Tittle :
Unveil [Part 3]
Author : Icha Ichez
Genre :
Romance, Angst, Trauma, Healing
Cast :
Lee Jaewook, Kang Seoyeon, Kim Junhyeok.
Length :
Chapter
Desclaimer : This story is originally mine. This is
only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!
Dengan
tubuh yang masih belum sepenuhnya terjaga, Seoyeon memaksakan diri untuk duduk.
Saat itulah seseorang yang sejak tadi bersandar di tembok bergerak mendekatinya.
“Kau
sudah sadar?”
Suara namja itu lebih dulu Seoyeon kenali
sebelum ia menoleh ke arahnya. Bisa Seoyeon tebak pasti ia yang membawa Seoyeon
kesini.
“Maaf aku tidak punya pilihan selain
membawamu apartemenku.” Lanjutnya. “Sungguh aku tidak memiliki niat jahat.
Seoyeon memutar tubuhnya ke arah namja itu,
menaruh kedua kakinya di lantai sementara badannya masih terduduk di kasur
tanpa dipan. Bibirnya terkatup rapat.
“Apa kepalamu masih sakit? Apa perlu ku
belikan obat penghilang pengar?” tanyanya lagi. “Atau kau butuh sesuatu?”
Bukannya menjawab, Seoyeon justru melihat
namja itu sekilas lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen milik
Jaewook. Tidak banyak hal yang bisa ia temukan disana. Ruang selebar 4x5 meter
itu sudah termasuk dengan dapur dan kamar mandi. Meskipun kecil, namun semua
perabotannya tampak rapi dan bersih.
“Ini minumlah.”
Tahu-tahu sebuah mug bergambar kucing
muncul dihadapan Seoyeon, ia menerimanya dengan tangan kanan sementara sebelah
tangannya merogoh isi tas untuk mengecek handphone.
Pukul 01.35 pagi.
Saat itu pula tiba-tiba terdengar suara
lirih dari tubuh Seoyeon. Ia menutup matanya malu saat ketahuan bahwa perutnya
keroncongan.
Namja itu mengekeh pelan, “Aku hanya punya
ramen. Apa kau mau?”
Pertanyaan itu dibalas dengan anggukan.
Seoyeon tahu bahwa pemilik apartemen ini
bukan orang jahat, oleh karena itu ia tetap bersikap tenang meski bangun tidur
di tempat yang asing. Tapi hubungan mereka berdua tak bisa dikatakan dekat.
Meski nyawanya belum sepenuhnya utuh, Seoyeon hanya bisa menerima kebaikan
namja itu tanpa penolakan.
Sembari menunggu, Seoyeon membuka naver map
untuk mencari lokasi dimana ia berada. Beruntungnya tempat ini tidak jauh dari
apartemen miliknya, kurang dari satu kilometer dengan berjalan kaki.
Saat itu juga sebuah objek di sudut ruangan
menarik perhatian Seoyeon. Tumpukan kanvas berdiri menyandar pada dinding. Di
depannya ada sebuah easel,
masih tegak, dengan satu lukisan yang belum rampung. Gambarnya tidak terlalu
jelas karena gelap, namun lukisan itu bukan menampilkan sebuah objek. Melainkan
paduan warna dengan guratan-guratan seperti tetesan embun yang menempel di
jendela saat pagi. Seoyeon tidak bisa memahaminya, namun dengan melihatnya saja
membuat ia merasa tenang.
“Sudah matang!” ucap namja itu lalu sibuk
mengambil meja lipat, menyiapkan mangkuk, sumpit dan terakhir membawa panci berisi
ramen ditengah-tengah meja. “Aku ikut makan tidak apa-apa kan?”
Seoyeon mengangguk sambil menyodorkan
mangkuknya untuk diisi. Dengan tersenyum namja itupun mengambilnya. Hatinya
bersorak senang karena untuk pertama kali ada orang lain yang menemaninya makan
di apartemennya ini.
Seingat Seoyeon tadi namja itu hanya
memasak 2 bungkus Jin Ramen, tapi entah kenapa ramen ini tidak terasa seperti
ramen yang sering Seoyeon masak. Ia penasaran bagaimana cara namja itu
memasaknya sampai-sampai kuahnya jauh terasa lebih gurih dan teksturnya menjadi
lebih kenyal.
“Ah sampai lupa!” namja itu meletakkan
sumpitnya lalu mengambil sesuatu dari saku jaket yang tergantung di belakang
pintu. “Ini… aku ingin membayar hutangku kemarin. Maaf jika terlalu lama.”
Seoyeon melihat ke arah amplop coklat itu
bingung. Sejak awal ia tidak pernah menganggap kebaikannya adalah sebuah
hutang.
“Tidak perlu.” Akhirnya suara yeoja itu
bergema untuk kali pertama.
“Tidak-tidak. Kau harus menerimanya. Aku
tidak ingin berhutang budi dengan seseorang.”
Gantian Seoyeon yang menaruh sumpitnya.
