Friday, 31 December 2010

2010 Memories : Flashback on 2010

annyeeeong semuah muah muahhh...
saiia kembali lagiii...
*hug*


kali ini bukan membawa berita, foto ato video dengan SHINee. bukan juga membawa curcolan atau funfiction.
tapiiiiiiiiiii, aku mau membawa sedikit flashback memori ku selama tahun 2010 inii.


ini kan mau tahun baruu, jadi ngga ada salahnya dong ngasih flashback tentang tahun yang sudah akan terlewatt.


hemm, mungkin ini ngga bisa detail yea, soalnya sekarang aku udah jarang nulis diary. U.U *ngga kaya Key lagi dongg.
dan lagiiiii, program diaryku yang dikomputer ilaaaangg! otomatis semua diary, memoyku juga ilang!!!!!aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~


kukukuk, daripada kelamaan, mendingan cekidot >>>

  • awal tahun aku masih belum bisa nerima sepenuhnya pilihan yang sebenarnya bukan pilihanku. dan sayangnya itu aku rasain ampe sekarang. mungkin juga ampe tahun depan.
  • aku juga melalui sesuatu yang bner2 berat dimana aku musti hidup dalam kebohongan dan hanya mampu berharap, siapa lagi kalau pada-Nya. Dia sangat baik. benar-benar baik. bahkan Dia masih mau membantu orang hina seperti aku ini. dan aku bersyukur atas apa yang aku dapatkan.
  • bulan february, aku merayakan hari valentine sendirian. *nyesek deh ngingetnya.
  • masa2 dikuliah aku mencari jati diri. mencoba membenahi apa yang kurang.
  • bulan april bulannya aku ulang tahun. kekeke, kalo inget tahun 2009-saat semua orang melupakan ulang tahunku. kali ini emang rada beda dikit. ada 2 orang yang spesial, yang satuu sahabatku yang udah berteman 8 tahun. dan yang satu lagi temen sma ku yang bela-belain dateng malem2 padahal rumahnya jauh. uhhh. gomawo semuaa.
  • akhir semester dua, banyak banget tugas yang harus diselesaikan. bikin pusing >,<
  • tiba saat liburan. liburan itu ngga pernah aku kira kalau ternyata sangat panjaaaanggg. tapi yang kulakuin cuma tidur, makan, dan OL. ampe jarang mandi U.U
  • tapi ada juga kegiatan lain, yaitu bertemu ALVINOSTA Jogja dan mencoba hal baru. yaitu melakukan hal yang sebenarnya aku tahu aku tidak sanggup melakukannya. dan hasilnya, aku gagal.
  • bulan sepetember baliklagi kuliah. dimana semua orang terkejut melihatku. aku gemuuukkkk >,<. gara2 kegiatan itu2 aja yang aku lakuin selama liburan, BB ku naek 6 kilo.
  • pas masuk, aku mulai dapat udara baru, suasana baru setelah berbulan2 stress dengan urusan alvz ku. aku mulai tergila2 dengan satu drama korea he is beutiful. drama itulah yang membawaku melirik boy band korea.
  • yep, di drama itu pemainnya ternyata personil band korea, aku jadi suka denger lagu2nya.
  • aku mulai share all about korea di blog. dan aku kaget, justru SHINee lah yang mendapat peringkat paling banyak dikunjuingi.
  • aku jadi penasaran. dan sampai akhirnya aku tergila-gila seperti sekarang.
  • di akhir tahun ini aku masih sama dengan yang dulu. tersenyum, tapi menyimpan banyak rahasia dibaliknya.
dan akhirnya, aku bisa melewati akhir tahun yang sangat berat ini dengan senyuman. aku banyak sekali mendapatkan pengalaman, pelajaran dan yang pasti teman!
semua tidak akan terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Thanks God!

dan resolusiku untuk tahun ini adalahhh:
  • yang pasti lebih baik dari tahun sebelumnya. mencoba mengurangi intensitas kesalahan yang kuperbuat.
  • lebih gemuk, lebih putih (?) dan lebih ceriaa.
  • semoga saja tidak ada air mata yang tumpah (lagi).
  • semoga daftar temanku makin banyak.
  • mendapatkan cinta yang tepat.
  • diberi kesehatan.
  • dan pastinya selalu disayang oleh orang2 disekitarku!!!
tak lupa aku pengen mengucapkaaaannnn....

