Saturday, 29 October 2011

FF B1A4 : Victory [Part 18]


alohaa, di sore hari yang mendung ini aku balik lagiii. ekekekek
setelah nglembur ampe larut malem dan lanjut dari pagi ampe sore, ternyata bisa dipost tepat waktu. kirain bakal telat. hehe
oiya, part ini super panjaaaang. (13 halaman). aku dah nyoba ngedit2 biar pendek, tetep aja jadinya panjang -____-
udah deh ya, selamat membacaa :D



Tittle                : Victory [Part 18]
Author             : Ichaa Ichez Lockets
Genre              : Friendship, Romance.
Rating             : T
Cast                 : Shin Hye Mi (Naya), Jung Eun Sun, Janny Lee (Jane), Kumiko Chan, B1A4 member.
Length             : Chaptered
Desclaimer      : This story is originally mine and inspired of many articles that I read. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!

            Berulang kali Hye Mi mengetukkan ujung kakinya dilantai, berusaha menghilangkan kebosanan karena telah menunggu berjam-jam di lorong lantai satu, tepat beberapa meter dari ruang Mr Cho.
            Gongchan. Hye Mi tahu benar anggota B1A4 tengah berada didalam ruang itu. Tentang apa yang mereka bicarakan, Hye Mi tak tahu pasti. Yang jelas mungkin ada kaitannya dengan debut B1A4 yang tinggal menunggu hari. Namun bukan itu alasan Hye Mi menemui Gongchan sekarang, melainkan tentang kejadian tadi malam.
            “Chann…!” teriakan Hye Mi seketika terhenti tepat ketika ia melihat Jinyoung berjalan keluar ruangan mengikuti Gongchan yang ada didepannya.
            Gongchan menoleh. Begitu pula dengan Jinyoung. Hye Mi cepat-cepat berlari ke belokan dan bersembunyi disana karena tak ingin menemui Jinyoung sekarang. Dan saat ia pikir keadaan sudah mulai tenang, Hye Mi mengintip perlahan. Sayangnya Gongchan sudah pergi. Sepertinya Hye Mi memang harus minta maaf lain kali.
***
            “Channie!” teriak Hye Mi sambil berlari. Hye Mi pikir sekarang adalah waktu yang tepat karena Gongchan sedang berjalan sendirian melintasi koridor. “Tunggu Channie!”
            Gongchan menghentikan langkahnya lalu menoleh. “Noona~” teriak namja itu cerah. “Aku tadi mencarimu.”
            “Eung?” Hye Mi terkejut. “Mencariku?”
            “He’em.” Ucap Gongchan sambil mengangguk. “Ada yang ingin aku tunjukkan padamu. Kajja!” ajaknya lalu menggandeng tangan Hye Mi.
            “Ini.” Sebuah album berwarna putih Gongchan berikan pada Hye Mi sesaat setelah dia membuka lokernya.
            “Let’s Fly?”
            Lagi-lagi Gongchan mengangguk. “Itu mini album pertama kami noona!” ucapnya bersemangat. “Aku terlihat sangat cool kan?” Gongchan menunjuk tepat di fotonya yang menggunakan kaos putih dengan mahkota berwarna pink.
            “Wah…” Hye Mi pun tersenyum lebar melihat mini album itu. “Ne~ kau terlihat sangat keren. Kalian semua terlihat sangat keren!”
            Kemudian Gongchan membalik album itu dan menunjukkan daftar lagu didalamnya. “Mini album ini berisi lima lagu. Kau harus segera mendengar suaraku noona! Bahkan ada juga lagu yang diciptakan oleh Jinyoung Hyung. Tapi aku menyarankanmu untuk mendengarkan lagu Only One. Ah.. aku suka sekali dengan lagu itu…”
            Hye Mi terdiam sambil tersenyum menatap Gongchan. Ketara sekali namja itu terlihat sangat senang karena telah memiliki mini album sendiri yang tengah ia genggam. Bahkan nada bicara Gongchan yang sangat menggebu-nggebu itu sama sekali tak memberikan kesempatan untuk Hye Mi menyelanya.
            Tapi tiba-tiba Gongchan tak melanjutkan kata-katanya, justru menatap Hye Mi heran.
            “Noona~~? Kenapa kau melihatku… seperti itu?”