“Jika membahas tentang hutang budi, bukankah sekarang sudah impas?”
Jaewook membuang nafasnya putus asa. “Aku
sudah berusaha keras bekerja di tempat yang baru untuk mengumpulkan uang ini.
Bisakah kau menerimanya?” lanjutnya berbicara dengan tampang melas.
Dugaan Seoyeon benar, pasti namja itu
berhenti bekerja dari minimarket karena kejadian seminggu yang lalu. “Jika kau
ingin memberiku sesuatu, bolehkah aku minta itu saja?” Telunjuk Seoyeon
bergerak menunjuk sebuah lukisan yang masih bertengger diatas easel.
“Itu?” alisnya naik. “Tapi itu..”
“Bagiku itu jauh lebih berharga daripada
uang yang kau tawarkan.”
Seoyeon tahu bahwa kasus perkelahian
terjadi karena Jaewook terlibat hutang dengan preman kala itu. Jadi ia pikir
lebih baik uang ini dipakai untuk membereskan urusan Jaewook saja daripada
diberikan kepadanya.
“Baiklah jika kau menginginkannya.” Jawab
Jaewook akhirnya setuju. “Tapi lukisan itu belum selesai, bisakah kau memberiku
waktu lagi?”
Seoyeon mengangguk. Fokusnya kembali pada
mangkuk ramen yang kenikmatannya sempat tertunda karena percakapan itu.
Beruntung besok akhir pekan,
jadi Seoyeon tidak perlu khawatir jika malam ini ia pulang terlambat. Sekitar
pukul 2 pagi lebih 30 menit ia pergi meninggalkan apartemen Jaewook, ditemani
dengan namja itu tentu saja.
Setelah melangkah keluar,
barulah Seoyeon sadar kalau apartemen Jaewook berada diatas rooftop gedung 2
lantai. Aksesnya pun cukup sulit dengan melewati tangga curam di sisi bangunan
yang sempit dan gelap. Jaewook bilang area sini cukup sepi saat malam hari,
oleh karena itu Seoyeon tidak menolak saat Jaewook menawarkan diri untuk mengantarnya
pulang.
“Bolehkah aku bertanya namamu?”
pertanyaan Jaewook memecah kecanggungan mereka berdua. Ia berjalan pelan,
mencoba menyamakan langkah lebarnya dengan milik Seoyeon.
“Aku Seoyeon. Kang Seoyeon.”
Jaewook mengangguk sambil
menatap Seoyeon dari samping. “Aku Lee Jaewook. Kau boleh berbicara non formal
denganku.”
Dari penampilannya, Seoyeon tahu
bahwa Jaewook lebih muda darinya. Tapi ia enggan menebak berapa selisih usia
mereka, lagipula bagi Seoyeon itu tidak terlalu penting.
“Aku berjanji akan menyelesaikan
lukisan itu dengan cepat.” Seloroh Jaewook lagi. “Sudah lama aku menjual
lukisan-lukisanku di e-commerse, tapi sayangnya hanya beberapa yang
laku. Tapi setidaknya hari ini ada seseorang yang membelinya secara langsung.”
Senyum lebar namja itu menghiasi
wajahnya. Dengan gerakan kecil yang canggung namun penuh semangat, ia kembali
membetulkan posisi kacamatanya, seolah memastikan tidak ada yang menghalangi
pandangannya pada Seoyeon.
Tapi yeoja yang berjalan di
sebelahnya justru berhenti. “Sampai sini saja.”
Jaewook mendongak melihat
apartemen Seoyeon sudah menjulang dihadapannya.
Setelah pamit, Seoyeon
melanjutkan langkah menuju gedung apartemen miliknya sementara Jaewook masih
terus berdiri disana sambil memastikan yeoja itu benar-benar sudah masuk.
Jaewook
hanya tidak tahu, bahwa hari ini adalah hari yang begitu panjang bagi Seoyeon.
Hari di mana ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya sampai memilih untuk
mabuk tidak sadarkan diri dan berakhir di rumah namja itu.
***
Pekerjaan Seoyeon di kantor kini terasa
jauh lebih berat dari biasanya. Meskipun ia selalu matang dalam membuat
perencanaan namun tetap saja perusahaan rekan kerjanya, Hanwool mampu menemukan
celah. Tidak heran malam ini Seoyeon kembali pulang terlambat.
Jangankan mampir minimarket untuk merokok,
bahkan untuk makan malam saja Seoyeon tidak sempat. Lebih parahnya lagi,
terkadang pekerjaan-pekerjaan itu harus Seoyeon bawa ke rumah dan ia selesaikan
sebelum hari berganti esok.
Dengan lemas Seoyeon berjalan dari halte
bus menuju apartemennya. Rambutnya yang panjang melewati dada sudah ia gerai
dan tampak acak-acakan. Kemeja berbahan satin yang berdasi pita pun sudah lepas
menjulur kebawah karena tidak lagi Seoyeon ikat.
Namun saat Seoyeon hendak masuk ke dalam
gedung, sebuah suara menghentikan langkahnya di tengah-tengah.
