Friday, 23 September 2011

Kehidupan Orang Indonesia di Korea

Korea Selatan suatu Negara berbentuk Republik dengan ibukota Seoul. Negara ini memiliki 4 musim yaitu musim gugur, dingin, semi dan panas. Musim dingin suhunya bisa mencapai 10-15 derajat celcius. Luas wilayah mencapai 99.392 km dan hampir 70 % tanah Korea Selatan terdiri dari daerah pegunungan, kecuali tanah datar di sebelah barat, 10 %. Jumlah penduduk sebanyak + 65.000.000 jiwa. Mayoritas beragama budha, dan Korea Selatan adalah sebuah Negara industri baru di kawasan Asia dan dengan mata uang yang berlaku adalah Won. Makanan favorit penduduk Korea Selatan adalah Kim-chi (asinan sayur yang rasanya asam pedas) dan Bul-gogi (semur daging).

Masyarakat Korsel memiliki etos kerja dan disiplin yang tinggi. Orang Korsel bertemperamen tinggi, kasar sehingga untuk mendisiplinkan orang asing sering dengan bicara yang sangat keras seperti orang marah, diselingi makian. Tak jarang mereka menunjuk sesuatu menggunakan kaki dan kadang tangan memegang / mendorong kepala TKI adalah hal dianggap hal biasa. (Ups, dilarang dicontoh yah anak-anak.wkwkwkk)
Karena kebiasaan itu tak jarang sering terjadi kesalahpahaman/perselisihan bahkan kadang perkelahian antara TKI dengan warga Korsel.
------------------------------------------------------------------------------------
Penempatan tenaga kerja Indonesia (TKI)

Kondisi bangsa Indonesia sejak tahun 1995 mengalami multi krisis, hingga kini bisa dikatakan masih dalam proses pemulihan dan belum 100 persen berhasil. Terutama di bidang ekonomi, gejolak harga dan pengangguran masih menjadi persoalan mendesak yang perlu perhatian serius.

Salah satu upaya untuk memecahkan permasalahan tersebut maka pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri (TKI) yang salah satu tujuannya adalah Negara Korea Selatan sejak tahun 1995, melalui mekanisme yang disebut Industrial Training System (ITS). Perekrutan di Indonesia dilakukan oleh delapan PJTKI yang ditunjuk dan pengelolaan di Korsel dilakukan oleh Korea Federation of Small and Medium Business (KFSB).

Semua pekerja asing yang datang ke Korsel melalui cara ini mempunyai status sebagai tenaga magang (trainee), bukan pekerja. Puluhan ribu tenaga kerja magang asing berbondong-bondong datang mengadu untung di Korsel.

Namun menurut sebuah sumber di Kementerian Tenaga Kerja Korsel, saat itu jumlah pekerja asing ilegal juga membengkak sampai angka yang mengkhawatirkan yaitu 80% dari total pekerja asing. Disamping itu, banyak kritik terhadap status trainee yang disandang pekerja asing. (Huaaaa???parah.ckck Nara, Juli pulang woy. Ilegal lu.hahaha peace)

Tidak hanya karena kenyataan bahwa mereka sesungguhnya bekerja dan digaji dan bukan mendapatkan pelatihan. Status trainee menyebabkan para pekerja asing tidak mendapatkan perlindungan hukum yang diatur dalam UU Perburuhan Korsel.

Pemerintah Korsel akhirnya mengeluarkan undang-undang yang mengatur perijinan bagi pekerja asing (Act concerning the Employment Permit for Migrant Worker) pada tahun 2003. UU ini mengharuskan pengiriman tenaga kerja asing melalui kerjasama bilateral antara pemerintah Korsel dengan negara pengirim. Dengan peraturan baru ini, pekerja asing dengan tingkat ketrampilan rendah mempunyai status sebagai pekerja (employees) bukan trainees.

Tahun 2004 Indonesia dan lima negara pengirim tenaga kerja lainnya yaitu Mongolia, Filipina, Vietnam, Thailand dan Sri Lanka menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan pemerintah Korsel mengenai pengiriman tenaga kerja menggunakan mekanisme baru yaitu Employment Permit System (EPS). Tahun 2008 jumlah negara yang mengirim tenaga kerja dengan skema EPS bertambah yaitu RRC, Kamboja, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Bangladesh dan Timor Leste.

