Saturday, 14 April 2012

FF SHINee : Fuchsia [Part 2]

Tittle                     : Fuchsia [Part 2]
Author                 : Ichaa Ichez Lockets
Genre                   : Friendship, Romance, Angst.
Rating                  : T
Cast                      : Lee Yeonju, Kim Hyosun, Lee Jinki (Onew), Choi Minho.
Length                 : Chapter
Desclaimer         : This story is originally mine. This is only a FICTION, my IMAGINATION and the character is not real. Enjoy reading!
A.N                       : Ungu merupakan warna campuran antara merah dan biru. Selain memiliki sifat stabil dan tenang seperti warna biru, juga melambangkan keberanian, kekuatan, kemauan keras dan penuh semangat seperti warna merah. Sedangkan merah muda merupakan campuran antara merah dan putih yang melambangkan kelembutan, feminism, ketenangan dan keindahan. Dan ketika merah muda dan ungu menjadi satu…terciptalah fuchsia…



                Yeonju melangkahkan kaki ketika bus yang ditumpanginya berhenti tepat disebuah gedung 4 lantai dengan cat berwarna putih. Ia terdiam sejenak mengamati tiap sisi dari gedung itu. Bisa Yeonju lihat di tembok pembatas antara halaman gedung dan jalan terdapat berbagai gravitty dengan sebuah tulisan disana.
                Fakultas Seni Rupa dan Design Fotografi.
                Disinilah Yeonju akan menimba ilmu beberapa tahun kedepan. Yeoja itu sempat tidak percaya bisa berdiri di depan bangunan ini. Terbesit sedikit kebanggaan pada dirinya, namun Yeonju tahu benar tanggung jawabnya semakin besar sekarang.
                Tujuan Yeonju datang ke kampus hari ini untuk menyerahkan beberapa data administrasi dan mencatat berbagai syarat untuknya mengikuti masa orientasi. Pelan tapi pasti, yeoja itu mulai melangkah menapaki koridor gedung kampus barunya yang tampak ramai. Banyak orang berlalu lalang tidak memperdulikan, membuat Yeonju semakin betah disana.
                Yeonju lihat ada sebuah kantin yang cukup luas di sisi barat gedung, kemudian ada student  square di lantai dua yang tampak luas beralaskan karpet tebal yang biasa digunakan  mahasiswa mengerjakan tugas berkelompok. Ada juga perpustakaan yang cukup nyaman serta taman kecil yang berada tepat ditangah-tengah fakultas, dikelilingi 4 bangunan membentuk sebuah kubus.
                Sampai tatapan Yeonju menangkap sesuatu yang ia cari di papan pengumuman. Ada beberapa syarat untuk mahasiswa baru yang harus Yeonju penuhi dengan batasan waktu yang ditentukan. Tapi ada beberapa kalimat yang tak sanggup Yeonju mengerti, seperti “4 sudut berwarna putih” dan “induk anjing yang tak ingin kehilangan anaknya.”
                Syarat yang terdengar bodoh pikir Yungshin.
                Akhirnya yeoja itu berbalik kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ruang administrasi untuk menyerahkan beberapa data. 10 menit Yeonju berjalan, dia tak sanggup menemukan ruang yang ia cari.
                “Mian, apa kau tahu dimana ruang administrasi?” tanya Yeonju pada seorang namja yang tengah duduk di pinggiran koridor lantai 1.
                “Oh ada didepan.” Jawab namja itu menunjuk arah depan gedung fakultas. “Tepat disebelah kanan pintu masuk. Pintunya menghadap ke selatan.”
                Yeonju berfikir sejenak mengikuti ujung jari namja itu kemudian membungkuk mengucapkan terimakasih.
                Bodoh sekali Yeonju tak sanggup menemukan ruangan ini. Padahal sudah jelas-jelas terpampang diatas pintu kalau ini ruang administrasi. Tapi Yeonju justru berputar-putar mencari di bagian ruangan dosen.
                “Chakkaman…” panggil seseorang disamping pintu keluar ruang administrasi, tepat ketika Yeonju selesai menyerahkan beberapa data yang diperlukan.
                Yeonju menoleh, ternyata namja yang tadi ia tanya sedang berdiri disana.
                “Ada milikmu yang terjatuh.” Lanjut namja itu berjalan ke arah Yeonju seraya menyodorkan selembar kertas.
                Syarat untuk mahasiswa baru jurusan fotografi, sudah pasti tulisan acak-acakan di kertas itu milik Yeonju. Yeonju tadi sempat menulis syarat-syarat yang tertera di papan pengumuman, tapi ia tidak ingat kapan kertas itu jatuh.
                “Oh ne gomawo.” Ucap Yeonju seadanya kemudian meraih kertas itu dan pergi.
                “Tunggu sebentar.” Panggil namja itu lagi. Memaksa Yeonju menoleh untuk yang kedua kalinya. “Apa kau mahasiswa baru?” tanyanya kemudian.