“Jadi ini tempat tinggalmu yang baru?”
Leher Seoyeon menegang, ia tidak berani
menoleh kebelakang. Berharap suara tadi tak pernah benar-benar ia dengar.
“Berhenti berpura-pura tidak mengenaliku,
Seoyeon-ah. Kau pikir kau bisa menghilang dariku begitu saja?”
Kali ini Seoyeon membalik badannya.
Kepalanya tertunduk, bola matanya bergulir ketika ia menangkap langkah
seseorang yang berjalan mendekat.
“Meski sudah sering bertemu, sepertinya
kita belum saling menyapa dengan benar kan?”
Seoyeon tidak berani berbicara. Hanya
dengan mendengar suara namja itu saja sudah membuat jantungnya memukul rusuk
dengan ritme tidak beraturan. Tangannya refleks meremas kain rok plisket yang
ia kenakan, berusaha mencari pegangan agar tubuhnya tidak goyah.
Sudah lama Seoyeon berusaha pergi
menghindari sumber traumanya ini. Namun ia justru datang semakin mendekat dan
bahkan berani mengikutinya hingga ke tempat Seoyeon tinggal. Memikirkan rencana
apa lagi yang akan ia lakukan, membuat Seoyeon bergidik ngeri.
“Tidak semudah itu untuk menghilang dariku
Seoyeon-ah. Kau tahu tanpa diriku, project buatanmu tidak akan berhasil.” Dia
tertawa mengejek. “Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan.”
Jebal geumanhae
(tolong berhentilah)… satu hal yang Seoyeon inginkan hanyalah namja itu pergi dari
hadapannya sekarang juga. Pergi secepatnya, sebelum ia menyadari bahwa
pertahanan Seoyeon hampir runtuh. Menahan sekuat tenaga trauma masa lalu yang
sudah lama ia sembunyikan rapat-rapat.
“Jadi bagaimana? Apa kau ingin menyerah dan
kembali padaku? Atau kau akan tetap berusaha meskipun kau tau itu sia-sia?”
Masih tidak ada jawaban. Nafas Seoyeon
mulai memburu, sekuat tenaga ia berusaha tenang. Tapi tubuhnya belum mampu
membedakan masa kini dari ingatan yang kembali menyerbu.
“Seoyeon-ah! Kau mendengarkanku kan?!”
Junhyeok berujar sambil mengangkat
lengannya, hendak meraih kepala Seoyeon. Refleks Seoyeon menunduk sambil
memejamkan matanya keras. Gerakan itu tiba-tiba membangkitkan memori akan rasa
sakit yang pernah Seoyeon coba kubur : nada tinggi, genggaman yang meninggalkan
lebam dan ketakutan yang tidak pernah ia akui pada siapapun.
Demi Tuhan Seoyeon tidak bisa menahannya
lagi. Rasanya ingin pergi dari tempat ini sekarang juga. Namun trauma masa
lalunya membuat tubuh Seoyeon membeku, siap meledak diharapan seseorang yang
menjadi sumber triggernya.
Saat itulah Seoyeon menyadari ada seseorang
yang tiba-tiba berdiri dihadapannya. Menimbulkan jarak antara ia dan Junhyeok,
menyembunyikan tubuh rapuhnya dibalik punggung itu dan menciptakan ruang aman
bagi Seoyeon tanpa ia sadari.
Sosok itu tidak langsung berucap, tapi
aroma tubuhnya lebih dulu dapat Seoyeon kenali.
“Siapa kau?” Junhyeok terganggu. Ia
menyipitkan matanya mengenali namja itu. “Bukankah kau orang yang…”
“Benar. Aku adalah orang yang memukulmu di
samping halte waktu itu.” Jaewook menjawabnya dengan berani. Sedikit membuka
kisah perih yang menjadi titik balik dalam hidup Seoyeon.
“Hh!” Ia membuang muka karena merasa
terejek dengan jawaban Jaewook. “Sedang apa kau disini?
Apa kalian berpacaran?”
“Iya!
Kami berdua berpacaran.”
Suara
itu terdengar dari balik bahu Jaewook. Bergetar, tapi cukup tegas. Seoyeon masih menyembunyikan badannya disana
dengan tangan yang menopang pada lengan namja itu.
Baik
Jaewook maupun Junhyeok sama-sama terperangah. Hanya saja, Jaewook tidak ingin
sedikit pun kepanikan Seoyeon terbaca oleh laki-laki itu. Maka ia melangkah
setengah maju, tubuhnya tegak, membangun jarak baru.
Dengan
yakin, Jaewook meraih tangan Seoyeon. Genggamannya hangat dan tidak goyah.
Gerakan sederhana itu saja sudah cukup untuk membuat Junhyeok tersentak,
rahangnya mengeras.
“Mulai
sekarang,” Jaewook menatap lurus, suaranya berat namun tenang, “Tolong jangan
ganggu pacarku lagi.”
-To Be Continue-

No comments:
Post a Comment