Happy New Year semuaaa!!!
thanks for your attention on my blog. *hug*

Tuesday, 28 December 2010

Sepenggal kata untuk SHINee

Ini bukan puisi, syair lagu ataupun prosa.
Ini hanya ungkapan hati dari seorang shawol yang hanya mampu bermimpi dan semakin jauh bermimpi.

 

Sepenggal kata untuk SHINee
Lebih dari sekedar 5 orang namja tampan
Yang lihai dalam bernyanyi maupun menari,
Kalian adalah obsesi,
Kalian adalah inspirasi,
Dan setiap nafas yang kalian hela adalah sebuah impian
Dan setiap nafas yang kalian hembuskan adalah sebuah perjuangan

Kalian hadir disetiap jeda hidup
Dimana setiap suara berteriak dan tak jemu menyerukan nama kalian
Dimana setiap tetes air mata mengiringi langkah kalian
Hingga kalian mampu tersenyum walau air mata juga mengalir di pipi kalian yang basah

Tak perlu menjadi sosok yang sempurna
Justru kesederhanaan yang sanggup
Memancarkan cahaya yang menyilaukan
Dan tertoreh disetiap hati

Senyum itulah yang menyejukkan
Tatapan itulah yang menenangkan
Dan keluguan itulah yang menyentuh
Setiap perasaan

Alunan nada dan lentur gerakan selalu saja
Mampu mengukir indah kenangan
Disini, disana, dimanapun atau betapapun jauhnya,
Shawol akan tetap di satu dunia

Terimakasih karena senantiasa mewarnai dan menyinari dunia kami,
Dunia shinee…

SHINee Japan Concert >>> bikin nyesek!

Hello chingu.
*ngga besemangat*


huhuhu, iia nih aku lagi ngga semangat. 
kalo lagi ngga semangat jadi ngga bisa nulis U.U


_curcol begin_
aku lagi sediiihhh banget, kecewaaa bangettt, nyesekkk bangett.
do you know why? *sok inggris. #Plak!
itu karena setelah baca, liat, dan nonton (di video lahh) SHINee Japan Concert.
ini konser perdana SHINee. dan itu diadain di jepang.


balik maning nang cur...col!


gara-gara baca (info), liat (foto), nonton (video) mereka disana, aku sediih banget.
pertama,
pas ada kabar kalo semua personil SHINee nangis.pertama yang nangis Jjong oppa, terus My Nampyeon (*plak!) Key, terus 2MIN, dan yang terakhir Onew Oppa.
siapa yang ngga nyesek coba liat biasnya nangis gitu?
coba aja liat fotonya yang ini.
aku tutup mata ah liatnya (?) o.O
*mereka masih bisa tersenyum saat air matanya mengalir. blush*
tuh kan. terpampang jelas bias akuu lagi NANGIS!!
kukukukuk eh huhuhuhu,
cuma bisa nangis liatnya.
please Oppa, jangan nangis.
*ngusep air mata dipipi.


dan do you know why they cried like that? *sumpah sok inggris, jangan2 ketularan pikachu nih! oke jayus. lanjut.
mereka itu menangis terharu karena perjuangan mereka yang sulit dan juga karena shawol jepang.
waktu liat mereka nangis, shawol jepang juga nangis.
aku juga nangis. *ngga ada yang nanya woy!


dan lagii,
aku ngiriiii banget sama shawol jepang yang bisa kedatangan SHINee.
demi apaaaa konser disana keren buangettttttttt.

panggungnya luarrr biasa dan penampiln mereka ngga kalah luarrrr biasaaaa.
so envy liatnya.
pengen nangis lagiiii *ngelap ingus (ih joroookk!)
andai aku bener-bener bisa didepan foto iniiii.
kukukukuk eh huhuhuhuhu

satu lagi yang bikin nangis.
yaitu gara2 KEY HAMPIR NYIUM CEWEK BERNAMA KRYSTAL!
ngga tau tu cewek krystal f(x) ato krystal cewek jepang (ashhh, belepotan banget ngmgnya.)
yang jelas dia udah hampir nyium key pas mereka duet!
*nyingsingin lengan baju!

but setidaknya satu foto sukses bikin aku ngakak :D



buahahahahahahahaha
mian oppa, tapi kenapa paha mu mendadak kaya OLGA??
*plak plak plak*


_curcol end_

Saturday, 25 December 2010

kumpulan piku kemesraan Taemin - Minho (2MIN)

kekeke~
pas baca judulnya ngga tau kenapa, geli banget rasanya.
tapi aku dapet banyak piku ini, sayang kalo ngga di share.

daripada kelamaan, marilah kita lihat "kemesraan" taemin dan minho :p












kyaa~ kenapa minho sama taemin begitu mesra? *mupeng

Funfiction : Forgotten (Jonghyun)

hahahahaAnnyeonggg!
hari sabtuu saatnya aku bagi2 FF (di page fb)
tapi sebelum aku share di page fb, aku pengen share dulu di blog akuu.

xixixi, senengnya ternyata FF ku ini banyak yang suka.
yaaa~ semoga semuanya ngga bosen yaa baca FF ku inii.