            “Oh…” lamunan Hye Mi seketika buyar. “Itu…” ingin sekali Hye Mi mengutarakan apa yang menjadi tujuan ia mencari Gongchan sejak kemarin. Meminta maaf karena telah membuat namja itu menangis. Namun sekarang Hye Mi justru tak sanggup berkata apapun, ia juga tak ingin menghancurkan suasana hati Gongchan. Lagipula sepertinya namja itu sudah melupakan semuanya, jadi Hye Mi pikir tak seharusnya dia menguak sesuatu yang telah dilupakan.
            “Noona~~?” tanya Gongchan lagi. Kali ini sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Hye Mi.
            “Oh mian, aku hanya… merasa sangat gembira bisa melihat mini albummu ini channie. Lagipula sebentar lagi kau akan debut. Chukkaeyo~~!” ucap Hye Mi sambil menepukkan kedua tangannya. Membuat wajah Gongchan kembali cerah.
            “Ah iya, hampir saja lupa.” Gongchan menepuk keningnya. “Besok tanggal 21 akan diadakan pesta untuk merayakan debut kami. Kau jangan sampai tidak datang ya noona~”
            “Oh…”
            “Pokoknya kau harus datang.” Paksa Gongchan. “Kalau begitu sekarang aku pergi dulu ya, para hyung sudah menungguku untuk latihan. Annyeong~”
            Dahi Hye Mi berkerut menatap punggung Gongchan yang berjalan menjauh. Dulu tentang berbaikan dengan Jane, sekarang tentang kejadian tadi malam. Gongchan selalu saja susah ditebak. Perasaannya berubah begitu cepat. Sepertinya Hye Mi memang tak sanggup memahami pikiran namja itu.
            Tapi ada satu yang Hye Mi tak tahu. Bahwa sebenarnya Gongchan sangat pandai menyembunyikan perasaannya, termasuk perasaan kecewa yang tengah melanda namja itu sekarang.
***
            “Duk…duk…duk…”
            Terdengar hentakan bola yang memantul di lantai lapangan basket dengan keras. Mula-mula bola itu berada ditengah lapangan, tapi kemudian mendekat dan secepat kilat melesat menghantam papan kayu sampai akhirnya masuk dengan sempurna melewati bundaran ring.
            “Waaa daebak!” Hye Mi kembali bertepuk tangan dengan semangat di tepi lapangan, “Oppa, kau sangat hebat!!”
            Shinwoo tersenyum, “Mau mencobanya?”
            “Mwo?” tanya Hye Mi kemudian menggeleng. “Aniyo. Aku tidak bisa bermain basket, Oppa.”
            Tapi nyatanya Shinwoo tetap meraih tangan Hye Mi dan mengajaknya ketengah lapangan.
            “Ayo kita bertanding.” Tantang Shinwoo. “Battle satu lawan satu.”
            Tawa Hye Mi seketika meledak. “Oppa bercanda? Sudah kubilang aku tidak bisa main basket.”
            “Ani.” ucap Shinwoo masih tersenyum. “Kali ini kau pasti bisa.” Lanjutnya kemudian menyerahkan bola basket itu pada Hye Mi.
            Hye Mi hanya bisa pasrah menerimanya lalu mulai memantulkan bola itu mendekati ring sementara Shinwoo membayang-bayangi didepannya. Hye Mi sedikit takut tapi ternyata berhasil melewati Shinwoo dan langsung melempar bola itu menuju ring.
            “Yah… tidak masuk.” Ucap Hye Mi kecewa.
            Shinwoo langsung mengacak-acak rambut Hye Mi gemas. Ia sudah berusaha mengalah tapi Hye Mi tetap gagal di usaha terakhirnya.
            “Mau mencobanya lagi?”
            “Hye Mi…” panggil seseorang yang tiba-tiba datang. “Bisakah kita bicara sebentar?”
            Tanpa menolehpun Hye Mi tahu itu Jinyoung. Ia justru meraih tas yang ada di tepi lapangan kemudian berpamitan.
            “Oppa aku ada latihan. Annyeong~.” Pamitnya cepat sambil berjalan membelakangi Jinyoung. Setidaknya Hye Mi masih ingat bahwa ia tidak boleh mengulang kebodohan untuk yang kedua kalinya.
            “Tunggu Hye Mi.”
            Panggilan itu Hye Mi abaikan, dia tetap berjalan meski kalimat itu ia dengar dengan jelas.
            “Saranghae…”
            DEG! Langkah Hye Mi langsung terhenti ditengah-tengah. Kedua matanya melebar, bahkan seperti ingin keluar dari rongganya.