                Yeonju tak langsung menjawab, justru memperhatikan namja itu dari atas sampai bawah. Cukup tinggi dengan mata yang bulat dan senyum yang manis. Dari penampilannya yang casual, bisa Yeonju tebak dia juga mahasiswa disini.
                Hanya sebuah anggukan yang akhirnya menjadi jawaban dari Yeonju.
                Namja itu kembali meraih kertas yang sebelumnya ia serahkan kemudian menunjuk kalimat ‘4 sudut berwarna putih’, “Apa kau sudah menemukan arti dari kalimat ini?”
                Alis Yeonju tertaut, ingin rasanya langsung menjawab ‘Jika tidak, memang apa urusannya denganmu?’. Tapi Yeonju hanya menatap mata bulat namja itu penuh tanda tanya.
                “Ini sangat penting sebagai syarat masuk kemari.” Lanjutnya membuat Yeonju mendadak antusias. “Jika kau tidak membawa benda yang ditunjukkan disini, maka panitia orientasi akan menghukummu.”
                Menghukum? Yeonju bahkan belum pernah mendengar istilah ‘menghukum’ ada di universitas.
                “Empat sudut berwarna putih…” namja itu mengeja kalimat yang Yeonju tulis. “…ini berarti selembar foto.”
                Yeonju diam, membiarkan namja itu menyelesaikan kalimatnya.
                “Sedangkan ‘induk anjing yang tak ingin kehilangan anaknya’ itu berarti orang yang paling kau sayangi.”
                Yeonju mengernyit menatap namja itu tidak percaya. Namun namja itu hanya tersenyum.
                Tepat saat itu juga dering telpon Yeonju berbunyi. Ia tak memiliki pilihan lain selain mengangkatnya dengan segera.
                “Yeoboseyo?” tanya Yeonju sedikit menunduk pada namja itu kemudian berjalan menjauh.
                “Yeonju, kau dimana?” tanya sebuah suara dari seberang telpon.
                “Aku di kampus. Ada apa Hyosun?”
                “Oh. Kutunggu kau di tempat biasa Yeonju. Aku ingin makan siang bersamamu. Oke?”
                “Tapi…”
                Tut…tut…
                Lagi-lagi Hyosun menutup telponnya tepat sebelum Yeonju selesai berbicara. Tidak memberi yeoja waktu sebentar saja untuk menjelaskan kalau setelah ini ia ingin menjenguk ibunya di rumah sakit.
                Tapi tiba-tiba Yeonju teringat dengan namja yang tadi baru saja berbincang dengannya. Saat Yeonju menoleh, sayangnya namja yang ia cari sudah tak ada.
***
                Green Café di ujung jalan Apeujong, Yeonju membutuhkan waktu 15 menit menaiki bus untuk sampai disana. Ia sempat menebar pandangan ke setiap sudut café bernuansa hijau itu, rupanya Hyosun belum sampai.
                Yeonju memilih duduk didekat jendela sembari menyesap white coffee kesukaannya. Yeoja itu menghabiskan waktu membosankan ini untuk sejenak melamun, sedikit memikirkan keadaan terakhir ibunya di rumah sakit. Beberapa jam tidak bertemu saja sudah terasa lama bagi Yeonju.
                “Maaf jika membuatmu menunggu lama Yeonju.” Hyosun yang baru saja datang langsung menggeser kursi disamping Yeonju.
                Yeonju hanya memberi anggukan kecil. Bola matanya menangkap seorang namja yang mengekor dibelakang Hyosun tampak tersenyum menyapa. Yeonjupun membalas senyum itu sambil mengangguk.
                Dia Onew, kekasih Hyosun. Mereka berdua sudah berpacaran sejak Hyosun duduk di awal kelas 3 SMA. Kira-kira hampir setahun yang lalu.
                Baik Onew, Hyosun, maupun Yeonju bersekolah di SMA yang sama. Namun Onew selisih 2 tahun dengan mereka berdua. Berbeda dengan Hyosun yang populer dengan prestasi di bidang ekskul dan organisasi, Onew adalah siswa yang memiliki prestasi di bidang akademik. Kini keduanya kuliah di jurusan yang sama. Itulah mengapa Yeonju selalu berfikir kalau mereka berdua memang sangat serasi.
                “Oh sepertinya aku belum mengucapkan selamat karena Yeonju sudah diterima di kampus yang sama denganku. Chukkaeyo Yeonju.” Onew tersenyum lebar mencoba mencairkan suasana.
                “Ne, gomawo Oppa.” Jawabnya singkat.
                “Aneh sekali kita tidak satu kelas seperti dulu lagi Yeonju.” Ucap Hyosun mengenang masa SMA mereka. “Tapi yang penting kita masih satu universitas sekarang. Sering-seringlah bermain ke fakultasku jika kau ada waktu luang.”
                Yeonju mengangguk, tersenyum tipis.
                “Ehm… Yeonju di jurusan fotografi dan Hyosun di kedokteran. Kenapa bisa kebetulan sekali?” Onew mengaduk juice pesanannya yang baru saja datang.
                “Memangnya kenapa Oppa?” tanya Hyosun mengalihkan pandangan kea rah Onew. “Apa ada yang salah?”
                “Ah tidak, hanya saja ada sedikit perselisihan antara dua jurusan itu…”