*notes yang selalu aku tulis dan harus dibaca
perlu diketahui juga kalaaauuuuuuu FANFICTION INI SUDAH PERNAH DITERBITKAN DI PAGE SHINEE (nama page disamarkan, yang pasti pembacanya udah banyak *lol) dan juga DITERBITKAN DI FB AKUU. Jadi jangan coba2 mengcopy atau menyadur.
*plak, siapaa juga yang mau ngopy FF jelek kaya gini. hehehe


Forgotten


Tittle                     : Forgotten
Cast                      : JongHyun (jjong), Park Yong Jin, Jung Ji Kyung.
Author                 : Ichaa Ichez Lockets
Genre                   : Tragedy, Romance.

                Angin semilir menghempas melewati permukaan aliran sungai dan deretan pohon, membuat udara sore itu semakin terasa dingin. Suasanapun terlihat sunyi ditengah langit yang semakin menggelap.
                Terlihat seorang namja tampan yang merenung tepat dipagar besi pembatas antara sungai dan daratan yang tertutup dengan beton. Namja bernama JongHyun itu tampak begitu asik melamun sampai seorang yeoja mengalihkan pandangannya.
                “Sedang apa dia disana?” batin Jjong tanpa suara. Dahinya berkerut melihat ada seorang yeoja tampak berdiri diatas pagar jembatan dan bermaksud ingin terjun.
                Jjong sempat panic dan melihat keadaan disekeliling, tak ada siapapun.
                Tanpa pikir panjang, jjong langsung berlari ke atas jembatan dan meraih lengan yeoja itu sebelum jatuh.
                “Kau? Apa yang kau lakukan? Kau ingin bunuh diri?” pekik Jjong to the point.
                Yeoja itu tidak menjawab, justru kembali beranjak mendekati pembatas jembatan. Ia ingin terjun kembali.
                “Hey!” Jjong menarik lengan yeoja itu dengan cepat. “Apa kau sudah gila?”
                “Lepaskan!” ucap yeoja itu akhirnya. Suaranya terdengar pelan dan parau, membuat jjong terdiam sesaat.
                Kini langit sudah benar-benar gelap, lampu disepanjang pinggir sungai sudah dinyalakan. Dari kejauhan terlihat dua orang tengah duduk terdiam diatas sebuah kursi pinggir sungai. Mereka adalah jjong dan (tentu saja) yeoja itu.
                Setelah mereka berdebat panjang, akhirnya yeoja itu tidak jadi nekat bunuh diri. Namun sampai sekarang masih saja ia menangis sesengukan sambil menunduk memandangi ujung sepatunya.
                “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanya jjong sepelan mungkin. Dia sangat berhati-hati dan tidak ingin menyakiti hati yeoja itu.
                “Aku Park Hyo Jin.” Jawabnya. “Tidak seharusnya kau mencegahku. Aku sudah tidak pantas untuk hidup.” Lanjutnya.
                Jjong menghela nafas, “Sudah berkali-kali kubilang. Bunuh diri bukan jalan keluar.” Ucap Jjong dengan tenang. “Lagipula, kenapa kau ingin bunuh diri?” tanyanya kemudian.
                Hyo Jin tidak langsung menjawab, ia kembali menghapus air matanya kemudian menatap Jjong dengan lekat.
                “Sesudah ini, semua tidak aka nada gunanya. Karena satu-persatu akan hilang dari pikiranku dengan cepat.” Ucap Hyo Jin perlahan.
                Jjong mencerna jawaban itu beberapa saat. Tapi ia tidak sanggup memahaminya.
                “Kau tau apa yang paling berharga didunia ini Hyo Jin?”
                Hyo Jin tidak menjawab.
                “Itu adalah waktu. Karena kau tidak akan pernah bisa mengulang setiap detik yang terlewat. Jadi jangan pernah sia-siakan hidupmu seperti ini. Atau kau akan menyesal.”
                Hyo Jin mengalihkan pandangan dari Jjong lalu menerawang jauh. “Justru itu yang kutakutkan. Kau tidak akan mengerti.
