Friday, 28 October 2016

FF SHINee : Pixie Rain [Part 8]








Tittle                    : Pixie Rain [Part 8]
Author                                : Ichaa Ichez
Genre                  : Friendship, Romance, Angst, Family.
Rating                 : PG-13
Cast                      : Kang Yunbi, Choi Minho, Lee Taemin.
Length                : Chapter.
Desclaimer        : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!


                Perlahan-lahan Yunbi membuka mata dan menguceknya beberapa kali. Ia masih setengah sadar. Pemandangan pertama yang Yunbi lihat adalah beberapa tulisan di kayu tempat tidur bertingkat milik Taemin. Ah rupanya Yunbi sedang berada di asrama.
                “Kau sudah bangun, Bi?” pertanyaan Taemin menyambut Yunbi yang mencoba duduk ditempat tidur. Taemin bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari arah laptop yang terbuka dengan manis diatas meja belajar, bisa dipastikan dia tengah melihat lanjutan drama Descendants Of The Sun favoritnya.
                Tapi kemudian Yunbi teringat sesuatu.
                “Taemin! Bagaimana aku bisa ada disini?” seingat Yunbi tadi ia pingsan saat sedang bersama Minho. Tapi kenapa ia bisa tiba-tiba berada di asrama sekarang?
                “Kau… tidur.” Jawab Taemin singkat. Sepertinya ia lebih konsentrasi ke dalam drama yang ia tonton ketimbang pertanyaan Yunbi.
                Tak! Laptop itu tertutup sedikit keras.
                “Apa yang kau…”
                “Aku… bagaimana aku bisa ada disini?!” Yunbi memegang kedua bahu Taemin setelah menutup laptop namja itu. “Sebelumnya aku bersama Minho hyung! Dan dia dibawa oleh…”
                Taemin yang sempat ingin kesal berubah heran melihat ekspresi Yunbi yang tampak serius. “Kau tadi sudah diatas tempat tidur ketika aku datang.”
                “Jam berapa kau datang?”
                “Itu sekitar… jam 5 sore?” Taemin tidak yakin. “Aku sempat latihan dance sebelum pulang ke asrama.”
                “Jam 5 sore…” Itu hanya berjarak 30 menit dari waktu terakhir kali Yunbi pingsan. Sudah dipastikan setelah pingsan Yunbi langsung dibawa kemari, karena jarak dari tempat Yunbi dan Minho pergi sebelumnya memang 30 menit.
Tapi seingat Yunbi, ia dan Minho dibawa oleh dua mobil yang berbeda. Yunbi melihat dengan jelas ketika Minho memberontak untuk masuk ke dalam mobil didepannya, dan Yunbi dibawa ke mobil yang lain.
Jika demikian… berarti orang-yang-menggunakan-setelan-jas itulah yang membawa Yunbi ke dalam asramanya..
                “Lalu dimana Minho sekarang?”
                Taemin mengangkat bahunya. “Aku tidak melihatnya sejak tadi.”
                Cepat-cepat Yunbi meraih handphonenya untuk menghubungi Minho. Hanya ada nada panggil yang terdengar sejak tadi, telfonnya tidak diangkat.
                “Ada apa Bi? Apa sesuatu yang buruk terjadi?” Taemin jadi ikut-ikutan panik. Pikirannya melayang kemana-mana, takut kalau Minho diculik oleh kawanan gangster atau sindikat narkoba dan dibawa ke luar negeri. Jika hal itu terjadi, bisa-bisa akan terjadi perang antara gangster dan tentara korea. Hiiii…. Taemin langsung bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya. Sepertinya namja itu memang terlalu menghayati cerita drama yang baru saja ia tonton.
                Tanpa menghiraukan Taemin, Yunbi lantas mengambil jaket dari gantungan belakang pintu. Ia pun  melesat keluar dan meninggalkan tanda tanya besar di hati teman sekamarnya itu.
                Awalnya Yunbi ingin melaporkan kejadian ini ke pihak sekolah, tapi ia mengurungkan niat itu karena sepertinya ada sesuatu yang janggal telah terjadi. Oleh karenanya Yunbi memilih untuk menunggu di depan gerbang sekolah kalau-kalau Minho pulang malam itu juga.
                Beep…beep…beep…
                Jam tangan Yunbi berbunyi tanda hujan sebentar lagi turun. Dia mengeceknya, pukul 20.35. Tepat saat itu juga ada sebuah mobil sport berwarna merah yang melewati gerbang. Pintu belakang mobil terbuka, diikuti oleh beberapa orang yang turun dari sana. Yunbi ingin menghampirinya, namun tak lama kemudian hujan benar-benar turun.