                Yeonju terdiam mendengar kalimat Onew, tidak mengerti. Sedangkan dahi Hyosun berkerut, kepalanya tampak condong ke kanan sambil terus menatap yeojachingunya.
                “…tapi itu dulu. Kupikir pasti sekarang tidak ada masalah.”
                “Perselisihan?” Hyosun justru semakin penasaran. “Perselisihan bagaimana?”
                Onew hanya tersenyum sekenanya, seperti tidak ingin membahas lebih lanjut. Tapi Hyosun tetap mendesak dengan menggoyang-goyangkan lengan Onew. Inilah yang selalu terjadi ketika yeoja itu menginginkan sesuatu.
                “Sudah kubilang itu dulu, Hyosun.” Terang Onew. “Jauh sebelum angkatanku masuk. Jadi sekarang perselisihan itu mungkin saja sudah hilang.” Lanjutnya yang justru membuat penjelasan itu semakin menggantung.
***
                Hari pertama orientasi Yeonju sudah siap dengan berbagai barang yang ditentukan. Tidak terlalu banyak, hanya beberapa lembar essay tentang dunia fotografi dan selembar foto. Diapun masih ingat dengan kalimat ‘aneh’ yang ternyata cukup penting itu. Karenanya, Yeonju membawa foto Hyosun yang sedang membawa kue ketika Yeonju ulang tahun.
                Menggunakan kaos berlapis hem kotak-kotak warna biru donker, celana jeans, sepatu kets dan tas ransel, akhirnya Yeonju menapakkan kakinya di halaman kampus. Buru-buru yeoja itu berjalan menuju auditorium fakultasnya karena waktu sudah semakin sempit.
                Belum juga Yeonju memasuki pintu samping, seorang senior lebih dulu memanggilnya.
                “Siapa namamu?” tanya yeoja itu di garang-garangkan, khas seorang senior yang ingin disegani bawahannya. LOL
                “Yeonju.” Jawab Yeonju singkat.
                Yeoja itu menatap Yeonju dari atas sampai bawah, “Mana jas almamatermu?”
                Yeonju terkesiap. Sejenak ia menoleh ke arah auditorium, semua orang disana menggunakan almamater berwarna krem yang kontras sekali dengan warna baju Yeonju sekarang.
                “Apa kau lupa membawanya?”
                Yeonju tak menjawab, hanya membalas tatapan seniornya yang semakin terlihat geram.
                “Sebagai hukumannya, kau kuberi tugas untuk mengambil foto seseorang bernama Choi Minho. Aku ingin foto itu kau cetak dan kau serahkan padaku paling lambat sebelum jam makan siang.” ucap yeoja itu memberi hukuman seenak hatinya. “Jika kau tidak bisa memenuhi hukuman ini, maka kau tidak bisa mengikuti masa orientasi sampai besok.”
                Yeonju sedikit mendesah kemudian berjalan menjauhi seniornya dengan malas.
                Sedikit demi sedikit Yeoja itu mulai berjalan mendekati student square, dimana ada banyak mahasiswa berkumpul disana. Setidaknya pasti ada salah satu dari mereka yang mengenal seseorang bernama Choi Minho.
                “Maaf, apa kau mengenal Choi Minho?” tanya Yeonju pada seorang yeoja yang tengah asik berkutat dengan lapotopnya, menikmati hotspot area disana.
                Yeoja itu mengangguk.
                “Eung, kau tahu dimana dia?”
                “Kulihat tadi dia berjalan menuju ke perpustakaan.”
                Jawaban yang diluar dugaan, meski Yeonju mengharapkannya namun ia tak menyangka bisa sangat kebetulan bertemu dengan orang yang mengenal Minho.
                “Oh..” Yeonju sempat berfikir sejenak. “Seperti apa ciri-cirinya?”
                Yeoja itu balik menatap Yeonju aneh. Kemudian ia justru menunjuk ke arah seseorang yang berjalan memunggungi Yeonju, “Itu dia orang yang kau cari.”
                Cepat-cepat Yeonju menoleh kemudian mengejar namja yang dimaksud. Ragu-ragu ia menepuk punggung namja itu dari belakang, membuat namja itu spontan menoleh.
                Bisa Yeonju lihat wajahnya memancarkan keramahan dengan garis wajah yang tampan. Rambut namja itu berwarna coklat gelap dan sedikit lebat. Dilihat sepintaspun, Yeonju tidak asing dengan sosok namja bermata bulat ini.
                “Oh bukankah kau…?” Justru namja itu yang lebih dulu menyapa. Matanya terlihat begitu teduh saat tersenyum.
                Yeonju mengangguk gugup, “Kau… Choi Minho?”
                “Ne, aku Choi Minho. Bagaimana kau bisa tahu namaku?”
                Pertanyaan sederhana itu terdengar begitu rumit untuk Yeonju jawab. Ia hanya bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa dunia ini begitu sempit sehingga ia harus bertemu dengan orang yang sama ketika pertama kali datang ke tampat ini?
                Dan sekarang, haruskah Yeonju merepotkan namja itu sekali lagi?
-To Be Continue-