            ‘Kalimat itu… apakah Jinyoung benar-benar mengucapkannya?’
            Saat itu juga Shinwoo berjalan mendahului Hye Mi, mengganggap ini bukan urusannya untuk ikut campur. Namun langkah namja itu berhenti ketika Hye Mi meraih tangannya.
            “Apakah kau merasakan hal yang sama Hye Mi?” tanya Jinyoung lagi, telah jenuh menghadapi keadaan yang selalu saja seperti ini.
            Hye Mi tak sanggup menjawab. Justru tertunduk dalam sambil menggigit bawahnya keras-keras. Hye Mi pikir ini terlalu cepat. Meski ia telah menduganya, namun ia tahu ia belum siap. Ah tidak, dia tidak pernah siap.
            “Apa ini karena Eun Sun?”
            Sekali lagi kalimat yang Jinyoung ucapkan dengan sukses membuat Hye Mi terperanjat. Darimana Jinyoung tahu soal Eun Sun?
            Meskipun beratus atau beribu kali Hye Mi mencoba memungkiri pikirannya sendiri, nyatanya memang nama itulah yang menjadi alasannya selama ini. Tapi ia tak mungkin menjawab pertanyaan itu dengan jujur, jangankan menjawab, membuka bibirnya saja Hye Mi tak sanggup. Ia hanya mampu berusaha menahan tangis yang hampir saja membasahi setiap sudut bola matanya sekarang.
            “Kau tahu sendiri Hye Mi. Aku tak pernah menyukainya.” Ucap Jinyoung memulai penjelasan. “Perhatianku selama ini kuberikan padanya karena Eun Sun hanya kuanggap seperti adikku sendiri. Tidak lebih.”
            Hye Mi masih terdiam. Entah kenapa penjelasan itu belum berarti apapun dimatanya.
            “Aku tahu kau mengerti Hye Mi. Bahkan jika kau memintaku untuk menjauhi…”
            “Cukup!” ucap Hye Mi membalik badannya kemudian menatap Jinyoung nanar. “Kumohon jangan berkata apapun lagi.”
            Jinyoung pun tak melanjutkan kalimatnya, membalas tatapan Hye Mi dalam-dalam.
            “Maaf aku tak bisa.” Jawab Hye Mi akhirnya. Meski telah berulang kali berfikir, hanya kalimat itu yang bisa ia dapatkan. “Kau salah Jinyoung. Ini semua bukan karena Eun Sun. Tapi karena ada orang lain yang aku sukai.”
            Jinyoung mengerutkan dahinya, berfikir. Tapi belum sempat ia mencerna kalimat itu baik-baik, Hye Mi kembali berucap.
            “Shinwoo Oppa. Dia Shinwoo Oppa, bukan kau.” Ucap Hye Mi tajam.
            Shinwoo langsung menoleh menatap Hye Mi yang berdiri membelakanginya. Jinyoung pun masih tak percaya nama itu yang keluar dari bibir Hye Mi, bukan namanya, atau seseorang yang tidak ia kenal. Namun Hye Mi tak memberi penjelasan lebih lanjut. Justru memilih pergi secepatnya sebelum air mata ini jatuh dihadapan Jinyoung.
            Hye Mi berjalan gontai memasuki gedung WM Ent. Meski berulang kali ia menabrak trainee lain yang melintas, Hye Mi tak peduli. Pikirannya sedang kacau sekarang. Bahkan ia sendiri tak percaya akan apa yang baru saja ia ucapkan. Entahlah, kalimat itu keluar begitu saja tanpa dapat ia kendalikan.
            Lutut Hye Mi melemas tepat ketika ia sampai diruang koreo. Beruntung ruang itu tidak dipakai, setidaknya tak ada yang menemukan Hye Mi tengah menangis disana. Dalam kegelapan, tubuh Hye Mi ambruk dilantai. Nafasnya tersengal dan air mata sudah benar-benar tidak dapat ia tahan sekarang.
            Yeoja itu menutup matanya rapat-rapat dan berulang kali menepuk dadanya ketika rasa sesak bersarang disana. Bahkan menangispun tak sanggup melegakan rasa ini.
            Ia tahu ia bodoh. Tapi tak ada jalan lain yang bisa ia temukan selain membohongi Jinyoung, atau bahkan membohongi dirinya sendiri.
            Saat itu juga tiba-tiba lampu ruangan dinyalakan. Dengan pandangan yang mengabur, dari cermin bisa Hye Mi lihat Shinwoo berjalan mendekat kemudian setengah berjongkok didepannya.