Dengan sistem baru ini pengiriman TKI menjadi lebih teratur, transparan dan murah, karena ditangani langsung oleh pemerintah kedua negara. Kecenderungan untuk menjadi pekerja ilegal diharapkan menurun. TKI yang bekerja di Korsel melalui program ITS digabungkan dengan program EPS melalui prosedur tertentu. Sejak tahun 2004, pengiriman TKI ke Korsel sudah melalui program EPS.

Dan kini tenaga kerja asing di Korsel , China menempati urutan pertama, disusul Pakistan, Bangladesh dan Indonesia.

Dan menurut catatan KBRI Seoul, Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Korea Selatan jumlahnya mencapai 27 ribu dengan 95% adalah TKI yang mengadu nasibnya. Yang tersebar disejumlah kota seperti di Ansan,Suwon,Taejon,Taegu dan Busan. Dan sebagian besar bekerja di perusahaan dengan skala usaha kecil dan menengah, mayoritas di sektor manufaktur,pertanian,pertenakan dan perikanan.
------------------------------------------------------------------------------------
Cara TKI di Korea Bentengi Diri yaitu dengan Bentuk Kelompok Pengajian,Ciptakan Suasana Agamis ala Kampung Halaman.

Korea Selatan merupakan salah satu negara di Asia yang menganut sistem kebebasan. Tidak ada satu norma agama yang menjadi standar dalam kehidupan, mereka bebas melakukan apa saja selama tidak merugikan orang lain. Kebebasan ini tercermin dalam bentuk kebijakan negara sehingga pemerintah memberikan kebebasan penuh kepada rakyatnya untuk memeluk agama atau bahkan tidak sama sekali. Kondisi ini otomatis berimbas pada tingkah laku keseharian, dimana masyarakat Korea Selatan lebih mengedepankan kesenangan yang bersifat lahiriah dan materialis daripada nilai hukum religius.“Pokoknya kalau kita tidak kuat iman, banyak godaan di Korea, Mbak,” ujar Ketua Pumita, Lilik Abdul Muhit kepada Memo, Minggu lalu.

Masih menurut Lilik, kemajuan pembangunan Korea Selatan tiap waktu, sungguh membuat iri dan itu patut untuk ditiru. Orang Korea memang suka kerja keras. Sayangnya itu, tidak diimbangi dengan kemajuan dalam hal kebudayaan dan nilai-nilai hidup yang lebih baik. Pada kenyataannya nilai-nilai ini cenderung lebih condong untuk meniru (terpolarisasi) ke kebudayaan Barat yang liberal daripada mempertahankan identitas budaya Timurnya. Dalam banyak hal, mereka hampir sama persis dengan orang Barat, mulai dari budaya bergaul dengan lawan jenis, free sexs, sampai dengan bersenang-senang dan lupa waktu.

Kondisi yang jauh dari nilai-nilai agama ini (terutama agama Islam) ternyata sangat mempengaruhi perilaku para pekerja Indonesia yang kebanyakan beragama Islam. Ada sebagian dari mereka- jadi tidak seluruhnya- larut dalam gaya kehidupan masyarakat Korea. Salah satu contoh sederhana adalah kebiasaan minum minuman keras, mode pakaian yang menonjolkan aurat, memakai anting bagi pria sudah melanda masyarakat Indonesia di Korea. Kondisi ini apabila dibiarkan akan menjadi kebiasaan bahkan sampai kembali ke Indonesia nanti.

“Tapi kami bersyukur, tidak sedikit teman-teman di sini menyadari keadaan yang ada, sehingga tidak sampai larut, ikut-ikutan kehidupan orang orang Korea,” tambah Lilik dibenarkan teman-teman lainnya.

Keadaan ini tentu memprihatinkan karena mereka melakukannya dengan sadar atau tidak, telah merusak akhlak dan mental serta jasmani seorang warga Indonesia yang notabene muslim.

(Amien, ya robbal alamin. Dengerin woy, ni mbak liliklagi ceramah nih.wkwkwk)

Kebiasaan hidup masyarakat Korea ini ternyata membuat trauma masyarakat Indonesia, terutama para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mempunyai komitmen agama yang kuat. Mereka berusaha untuk tidak larut dalam kehidupan bebas di Korea. Para TKI ini lantas membentuk kelompok kecil untuk mengukuhkan pendirian dan keimanan mereka.