***
                Jalan setapak di pinggiran trotoar terlihat penuh. Banyak orang berlalu lalang dan tampaknya sibuk dengan urusan masing-masing.
                Sama seperti sepasang manusia yang terlihat santai melintasi jalan itu sambil membawa es krim. Rasa coklat milik Jjong, sedangkan rasa strawberry milik Hyo Jin.
                “Bagaimana Hyo Jin? Rasanya enak bukan?”
                Hyo Jin mengangguk cepat. “Daritadi kita hanya berjalan disekitar  sini terus, bagaimana kalau ke tempat kita pertama kali bertemu, oppa?”
                “Ehmm,” jjong berfikir sejenak. “Boleh.”
                Sikap manis jjong rupanya dengan cepat merubah keinginan Hyo Jin untuk mengakhiri hidupnya beberapa waktu lalu. Kalimat yang pernah Jjong ucapkan juga mampu membuat Hyo Jin menghargai hidupnya, bahkan sangat menghargai hidupnya sekarang.
                “Hey Hyo Jin, kenapa daritadi kau memotret terus?” tanya jjong ketika mereka tiba ditempat tujuan.
                Hyo Jin tersenyum simpul lalu menoleh ke arah Jjong. “Aku harus mengambil semuanya sebelum menghilang.”
                “Mwo? Kau bisa kembali kesini kapanpun kau mau. Tempat ini tidak akan tutup Hyo Jin-ah.”
                Tawa Hyo Jin meledak. “Aku tahu.”  Hyo Jin berjalan mendekati Jjong lalu menempelkan pipinya di pipi Jjong. Dan klik! Kini wajah mereka terpampang jelas disebuah foto yang tercetak otomatis dari kamera Hyo Jin.
                “Ya! Kau kembali mengambil fotoku tanpa ijin.” Protes Jjong.
                Hyo Jin tersenyum lebar.
***
                Jam menunjukkan pukul 4 sore. Dengan cemas, Jjong menunggu ditepian sungai tempat mereka pertama kali bertemu.
                Berkali-kali jjong menebar pandang ke keadaan sekitar kalau-kalau Hyo Jin tiba dari arah yang berlawanan.
                Satu jam… dua jam…
                Matahari menghilang. Jjong mulai gelisah. Dia tidak bisa berbuat apapun untuk menghubungi Hyo Jin yang tidak kunjung datang. Jjong tidak memiliki nomor telepon Hyo Jin apalagi alamat rumahnya.
                Tiga jam… empat jam…
                Malam semakin larut. Tenaga Jjong sudah mulai habis. Udara membentuk seperti asap keluar dari hidungnya. Sesekali ia mengusap lengannya untuk menahan dingin. Badannya terasa membeku terduduk kaku di pinggir sungai malam-malam seperti ini.
                “Dia pasti datang, dia pasti akan datang sebentar lagi.” Ucap Jjong meyakinkan diri. Tapi kenyataannya, yeoja itu tidak pernah datang.
***
                “Oppa, cepatlah kesini. Pemandangan disini indah sekali. “ teriak seorang yeoja yang berlarian dipinggir sungai. Wajah yeoja itu terlihat sangat cerah dan tanpa beban.
                Jjong menoleh. Dia mengamati yeoja yang tampak sangat familiar itu. Berulang kali Jjong mengucek-ucek matanya, tapi yang ia lihat tetap sama. Itu Hyo Jin. Itu benar-benar Hyo Jin. Hyo Jin yang ia tunggu setiap sore ditempat ini. Itu benar-benar Hyo Jin yang berjanji akan datang dan kini ia telah menepati janjinya walau selang waktu 2 bulan terlewat.
                Perlahan Jjong melangkah mendekati yeoja itu dan mulai memanggil namanya. “Hyo Jin?”
                Hyo Jin menoleh. Begitu melihat Jjong, Hyo Jin mengerutkan dahi dan memiringkan kepalanya kekanan.
                “Dia siapa Oppa?”
                Nafas Jjong berhenti. Dadanya tiba-tiba terasa sakit. Bibir Jjong bergetar menatap Hyo Jin yang kini hanya berjarak setengah meter dan mendadak tidak mengenalinya.
Saat ini ingin sekali Jjong menggoyangkan tubuh Hyo Jin agar menyadari kehadirannya, namun kaki Jjong seperti terpaku ditanah. Ia hanya mampu mematung dihadapan seseorang yang selalu ia tunggu dan tiba-tiba menganggap dirinya sebagai orang asing.