                What the…timing…
                Akhirnya Yunbi mengurungkan niatnya dan berlari menuju gedung olah raga. Setidaknya untuk saat ini Yunbi harus bersembunyi sampai hujan reda. Ia pikir ia bisa mencari keberadaan Minho lagi nanti.
                “Seharusnya kau berterimakasih padaku.”
                Samar-samar ada sebuah suara yang terdengar disana, disusul dengan derap langkah orang kedua yang masuk. Tampaknya mereka berdua terburu-buru karena menghindari hujan yang turun. Sama seperti Yunbi.
                “Aku tidak butuh belas kasihmu.” Suara kedua menyelusup, kedua mata Yunbi membola.              
                Orang pertama sedikit tertawa. “Tentu saja. Apa lagi yang dibutuhkan oleh TUAN MUDA MINHO, huh? Meskipun kau sudah dibawa paksa oleh keluargamu sendiri pasti kau akan memiliki 1000 cara untuk kembali kesini, iya kan?” ucapnya sarkatis. “Kau pikir aku juga sudi untuk makan malam di rumahmu? Tch! Jika bukan karena kedua orang tua kita sudah berteman lama, aku pasti akan pergi atau bahkan mempermalukanmu dihadapan mereka semua.”
                Minho tidak menjawab.
                “Ah iya… Aku tidak yakin apakah kau sudah mendengar hal ini atau belum.” Orang pertama terus saja berbicara. “Sepertinya sebentar lagi kau harus berterimakasih padaku.”
                “Apa maksudmu?”
                Dia tertawa. “Kendalikan ekspresimu, Minho.” Ucapnya puas. “Kau pikir ayah ibumu tidak punya maksud tertentu mengundang keluargaku makan malam bersama?”
                Tak ada suara.
                “Semenjak perusahaan keluargamu mulai bangkrut, sepertinya ayah ibumu lebih sering mendekati keluargaku.” Dia melanjutkan kalimatnya, kali ini dengan nada nyinyir. “Bagaimana ini, haruskah keluargaku menolong seseorang yang tengah kesulitan? Atau justru membiarkannya jatuh miskin?”
Brak!! Terdengar suara benturan. Tampaknya Minho mendorong tubuh orang itu ke pintu yang ada dibelakang mereka.
                Dia justru kembali tertawa. “Aigoo… seharusnya kau lebih berhati-hati mulai sekarang Minho. Karena aku bisa menghancurkan kehidupanmu kapanpun aku mau.”
                Selanjutnya tidak terdengar apapun. Hanyalah suara pintu yang terbuka, disusul suara air hujan yang jatuh membentur tanah.
                Yunbi terdiam cukup lama di posisinya sekarang. Ia menyandarkan punggungnya di tembok dekat jendela ruang ganti. Mencoba menerka apa yang tengah mereka berdua bicarakan.
                Sudah jelas salah satu dari mereka adalah Minho. Dan sore tadi namja itu diculik karena harus memenuhi panggilan untuk makan malam bersama keluarga orang kedua. Tapi siapakah orang kedua itu? Yunbi belum pernah mendengar suara orang itu sebelumnya.
                “Siapa kau?”
                Tiba-tiba saja seseorang menjulang beberapa meter didepan Yunbi. Yunbi terperanjat. Dia langsung bangkit dan melewati orang itu kemudian mencoba berlari keluar. Tapi hujan masih turun, teras depan gedung pun masih terlalu licin untuk ia lewati untuk berlari.
Dan akhirnya yeoja itu jatuh.
                “Kau tidak pa-pa?” Tanya Minho yang berlari mengikuti langkah Yunbi.
                Yunbi terjebak. Ia sempat ingin bangkit, namun anehnya kaki kiri nya terasa nyeri sekali.
                “Kau tidak pa-pa?” Minho bertanya lagi. Kali ini sudah berjongkok didepan Yunbi dan mengecek kaki yeoja itu. “Sepertinya kakimu terkilir.”
                Yunbi hanya diam. Berusaha menghindari tatapan Minho yang tampak khawatir. Bagaimanapun juga sekarang ia tengah berwujud sebagai yeoja, Minho tidak boleh mengetahui kalau ia adalah Yunbi, teman sekamarnya.
                “Apa kau bisa berdiri?” Minho bertanya dengan begitu sopan, berbeda dengan nada bicaranya saat berbicara dengan Yunbi versi laki-laki.
