak antara ia dan Junhyeok, menyembunyikan tubuh rapuhnya dibalik punggung itu dan menciptakan ruang aman bagi Seoyeon tanpa ia sadari.

Sosok itu tidak langsung berucap, tapi aroma tubuhnya lebih dulu dapat Seoyeon kenali.

“Siapa kau?” Junhyeok terganggu. Ia menyipitkan matanya mengenali namja itu. “Bukankah kau orang yang…”

“Benar. Aku adalah orang yang memukulmu di samping halte waktu itu.” Jaewook menjawabnya dengan berani. Sedikit membuka kisah perih yang menjadi titik balik dalam hidup Seoyeon.

“Hh!” Ia membuang muka karena merasa terejek dengan jawaban Jaewook. “Sedang apa kau disini? Apa kalian berpacaran?”

“Iya! Kami berdua berpacaran.”

Suara itu terdengar dari balik bahu Jaewook. Bergetar, tapi cukup tegas.  Seoyeon masih menyembunyikan badannya disana dengan tangan yang menopang pada lengan namja itu.

Baik Jaewook maupun Junhyeok sama-sama terperangah. Hanya saja, Jaewook tidak ingin sedikit pun kepanikan Seoyeon terbaca oleh laki-laki itu. Maka ia melangkah setengah maju, tubuhnya tegak, membangun jarak baru.

Dengan yakin, Jaewook meraih tangan Seoyeon. Genggamannya hangat dan tidak goyah. Gerakan sederhana itu saja sudah cukup untuk membuat Junhyeok tersentak, rahangnya mengeras.

“Mulai sekarang,” Jaewook menatap lurus, suaranya berat namun tenang, “Tolong jangan ganggu pacarku lagi.”

-To Be Continue-


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...