                Disaat yang bersamaan, muncul seorang namja yang berjalan mendekati mereka berdua. Namja itulah yang Hyo Jin panggil “Oppa”. Dia pun terlihat sangat shock melihat kehadiran Jjong disana.
                “Hyo Jin, kau tidak mengenaliku?” tanya Jjong tidak yakin.
                Namja yang bersama Hyo Jin tadi memandang Jjong sebentar lalu akhirnya menarik lengan Jjong dan membawa Jjong menjauh.
                “Apa kau yang bernama JongHyun?”
                Jjong terkejut mendengar namja itu mengenalinya.
                “Kenalkan, aku Ji Kyung, kakak kandung Hyo Jin. Maaf jika semua ini membuatmu bingung. Tapi aku akan menjelaskannya.”
                Ji Kyung mulai mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam tas nya. Semua foto itu adalah foto yang diambil Hyo Jin 2 bulan lalu.
                “Ini?”
                “Hyo Jin mengidap penyakit alzhaimer.”
                Deg! Jjong mengalihkan pandangan dari foto kea rah Ji Kyung. “Apa kau bilang?”
                “Penyakit itu menyerang otak kecil dan menghapus memori dengan cepat. Oleh karena itu Hyo Jin melupakanmu.”
                Lutut Jjong tiba-tiba melemas. Tubuhnya hampir jatuh. Otaknya berdenyut dan mulai terasa sakit menerima kenyataan ini.
                “Begitu mengetahui kalau Hyo Jin mengidap penyakit ini, dia sempat mencoba untuk bunuh diri. Tapi untung ada kau.” Lanjut Ji Kyung.
                “Jjong Oppa, cepat kemari. Aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu.”
                Jjong menoleh cepat kea rah Hyo Jin. Wajahnya terlihat cerah mengetahui Hyo Jin tidak melupakannya. Hyo Jin masih mngingat namanya!
                “Tunggu Hyo Jin. Sebentar lagi aku akan menghampirimu.” Sayangnya itu bukan suara Jjong. Melainkan suara Ji Kyung. Ji Kyung lah yang menyahut.
                Jjong terperanjat. “Kau?”
                “Maafkan aku Jjong. Tapi memori Hyo Jin sudah rusak sekarang.  Dia akan mengingat sesuatu secara acak. Semenjak mengenalmu dia banyak sekali menuliskan namamu dan menempelkan fotomu di dinding kamarnya. Sampai…”
                “Sampai apa?”
                “Sampai suatu ketika dia stress setiap kali melihat fotomu dan mulai melepaskannya satu persatu…” Ji Kyung diam sebentar. “Tapi tampaknya namamu di otaknya sangat kuat. Oleh karena itu, dia memanggilku dengan namamu. Akupun tak tahu, dia masih bisa mengingat namaku atau tidak.”
                Dada Jjong terasa lebih sesak. Ia merasakan matanya memanas setiap kali melihat Hyo Jin berlarian di tepi sungai dengan keadaan seperti ini. Jjong seperti melihat sosok Hyo Jin yang berbeda. Bukan lagi Hyo Jin yang tersenyum getir, namun sosok Hyo Jin yang ceria dan tidak memiliki beban seperti yang pernah Jjong temui.
                “JongHyun Oppa! Kenapa kau lama sekali?”
                Jjong dan Ji Kyung menoleh bersamaan. Kemudian Jjong menunduk menyadari kalau kini bukan lagi ia yang dipanggil.
                “Dia siapa Oppa?” tanya Hyo Jin sambil berjalan mendekat.
                Jjong menatap Hyo Jin iba. Mata Hyo Jin memancarkan ketulusan dan terlihat  sangat teduh. Semua itu justru membuat Jjong semakin tidak bisa menahan perasaannya. Ingin sekali rasanya memeluk Hyo Jin dan mengulang kembali yang pernah ada, tapi jjong tahu itu tidak mungkin terjadi.
Sekuat tenaga ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. “Kuharap kita bisa mulai dari awal lagi Hyo Jin.” Ucap Jjong disela tangisnya.