                Karena tak ada jalan lain, Yunbi hanya bisa menuruti apa yang namja itu katakan. Ia tidak cukup bodoh untuk kembali mencoba kabur disaat suasana hujan seperti sekarang, belum lagi kakinya sulit untuk digerakkan. Yunbi hanya bisa pasrah.
                Akhirnya mereka berdua kembali ke dalam gedung olah raga. Yunbi duduk di salah satu kursi pinggir lapangan, sementara Minho berjongkok dihadapannya.
                “Uh… pasti terasa sakit.” Ucapnya setelah melepas sepatu yang Yunbi pakai. “Tunggu sebentar, akan aku ambilkan kotak p3k.”
                Hampir saja Yunbi lupa kalau Minho adalah orang yang sama dengan orang yang bersikap dingin padanya. Kali ini orang yang Yunbi temukan sangat berbeda. Ia tidak hanya berbicara dengan begitu ramah, tapi bahkan Minho tidak bertanya apa yang sedang Yunbi lakukan di tempat ini sekarang, apakah Yunbi mendengar pembicaraan ia tadi atau tidak, dan siapakah Yunbi sebenarnya.
Minho hanya langsung menolong Yunbi tanpa bertanya apapun.
                “Ini akan sedikit sakit.” Ucap Minho membenarkan posisi kaki Yunbi, kemudian menyemprotnya dengan spray yang terasa dingin. Selanjutnya namja itu mengambil elastic banded untuk membalut kaki yeoja itu.
                “Selesai.”
                Yunbi melihat ke arah kakinya kemudian bertatapan dengan Minho. Saat itulah Yunbi merasakan ada sebuah dentuman di jantungnya yang membuat organ itu berdegup diatas normal. Sebelumnya Yunbi tidak pernah melihat tatapan Minho yang begitu teduh seperti saat ini. Apalagi sebuah senyuman tersungging di wajah namja itu. Membuat kupu-kupu yang ada di dalam perut Yunbi semakin melayang kesana kemari.
                “Ini akan terasa sakit beberapa hari, tapi itu tidak akan lama.” Ucapnya lagi sambil duduk disebelah Yunbi.
                “Gomawo.” ucap Yunbi lirih.
                Minho tertawa kecil.
                Yunbi mencoba mencari-cari alasan agar dia bisa cepat keluar dari sini. Tapi diluar masih hujan, kedua kakinya pun tidak bisa digerakkan. Yunbi jadi salah tingkah.
                “Kau tidak keberatan kan jika aku ikut menunggu sampai hujan reda di tempat ini?” Ia bertanya dengan santai.
                Yunbi sempat memutar bola matanya, kemudian mengjawabnya dengan anggukan pelan.
                “Aku sering berlatih basket disini, tapi sepertinya aku belum pernah bertemu denganmu sebelumnya.” Minho menoleh ke arah Yunbi, membuat Yunbi cepat-cepat mengalihkan pandangannya. “Ah… maksudku bukan berarti kau tidak boleh berada di tempat ini. Tapi… akan menjadi sedikit masalah jika kau memilih untuk menunggu disana.” Ia menunjuk ke ruang ganti pria tempat Yunbi bersembunyi sebelumnya.
Yunbi spontan masuk ke tempat itu karena ruangan itu adalah ruangan terdekat dari pintu masuk. Biasanya Yunbi bersembunyi di gudang tempat peralatan olah raga sampai hujan reda. Tapi kali ini ia sedikit terburu-buru.
                “Kusarankan sebaiknya kau menunggu diatas sana.” Minho menunjuk ke sebuah ruangan dengan jendela kaca yang terletak diatas tribun penonton. “Ruangan itu hanya dipakai operator saat pertandingan berlangsung. Jarang ada yang pergi kesana, jadi kau bisa memakainya.” Ia mulai mencari-cari sesuatu dari dalam tas yang ia bawa. “Lagipula dari ruangan itu kau bisa melihat seluruh isi sekolah ini jika kau membuka jendela di sisi luar.”
                Yunbi hanya diam. Ia terlalu larut dengan ucapan namja itu.
                “Ini kuncinya.” Minho tiba-tiba meraih tangan Yunbi dan menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan bola basket kepada yeoja itu. “Kau bisa memakainya kapanpun kau mau.”
                “Tapi…”
                “Kalau begitu aku pergi dulu.” Minho lantas pamit sebelum mendengar kalimat yang ingin Yunbi sampaikan. Namja itu segera melesat keluar dan menerobos hujan yang tinggal gerimis. Meninggalkan Yunbi yang masih diliputi perasaan janggal di hatinya.