            “Mianhaeyo… Oppa…” sesal Hye Mi yang terlanjur melibatkan Shinwoo dalam masalah ini.
            Shinwoo tersenyum, “Gwenchana. Aku tahu yang sebenarnya.” Ucap namja itu sambil menghapus air mata Hye Mi.
            “Kau bilang ingin latihan bukan? Bagaimana kalau kita latihan bersama?”
            Hye Mi menatap Shinwoo heran. Namun sekali lagi Shinwoo tersenyum, “Kajja!” ajaknya menarik tangan Hye Mi.
            Sekali lagi Hye Mi tahu, hanya Shinwoo yang sanggup melakukannya.
***
            Sore itu seusai berjalan ke sekitar dorm, Hye Mi beranjak mandi untuk menghilangkan rasa penatnya. Sambil mengguyur tubuh dengan air yang dingin, Hye Mi berfikir. Hari ini adalah hari tepat B1A4 debut. Dan sekitar 2 jam lagi ada pesta perayaan debut mereka.
            Sudah sejak jam 12 malam tadi music video mereka diluncurkan, dan sejak saat itu pula B1A4 mendapat banyak perhatian. Tentu saja ini kabar gembira. Namun Hye Mi masih tak sanggup melupakan masalah yang ditimbulkannya kemarin.
            Saat Hye Mi sedang asik melamun, tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Teriakan keras yang berasal dari luar.
            “Kumiko…? Kumiko!!”
            “Kumiko…?!! Sadarlah!”
            Setelah mengeringkan badan dan berpakaian lengkap secepat mungkin, Hye Mi keluar dari kamar mandi dan menemukan Kumiko sudah tidak sadarkan diri dipangkuan Jane dengan bercak darah disekitar bibirnya!
            “Astaga Kumiko!” Hye Mi menghambur ke lantai dapur dimana Kumiko ada disana. “Cepat telpon ambulance sekarang juga!!!”
            Dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Tak ada yang bisa mereka lakukan sekarang selain menunggu dilorong rumah sakit. Eun Sun tampak menangis dan ditenangkan oleh Hye Mi, sedangkan Jane tengah menceritakan apa yang terjadi kepada ibu asrama yang juga sempat mengantar Kumiko ke rumah sakit.
            Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dokter keluar ruangan dan langsung disambar oleh Eun Sun.
            “Apa yang terjadi dokter? Kumiko kenapa dok?”
            Dokter paruh baya itu melepas kacamatanya, “Sepertinya pasien ini keracunan. Nyawanya bisa saja terancam jika dia tidak cepat-cepat dibawa ke rumah sakit...”
            Spontan semua yang ada disana terkejut. “Keracunan?!?”
            “…Kami belum bisa memastikannya sebelum hasil diagnosis keluar.”
            Hye Mi terduduk lemas di kursi samping koridor, sedangkan Eun Sun mulai menangis lagi.
            “Bisakah saya bicara sebentar dengan seseorang yang mengetahui kronologis kejadian ini?” tanya dokter itu lagi.
            “Saya dok.” Jawab Jane. “Saya akan menceritakan semuanya.”
            “Baiklah. Ikut saya sekarang.”
***
            Pukul 7 malam tepat ketika perayaan debut B1A4, gedung WM Ent tampak ramai dengan para trainee dan juga tentor yang menghadiri pesta. Namun Hye Mi, Eun Sun dan Jane justru diminta untuk segera menghadap Mr Cho saat itu juga.
            Digedung yang sama, dilantai yang berbeda, Hye Mi, Eun Sun dan Jane duduk berdampingan menghadap Mr Cho yang melihat wajah mereka dengan masam.
            “Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin kalian menceritakan semuanya dengan detail.” Ucapnya serius. “Dimulai darimu Hye Mi.”
            Hye Mi menarik nafasnya dalam-dalam sambil melirik ke arah dua temannya sekilas, “Tadi aku sedang mandi. Kemudian aku mendengar suara teriakan dari dapur. Ketika aku keluar, Kumiko sudah tak sadarkan diri di atas lantai.”
            Mr Cho mengangguk, “Sekarang giliranmu.” Ucapnya menunjuk Eun Sun.