Wednesday, 22 December 2010

Funfiction : Promise (Minho)

Annyeong semuah muah muah muah!
*deep kiss
love you all. bye~
*gubrak. belom apa2 woy!
oke. jayus. lanjut.

kali ini mau ngelanjutin FF ku yang udah aku posting sebelumnya. bukan ngelanjutin sih, tapi aku sengaja bikin FF tentang semua personil shinee, kemaren udah taemin, onew, key, dan sekarang minhoo. judulnya promise. menurutku sih sedih banget., ngga tau menurut kalian. hoho

*notes yang selalu aku tulis dan harus dibaca
perlu diketahui juga kalaaauuuuuuu FANFICTION INI SUDAH PERNAH DITERBITKAN DI PAGE SHINEE (nama page disamarkan, yang pasti pembacanya udah banyak *lol) dan juga DITERBITKAN DI FB AKUU. Jadi jangan coba2 mengcopy atau menyadur.
*plak, siapaa juga yang mau ngopy FF jelek kaya gini. hehehe


Promise



Title                      : Promise
Cast                      : Choi Minho, Shin Ha Ra
Genre                   : Tragedy, romance.

                Siang itu udara kota Seoul terasa panas. Tidak terlalu berbeda dengan keadaan di dalam bus yang ditumpangi seorang namja tampan bernama Minho. Dia tampak Enjoy mendengarkan music dari sebuah headphone yang terpasang di kepalanya. Padahal saat itu sangat pebuh sampai-sampai Minho terpaksa berdiri menggantung.
                “Permisi” ucap seorang yeoja dibelakangnya. Yeoja itu melintas dan berhenti tepat di sisi kiri Minho.
                Sepintas, yeoja itu terlihat berantakan dengan celana belel, sepatu kets dan juga jumper hitamnya. Dan satu lagi, ada sebuah topi yang melingkar diatas kepalanya.
                “Ciiiiit.” Tiba-tiba supir mengerem bus mendadak. Membuat semua penumpang bergerak ke depan.
                Saat itu juga Minho melihat yeoja disampingnya tadi mengambil sebuah dompet milik lelaki paruh baja yang berjas rapi di depannya. Lelaki paruh baya itu tidak menyadari jika sedang dicopet.
                Tapi anehnya, Minho hanya tersenyum lalu melangkah untuk turun dari bus.
                Tanpa ia sangka, yeoja pencopet itu juga turun di halte yang sama. Dengan tenang yeoja itu turun lalu berjalan melewati trotoar dan berhenti disebuah toko untuk membeli es krim.
                “Berapa?”tanyanya pada penjual es krim.
                “Lima ribu.”
                “Ini.” Ucap Minho yang tiba-tiba datang lalu membayar es krim milik yeoja itu.
                “Hey, siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba membayar es krim ku, ha? Kau pikir aku tidak punya uang?” tanyanya kasar.
                Minho tersenyum, matanya yang bulat dan senyumnya yang manis itu menghipnotis sang yeoja dengan cepat.
                “aku hanya tidak ingin kau memakan es krim dari uang haram.” Ujar Minho ketika mereka sudah agak jauh dari toko es krim.
                “Apa kau bilang?”
                “Aku tadi tidak sengaja melihatmu mengambil dompet orang itu.” Ucap Minho dengan tenang.
                “Kau?” yeoja itu terkejut setengah mati. “Kau sungguh melihatnya? Sial!”
                “Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tapi aku hanya ingin kau mengembalikan dompet itu dalam keadaan utuh.”
                “ck!” yeoja itu melengos. “Itu tidak mungkin. Lagipula dia orang kaya. Dia tidak mungkin bangkrut jika aku hanya mengambil dompetnya ini.”
                Minho menghela nafas sambil menatap yeoja yang ada didepannya. Yeoja itu jadi salah tingkah. “Kenapa kau tidak mencoba mencari pekerjan?” kata Minho kemudian.
                “Huuhft…” bahu yeoja itu menurun. “Jika aku bisa mendapatkan pekerjaan, mana mungkin aku bekerja seperti ini?”
                Minho diam. Ia tampak berfikir sejenak sambil (lagi-lagi) menatap yeoja yang berdiri didepannya.
                “Aku akan memberimu pekerjaan, tapi kau harus berjanji untuk tidak mencopet seperti ini lagi.”
                “Benarkah?” tanyanya semangat.
                Minho mengangguk. “Janji?”
                Yeoja itu mengangguk semangat.
                “Oke, siapa namamu?”
                “Shin Ha Ra.”