***
                Pelajaran ke 5 siang itu diisi oleh Lee Seongsaenim selaku guru Sejarah. Di waktu yang terik dengan perut kenyang sehabis istirahat ditambah suara Lee Seongsaenim yang mendayu-dayu membuat kedua mata setiap siswa kelas 2-2 semakin berat. Geng Woohyun cs sudah sejak 5 menit jam pelajaran dimulai, meletakkan kepalanya diatas meja. Bahkan bibir Dongwoo sudah menganga dan air liur sudah menjalar di atas buku matematika miliknya.
                Yunbi yang berulang kali mengecek jam tangannya memastikan bahwa hari ini tidak akan turun hujan, jadi dia tidak perlu mencari alasan untuk membolos selama pelajaran. Sedangkan Taemin tampak sibuk mengutak atik hpnya. Bisa dipastikan namja itu tengah mencari-cari beberapa foto Song Hye Gyo dari internet yang ingin ia jadikan sebagai wallpaper.
                Ditengah suasana hening itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Beberapa detik kemudian muncullah Mrs Song dengan baju putih berlapis blazer pink cerah masuk kelas sambil tersenyum ramah. Seluruh isi kelas spontan berseru riuh karena melihat seorang ‘dewi’ berjalan dengan anggun dihadapan mereka.
                “Maaf Lee Seongsaenim, tapi saya ingin memanggil Bi.” Ucapnya ramah. Beberapa siswa laki-laki tampak kecewa karena bukan nama mereka yang disebutkan.
“…Bi, Hyung-mu menunggu didepan.”
                Yunbi yang semula menyangga kepala dengan kedua tangannya langsung tergugah. ‘Hyung…? Atau lebih tepat disebut… Oppa?’ Ia menjerit dalam hati. ‘Jongsuk Oppa datang?!?’
                Yunbi langsung melihat ke arah Taemin yang tampak bingung. Ia lantas memberikan ekspresi minta tolong kepada temannya yang baik hati sekaligus bodoh (dalam beberapa hal) itu.
                Tidak jauh dari kelas Yunbi, seorang pria dengan kemeja berwarna biru langit yang senada dengan celananya yang biru navy tampak dengan sabar duduk diatas kursi taman sekolah. Namja itu menyilangkan kakinya sambil melirik ke arah jam silver yang melingkar di tangannya. Ia sempat kembali mengecek sebuah kotak berisi cheese cake kesukaan Yunbi yang sengaja ia bawakan. Tampaknya namja berkulit cerah itu sudah tidak sabar bertemu dengan adik semata wayangnya.
                Tak lama kemudian muncullah sesosok namja yang berjalan dari kejauhan. Namja berseragam sekolah itu tampak berjalan pelan mendekati Jongsuk dan malu-malu menyapanya dari belakang.
                “Annyeonghaseo…” ucapnya sambil membungkuk ketika sampai disamping Jongsuk.
                Jongsuk seketika berdiri membalas sapaan itu dengan sopan.
                “Sa…saya Taemin, teman Bi. Eh.. Yunbi.” Ucapnya gugup. Taemin benar-benar tidak menyangka siang ini kakak kandung Yunbi akan mengunjungi namja itu. Dan sebagai satu-satunya teman Yunbi, hanya ia yang bisa menolongnya.
                “Oh… saya Jongsuk. Bangawayo…” Jongsuk pun memperkenalkan diri.
                “Itu…” Taemin menggaruk kepalanya sambil melirik ke arah Yunbi yang mengintip di balik tembok sekolah.
                Jongsuk jadi ingin mengikuti arah pandangan Taemin, tapi cepat-cepat ia cegah. “Ah! Itu… Yunbi sedang tidak enak badan. Jadi dia tidak bisa bertemu dengan anda sekarang.”
                “Yunbi sakit?” serunya cepat.
                “Tidak-tidak!” Taemin menggoyangkan tangannya. “Oh maksudku iya…! Dia sakit tapi tidak parah.”
                “Dimana dia sekarang? Apakah di UKS?” Taemin tidak tahu kalau kakak Yunbi ini adalah calon dokter, ia hanya asal membuat alasan. “Tidak! Dia di…” namja itu berfikir keras. Ia memberikan sinyal pertolongan pada Yunbi yang berdiri dengan panic di balik tembok.
                Saat itu juga Yunbi nekat berjalan ke arah Taemin. Ia berdiri dengan ragu di samping namja itu. Mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah oppanya yang sudah sangat ia rindukan ini. Jika tadi malam Minho tidak mengenalinya sebagai yeoja, maka kali inipun Oppanya juga tidak akan mengenalinya sebagai namja. Yunbi yakin itu.