            “Tadi aku sedang memakai sepatu didepan karena aku bersiap ingin berjalan sore. Tapi aku sempat lupa membawa botol minum, jadi aku bermaksud mengambilnya didapur. Saat itu kulihat Kumiko sudah muntah-muntah di wastafel dapur.”
            Alis Mr Cho berkerut. “Berarti sekarang tinggal kau Jane.”
            Jane membalas tatapan Mr Cho tajam. “Bukan aku pelakunya!”
            “Aku tidak menuduhmu. Hanya ingin mendengar penjelasanmu saja. Jika kau keberatan maka…”
            “Oke. Aku akan menjelaskannya.” Potong jane cepat. “Sore tadi aku dan Kumiko tengah makan spaghetti bersama. Dia sangat bersemangat hingga tak sengaja tersedak. Karena harus mengambil air minum di kulkas yang kupikir akan memakan waktu, akhirnya dengan panik aku mengambil botol minum yang tergeletak di meja dan memberikannya pada Kumiko.” Jane terdiam sejenak melihat reaksi Mr Cho yang mendengarkannya dengan seksama. “Tak lama kemudian Kumiko sesak nafas dan berlari ke arah wastafel. Awalnya dia memuntahkan makanan, tapi lama-lama ada noda darah disana. Ia tak berhenti sampai tubuhnya terjatuh dilantai.”
            Eun Sun dan Hye Mi ngeri mendengar penjelasan Jane. Tak berani mengingat betapa mengerikan melihat darah Kumiko keluar melalui sudut bibirnya.
            “Baiklah.” Ucap Mr Cho akhirnya. “Menurut diagnosis dari dokter yang kuterima, Kumiko menelan racun yang mengandung arsenic. Racun ini menyebabkan system pencernaan rusak, muntah, kram perut, koma dan bahkan kematian. Menurut dokter, meski racun yang ditelan tidak dalam jumlah besar, namun tentu saja tetap berbahaya. Akibatnya Kumiko harus mendapatkan penanganan yang intensif dari rumah sakit.” Mr Cho kembali menatap 3 trainee yang ada didepannya. “Pertanyaannya adalah siapa yang tega meracuni Kumiko?”
            Mereka saling berpandangan. Tak ingin menuduh, tapi juga tak ingin terlibat dalam tuduhan.
            “Dokter memberikan dua kemungkinan sumber racun itu. Yang pertama dari spaghetti, dan yang kedua dari botol minuman.” ucap Mr Cho lagi.
            “Tidak mungkin jika racun itu dari spaghetti, karena aku juga memakan makanan yang sama. Sedangkan botol itu, aku tidak tahu pasti karena aku tak begitu memperhatikan siapa yang menaruhnya diatas meja. Dan satu lagi, sejak pukul dua siang sampai Kumiko ada dirumah sakit, aku selalu bersama dengannya.”
            Hye Mi mengangguk. “Lagipula saat Kumiko tersedak dan Jane meminumkannya karena panik, itu juga bukan kejadian yang disengaja bukan?” jelasnya kemudian.
            “Berarti memang kecil kemungkinan Jane yang memasukkan racun ke dalam botol minuman itu.” Mr Cho berfikir sejenak. “Tapi… siapa sebenarnya pemilik botol minuman itu?”
            Semua pandangan tertuju pada Eun Sun.
            “Tidak mungkin juga jika Eun Sun pelakunya.” Bela Hye Mi. “Untuk apa Eun Sun menaruh racun dalam minumannya sendiri?”
            Mr Cho kembali merenungkan ucapan Hye Mi. Suasana berubah tegang, sama sekali tak ada yang menyangka ternyata mereka memiliki musuh dalam selimut.
            Sejauh ini belum ada jawaban yang membawa ke titik terang sampai Eun Sun mulai berbicara.
            “Tapi…”
            “Tapi apa Eun Sun?”
            “Tapi sebenarnya botol itu sempat dibawa pergi oleh seseorang…”
            DEG!
            “… Aku hanya tidak menyangka saat dia kembali ternyata botol itu telah diberi racun.” Lanjut Eun Sun. “Untung aku tidak sempat meminumnya, padahal ia sudah memintaku untuk membawa botol itu. Sepertinya memang aku yang sebenarnya jadi sasaran dalam kasus ini.”
            “Jangan sembarangan bicara Eun Sun!!” bentak Jane geram karena ia tahu siapa yang Eun Sun maksud.
            “Jane diam!” Mr Cho tak kalah emosi melihat tingkah Jane. “Siapa yang kau maksud Eun Sun? Cepat katakan…!”