                Setelah mendengar nama yeoja itu, minho mengeluarkan ponsel lalu tampak menelpon seseorang dan berbicara sejenak.
                “Mulai besok kau bisa bekerja di restoran ahjussiku. Tapi aku ingin kau pegang janjimu.” Ucap Minho seraya menyerahkan sebuah kertas. “Ini alamatnya.” Kemudian ia melangkah pergi.
                Dari balik punggung minho yang lebar dan tubuhnya yang tinggi, Ha Ra tertegun menatapnya, “Apakah dia seorang malaikat?” ucap Ha Ra dalam hati.
***
                “Annyeong!” sapa Ha Ra ketika melihat Minho melintas masuk melewati pintu restoran.
                Minho tersenyum. “Annyeong. Bagaimana pekerjaanmu?” sapanya ramah.
                “Menyenangkan!”
                “Syukurlah. Mana ahjussi?”
                “Dia sedang menemui seorang pelanggan yang memesan cathering untuk sebuah acara. Mau pesan apa?”
                “Haha, aku tidak bermaksud untuk makan disini. Tapi okelah jika kau menawarkan.” Minho melihat daftar menu. “Milkshake cappucino satu.”
                “Segera datang!”
                Minho duduk disebuah meja disudut ruangan. Dia menatap pelanggan lain yang kini duduk seruangan dengannya. Siang-siang seperti ini sudah pasti restoran penuh, beruntung dia masih mendapatkan kursi untuk duduk.
                “Pesanan datang!”
                Minho tersenyum menyambut kedatangan Ha Ra. “Gomawo.”
                “Milkshake cappuccino special untuk minho!”
                Lagi-lagi minho tersenyum. Tampaknya namja ini lebih suka menjawab sesuatu dengan senyuman.
                “Minho, sabtu sore besok apakah kau ada acara?”
                Minho tidak langsung menjawab, lalu kemudian menggeleng.
                “Kalau begitu, maukah kau pergi denganku? Aku ingin memberimu sesuatu. Sebagai tanda terimakasihku.”
                Minho tersenyum lebar sambil mengaduk milkshakenya. “Sebenarnya itu tidak perlu Ha Ra. Anggap saja ini semua kado dariku.”
                “Tapi aku tetap ingin memberimu sesuatu. Kau mau menerimanya kan?”
                Minho menatap Ha Ra sebentar lalu akhirnya mengangguk.
***
                Pandangan Minho menyapu keadaan disekelilingnya. Kini ia ada disebuah lapangan basket yang terletak di tengah perkampungan, didekat gedung-gedung tengah kota. Disana sangat ramai orang berlalu lalang. Namun di tengah lapangan itu, kini hanya ada Minho dan Ha Ra seorang.
                “Jadi, kenapa kau membawaku kemari?”
                “Kau suka basket bukan?” Ha Ra mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “ini untukmu.” Sembari menyerahkan sebuah bola basket berwarna hitam untuk Minho.
                “Untukku?”
                “Ye, sebagai tanda terimakasihku.”
                “Woaahh, gomawo.” Minho menerima bola itu dengan senang lalu melakukan beberapa dribble dan akhirnya bola itu berakhir melewati bundaran ring dalam satu kali tembakan.
                “Waw!” Ha Ra terkesima.
                “Mau mencobanya?” tawar Minho.
                “Siapa takut?”
                Akhirnya mereka berdua bermain bersama. Mereka begitu asik sampai sesuatu terjatuh dari saku jumper Ha Ra.
                “Ini milikmu?”
                “Eh? Iya!” ucap Ha Ra, panic. Ia ingin merebut dompet itu, namun Minho mencegahnya. Minho mendadak curiga.
                Dan kecurigaan Minho terjawab setelah menemukan ID yang bukan milik Ha Ra, melainkan milik orang lain. Ha Ra kembali mencopet.
                “Kau berbohong padaku Ha Ra?” Raut wajah Minho mendadak berubah. Rahangnya mengeras, matanya tajam menghujam ke arah Ha Ra. “Aku tidak ingin menerima bola haram ini.”
                “Tidak Minho. Bola ini hasil kerjaku selama ini. Aku tidak berbohong.”
                “Tapi kau sudah berjanji padaku Ha Ra!” teriak Minho keras. Suaranya menggema di udara, membuat Ha Ra terperanjat. Air matanya seketika merebak.
                Minho meraih jaket dan tas yang ia letakkan di tepi lapangan lalu beranjak pergi.