                “Yunbi di dalam UKS. Tapi maaf orang luar tidak boleh masuk kesana.” Ucap namja itu sedikit bergetar. Ia menekan ujung jari-jarinya menahan gugup.
                “Kau juga temannya Yunbi?” Tanya Jongsuk melihat ke arah Yunbi sambil sedikit berfikir.
                Yunbi mengangguk.
                “Syukurlah jika Yunbi memiliki banyak teman disini.” Jongsuk tersenyum. “Aku sempat khawatir, karena di sekolah sebelumnya tidak ada yang benar-benar menjadi teman Yunbi.”
                Dada Yunbi mendadak berat mendengar ucapan Oppanya itu. Selama ini ia sering mencurahkan perasaannya pada Jongsuk, jadi Jongsuk tahu benar kesulitan yang selalu Yunbi hadapi. Termasuk kesulitan Yunbi dalam mencari teman yang tulus padanya.
                “Yunbi tadi juga menyampaikan pesan untuk anda…” kali ini Yunbi berbicara sambil menunduk. “Bahwa dia sangat merindukan anda dan… ia juga meminta maaf karena tidak pernah menghubungi anda selama disini.”
                Jongsuk hampir menanggapi pesan itu, tapi Yunbi lebih dulu melangkahkan kakinya dari sana. Namja itu cepat-cepat ingin meninggalkan Oppanya sebelum ia tertangkap basah karena menangis dihadapan Jongsuk. Sayangnya Yunbi lupa kalau kaki kirinya sedang terkilir, hanya beberapa meter dari langkah pertamanya, namja itu terjatuh. Dengan cepat, Jongsuk dan Taemin langsung menolongnya.
                “Gwenchana?”
                Yunbi menyembunyikan wajahnya sambil menangis. Taemin jadi ikut panic.
                “Kenapa, Bi?” tanyanya sedikit berteriak. “Apa ada yang sakit?”
                Yunbi masih menangis. “Sakit… rasanya sakit sekali.”
                Ia tidak sanggup lagi. Yunbi benar-benar ingin lari dari semua kenyataan ini. Ia ingin kembali menjadi Kang Yunbi yang selalu bersikap manja dihadapan oppanya ini, yang selalu menangis setiap kali ada teman yang pergi meninggalkannya, yang selalu cemburu setiap kali seorang yeoja mendekati Oppanya, yang selalu menghabiskan dua puluh empat jam penuh di akhir minggu bersama kakak kesayangannya ini. Tapi sekarang Yunbi tidak bisa melakukan apapun. Ia harus berpura-pura menjadi orang lain disaat Oppa kesayangannya ini berada tepat didepannya, padahal sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Dan bahkan sudah beberapa bulan ini ia tidak mendengar suaranya.
                Yunbi sangat, sangat merindukan Jongsuk Oppa. Dan rasanya sungguh sakit.
                “Taemin… bisakah kau meminjam ankle spray dari sekolah? Aku akan mencoba mengobatinya.” Ucap Jongsuk sambil melihat ke arah kaki Yunbi.
                Taemin menggangguk dan langsung melesat ke arah UKS. Lalu Jongsuk memapah Yunbi ke bangku taman tempat ia duduk sebelumnya.
                “Jika sudah seperti ini seharusnya kau tidak boleh berlari dulu.” Nasihat Jongsuk sambil membuka banded yang sebelumnya dipasangkan Minho. “Aigoo… bengkak sekali. Pasti terasa sakit.” Ia terdiam sejenak, beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Yunbi. Menangkap tatapan itu, air mata Yunbi kembali mengalir. Yunbi sungguh ingin menceritakan semuanya, tapi tidak mungkin.
                Jongsuk kemudian bangkit. Ia sedikit memundurkan badannya sebelum kembali menatap ke arah Yunbi.
                “Bun… bunny??”
                Yunbi terperanjat, ia hampir tidak percaya sebutan kesayangan dari kakaknya itu ditujukan pada dirinya yang sekarang.
                Jangan-jangan…
Tidak! Jongsuk tidak mungkin tahu siapa sebenarnya Yunbi sekarang!
-To Be Continue-

3 comments:

  1. hwaiting ya thorrrr !!! ff nya bgs bgt ! jgn lupa ya utk mempublish ff nya cepat" ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap!!
      makasih yaa :*

      ichaichez

      Delete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...