Hal ini dilakukan sebagai bentuk pembinaan warga negara Indonesia/TKI yang hidup di perantauan. Beberapa daerah di kantong-kantong TKI, semisal Seoul, Busan, Daegu, Kwangju dan lain-lain berusaha membentuk organisasi dan melakukan kegiatan yang bertujuan untuk membentengi diri dari pengaruh budaya buruk tersebut. Beberapa organisasi tersebut diantaranya:

-Indonesian Muslim Society in Korea (IMUSKA)
-Al Amin, Daegu
-Kyungnam Muslim Community (KMC), Chang Won
-Ikatan Muslim Indonesia Daejeon (IMNIDA)
-Jama’ah Shirothol Mustaqim, Ansan
-Ikatan Keluarga Muslim Indonesia (IKMI), Seoul
-Persaudaraan Muslim Indonesia (PMI)
-Ikatan Keluarga Muslim Indonesia Korea (IKMIK)
-Paguyuban Tombo Ati
-Jama’ah Yasin, Jincheon

(bagoooossss hore hore)
------------------------------------------------------------------------------------
Ada persatuan namanya PUMITA di Busan.

PUMITA singkatan dari Persaudaraan Umat Muslim Indonesia Al Fatah dan sebagai salah satu organisasi warga negara Indonesia di Korea Selatan yang bernafaskan Islam yang berdomisili di Busan. Menurut Lilik, PUMITA berdiri pada tanggal 19 Agustus 2001. Hal yang mendasari berdirinya PUMITA ini adalah kerinduan akan nuansa islam selama tinggal dan hidup dinegeri orang. Tidak ada jumlah pasti anggota PUMITA karena anggota PUMITA adalah muslim Indonesia yang berada di ruang lingkup Mesjid Al-Fatah, Busan. Untuk pengurus PUMITA sendiri sekitar 50 orang yang membawahi berbagai bidang antara lain : Bidang Da’wah,Pendidikan dan Seni Budaya ,Litbag, Humas, Jasmani dan Kepemudaan,Media dan Informasi, Zakat/Infaq, Logistik dan Keputrian.

Kegiatan yang rutin diadakan oleh PUMITA antara lain Yasinan,pengajian,pembahasan fiqih dan olahraga bersama bahkan disetiap akhir minggu setelah sholat fardu diadakan kultum. Dan selama menjelang ramadhan PUMITA mengadakan pesantren kilat yang meliputi lomba qiro’atil qur’an, lomba adzan, lomba baca puisi, lomba pidato dan tadarus al qur’an.

Sebagai bukti kepedulian Organisasi PUMITA terhadap sesama PUMITA bekerja sama dengan PUMITA cabang Indonesia melakukan berbagai macam kegiatan, penggalangan dana untuk aksi social Gempa Jogja 2006, penyaluran zakat untuk wilayah jawa-sumatra, sunatan massal 2009 jogjakarta, bantuan gempa situ gintung serta bantuan untuk panti asuhan yatim piatu dan pembangunan masjid di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, dinamika perjalanan Pumita semakin semarak. Ini karena hadirnya dan bergabungnya para mahasiswa dari Indonesia. Keterlibatan para mahasiswa indonesia di Busan dan sekitarnya secara langsung membawa perubahan baik dari sisi semangat maupun isi dari organisasi Pumita. Materi-materi keorganisasian dan kewirausahaan mulai diperkenalkan dalam berbagai acara antara lain Pelatihan Teknologi Tepat Guna (PTTG) di bawah koordinasi devisi Litbang-Pumita. Materi ini mendapat sambutan positif dan hangat dari kalangan anggota Pumita, diharapakan pemberian materi kewirausahaan akan memunculkan ide dan semangat para TKI untuk mau memulai usaha mandiri setelah tibanya di kampung halaman.

*Terpublikasi di Tabloid Memorandum
Kompasiana. Mbak Uly, Mimin, Sasa Lumenta.
Shared by : Yunii*

source: anything with korea

1 comment:

  1. Musim dingin di Korea suhunya bisa sampai minus 20-an derajat loh Sist. 10-15 derajat itu udah anget banget itungannya :)

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...