                “Minho, tunggu!” Ha Ra meraih lengan Minho kemudian memeluk minho dari belakang. “Mianhe… jeongmal mianhe Minho. Aku tidak bermaksud menghancurkan kepercayaanmu. Tapi aku benar-benar sedang butuh uang.” Ucapnya dibalik punggung Minho.
                Minho tertunduk dalam, menutup matanya menahan tangis. Lalu ia melepaskan pelukan Ha Ra tanpa suara.
                “Minho…” ucap Ha Ra bergetar.
                Tepat setelah itu ada segerombolan orang yang mendatangi Ha Ra dengan wajah penuh curiga. “Hey kau? Bukankah kau yang mencopet dompetku waktu itu?” tanya orang itu begitu keras, sampai-sampai Minho yang berjarak beberapa meter dari mereka mendengarnya.
                Ha Ra terkejut, ia tak menyangka salah satu korbannya mengenalinya.
                “Lari Ha Ra!” dengan cepat minho berbalik dan meraik tangan Ha Ra. Mereka berdua berlari melintasi perkampungan itu, menerjang banyak orang yang menghalangi langkah mereka.
                Ha Ra tidak bisa berfikir apapun, yang ia tahu kini ada segerombolan preman bertampang sangar berbadan besar yang sedang mengejarnya. Demikian juga Minho, ini bukan saatnya untuk marah, tapi ia harus menyelamatkan seseorang yang sedang ia genggam tangannya sekarang.
                Sialnya mereka memilih belokan yang salah. Tak ada lagi jalan. Hanya ada 3 gedung bertingkat di ketiga sisinya. Membuat keduanya mati langkah!
                “Masuklah kesini Ha Ra!” ucap minho sambil membukakan sebuah bak sampah besar yuang kosong.
                “Lalu kau?”
                “Cepatlah! Tidak ada waktu lagi!”
                Disaat yang bersamaan, munculah segerombolan preman itu di ujung jalan. Untung saja minho sudah menutup tempat persembunyian Ha Ra sebelumnya.
                “Mau lari kemana lagi kau, ha?” ujar preman itu. “Mana yeoja busuk itu? Bisa-bisanya dia mengambil duitku. Cuih!” di meludah tepat di ujung sepatu minho.
                “Jika kau ingin menemukannya, kau harus menghadapiku dulu. “ ucap minho tegas. Padahal hatinyapun sedang takut. Tapi ia akan melakukan apapun untuk Ha Ra yang sedang mengintip di balik tempat persembunyiannya.
                “Tunggu apa lagi? Habisi dia!”
                Tanpa bekal beladiri, perlawanan Minho tidak berarti. Dalam hitungan detik, dia tumbang. Mereka memukul wajah Minho, menendang perut Minho dan bahkan menggunakan benda tumpul untuk menghajar Minho.
                Ha Ra menutup mulutnya dengan tangan dan menggigit lidahnya kuat-kuat agar tidak berteriak. Air matanya tidak terbendung melihat minho mencoba bertahan sampai tenaga Minho habis.
                Setelah puas menghajar minho, preman itu merampas uang yang minho punya. Lalu akhirnya pergi meninggalkan minho yang terkapar tak berdaya di tanah.
                Ha Ra keluar lalu meraih kepala Minho dan meletakkan di pangkuannya. Dadanya terasa begitu sesak. Matanya memanas lalu akhirnya air mata mengaburkan pandangannya.
                Di pangkuannya kini terlihat sosok Minho yang tak berdaya dan berlumuran darah. Ha Ra tidak mampu merasakan apa yang sedang Minho rasakan. Namun yang pasti, terasa sangat sakit.
                “Je…jeongmal mianhe” ucap Ha Ra terdengar sangat pelan.
                “Jangan menangis Ha Ra.” Ucap minho tertahan sambil mengusap air mata yang mengalir dan menorehkan darah yang berasal dari tangan minho dipipi Ha Ra.
                Ha Ra ingin mengatakan sesuatu. Tapi tiba-tiba tenggorokannya tercekat. Ia hanya mampu memeluk Minho dengan erat.
                “Setelah melihatku seperti ini, apakah kau kini mau berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi?” ucap minho disela pelukan Ha ra.
                Ha ra tak sanggup menjawab. Ia menyadari betapa besar rasa bersalahnya hingga tak terbendung lagi. Dalam hati ia berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, dalam keadaan apapun. Sungguh! Demi seseorang yang ada dalam pelukannya sekarang.
-the end-

please comment!

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...