            Eun Sun hanya diam. Menunduk sambil menggenggam tangannya.
            “Orang itu aku.” Jawab Hye Mi. “Itu memang botol Eun Sun dan aku meminjamnya untuk berlari sore. Tapi karena tiba-tiba aku merasa tidak enak badan jadi aku hanya berjalan sebentar kemudian kembali.” Papar Hye Mi sedikit takut.
            “Apa kau yang mengisi air dalam botol itu?”
            “Aku…” Hye Mi terdiam kemudian mengangguk menjawab pertanyaan Mr Cho.
            “Setelah kembali ke dorm apakah benar kau meminta Eun Sun untuk meminum air yang ada didalamnya?”
            Pertanyaan itu benar-benar menyudutkan Hye Mi, tapi ia tetap berusaha berkata jujur. “Eun Sun bilang dia juga akan berjalan-jalan. Karena air dalam botol itu masih utuh, aku jadi memintanya untuk membawa botol itu tanpa harus mengisinya lagi. Tapi aku tidak tahu kenapa botol itu bisa berisi racun…” kali ini suara Hye Mi mulai terdengar serak.
            “Kenapa kau harus menggunakan botol milik Eun Sun? Mengapa tidak menggunakan botolmu sendiri?” tanya Mr Cho penuh selidik.
            Hye Mi menarik nafasnya berat, “Botolku tiba-tiba tidak ada didapur. Aku sudah mencarinya dimanapun tapi aku tidak menemukannya. Akhinya aku memutuskan untuk meminjam botol milik Eun Sun.”
            Mr Cho melipat kedua tangannya memikirkan penjelasan Hye Mi. Sedangkan Hye Mi memandang Mr Cho ragu, ia benar-benar takut sekarang. Meski ia telah menjawab semua dengan sejujur-jujurnya, namun entah kenapa Hye Mi merasa jawaban jujur itu justru membuat tuduhan mengarah padanya. Ingin sekali rasanya membuktikan sesuatu, tapi ia tak tahu apa yang harus ia perbuat.
            “Ini masalah yang sangat serius. Aku khawatir polisi akan mengetahuinya.” Ucap Mr Cho lagi. “Karena setelah jatuh ke tangan polisi, public akan dengan cepat dapat berspekulasi negatif. Hal itu tentu saja akan berimbas pada karir B1A4 yang baru saja debut. Aku tidak mau orang-orang mengetahui ada pembunuh dari kalangan trainee WM Ent yang notabene adalah agensi B1A4.” Mr Cho terdiam sejenak. “Sejauh ini, nenek dari Kumiko belum mengajukan gugatan. Kalian pasti tahu Kumiko adalah anak yatim piatu. Tapi sebelum semuanya terlambat, aku harus bertindak tegas sekarang juga.”
            Nafas Hye Mi tertahan mendengar penjelasan itu, ia tahu benar apa artinya.
            Posisi Hye Mi benar-benar terancam sekarang.
            “Untuk yang terakhir kalinya, nona Hye Mi apa kau ingin mengucapkan seuatu yang sanggup menjadi pembelaan?”
            Hye Mi tak langsung menjawab. “Itu… aku… Demi Tuhan bukan aku pelakunya, aku tidak tahu apapun.”
            Raut wajah Mr Cho tidak berubah. Hye Mi tahu penjelasannya sama sekali tak berarti.
            “Bukan Hye Mi pelakunya Mr Cho! Kau harus percaya! Aku tahu Hye Mi itu…”
            “Jane diam! Atau aku akan mengusirmu sekarang juga!” bentak Mr Cho yang spontan membuat semua tersentak. “Aku mengambil sebuah keputusan karena memiliki alasan, Jane. Alibimu dan Eun Sun lebih kuat daripada Hye Mi. Semua ini juga berasal dari penjelasan kalian. Apa kau mengerti?” wajah Mr Cho tampak merah padam menahan emosi. “Dan Hye Mi, tolong tandatangani kertas ini. Mulai sekarang kau bukan trainee kami lagi.”
            Tubuh Hye Mi mendadak lemas. Kepalanya terasa sangat pusing secara tiba-tiba. Hampir saja ia pingsan saat itu juga, sampai bola matanya berputar ke arah kertas putih yang disodorkan oleh Mr Cho. Dengan tangan yang bergetar, Hye Mi menorehkan sebuah tanda tangan disana.
            Mulai sekarang, secara resmi Hye Mi bukan trainee agensi WM Entertaiment lagi.
-To Be Continue-
           