                Ekekekeke, pertemuan yang tidak terduga. Untuk part2 awal ini aku mau ngebahas tentang yeonju-minho dulu yeh? Mungkin rada-rada ntar baru merembet(?) ke yang lain. :p
                Ohoho ga taunya Onew oppa cowoknya hyosun. Apakah mereka terlihat serasi karena sama2 kuliah di jurusan kedokteran? Mari kita tanya pada rumput yang bergoyang (?)
                Daannn apakah yang terjadi setelah ini? Apa yeonju bisa memenuhi hukuman yang diberikan padanya? Atau justru sebaliknya?
                Gimana juga tentang jurusan fotografi dan kedokteran yang memiliki ‘perselisihan’? kenapa perselisihan itu bisa terjadi?
                Part2 awal udah keliatan banget kan jalan ceritanya mau dibawa kemana(?). jangan lupa tunggu lanjutannyaa minggu depan J
                Be a good readers please~

               


7 comments:

  1. Kakak, ternyata yang punya pacar itu Onew oppa :'( Aku tunggu kelanjutannya :D

    ReplyDelete
  2. Nice story ,,
    Kpn2 berkunjung k'blog kku juga yaaa ,
    Bisa kali yaa kasih saran bwt cerbung kku ? Maklum ,masih pemula ...

    ReplyDelete
  3. huaa, kenapa onew oppa jadi pacarnya Hyosun? *ga rela :p*
    tapi makin kesini makin nggantung, di tunggu next partnya eon :))

    ReplyDelete
  4. makasih semuaaa
    keep reading next part ya ^^

    ReplyDelete
  5. apa jangan-jangan nanti yeonju sama minho jadi dekat ya ?
    ahh penasaran banget :)

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...