            OMAIGAT!!! Hye Mi dikeluarin dari WM Entertaimeeeennnn. AAAAA~ *lari bawa toa keliling kampung (?)
            Kasian banget ya Hye Mi, gak tau apa-apa, eh malah dituduh yang aneh2. Ckckckck. Terus setelah ini gimana ya nasib Hye Mi? Apa mimpinya akan benar-benar hancur sampai disini? Gimana juga reaksi member B1A4 yang belum tahu soal ini? Apa mereka bakal membenci Hye Mi? atau sebaliknya? Dan terakhir, apa memang Hye Mi pelakunya? Jika bukan, apa pelaku yang sebenarnya akan tertangkap?
            Hohoho, kayaknya udah pada tahu nih pelakunya siapa. Benar! Benar! Benar! Tapi tenang, next part bakal ada penjelasan kronologis kejadian yang lengkap dan jelas. Wekekekek. Dannnnn ada kemungkinan next part adalah part terakhir. Hihihi. Baru kemungkinan lhoooo, kalo terlalu panjang entar baru aku bikin jadi 2 part :p
            Oiya, aku minta maap yak kalo part ini lagi2 jelek -_----“ soalnya minggu ini UTS dan musti ngerjain tugas ampe larut malem, jadi aku bikinnya kilat dan hasilnya ancur plus abstrak gini deh. *bow didepan pintu masing2 rumah readers.
            Terakhir, gomawo udah mau komennn~


Tuesday, 25 October 2011

[CAPTURE] B1A4 beautiful target (zoom zoom vers)

kemaren udah ngepost capture lucifer, hello sama beautiful target kan? sekarang saatnya ke MV Beautiful target zoom zoom version. *klik gambar buat gedein ^^

















*envy sama adegan ini u.u




Saturday, 22 October 2011

[CAPTURE] B1A4 Beautiful target

sekarang lanjut ke B1A4 yaaa.
ini dia foto2 mereka di MV Beautiful target. *klik gambar buat gedein.














LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...